Cinderela Modern

Cinderela Modern
DUFAN


__ADS_3

"Mau kemana kita." seru Icha menirukan Dora dalam serial kartun Dora the Explorer begitu sudah duduk dimotor Laskar.


Yang dijawab gak kalah konyolnya oleh Laskar, "Kita tanya peta."


Dua anak remaja itu tertawa dengan kekonyolannya.


"Lo potong rambut terus bikin poni persis deh tuh lo mirip sama sik Dora."


"Mirip dari hongkong, bentuk wajah aja beda, kalau mirip Lisa mirip blackpink sieh iya."


"Mimpi lo ketinggian, lisa super cantik begitu, sedangkan lo...."


"Apa." Icha meradang, "Lo bilang gue jelek begitu."


"Ya gak jelek sieh, tapi standar."


Icha menabok punggung Laskar, "Lo tuh yang mirip sama sik sniper."


"Anjirr lo, masak lo nyamain gue sama rubah licik itu, sama aja gue saudara tiri lo itu donk."


"Udah ah jalan yuk, kenapa kita jadi saling ledek begini."


"Emang lo sudah nentuin mau kemana."


Dibelakang Icha tampak berfikir, "Hmmm, kedupan kayaknya seru deh."


"Dufan." ulang Laskar.


"Dunia Fantasi."


"Iya gue tahu, maksud gue, dari sekian banyak tempat seru di Jakarta, kenapa lo milih Dufan."


"Ingin aja, soalnya terakhir gue kesana ketika gue masih kelas enam SD, gue kangen banget sama wahana-wahana permainan di Dufan."


"Oke kalau gitu, siap meluncur nona."


Laskar melajukan motornya menembus padatnya jalanan ibu kota bergabung dengan motor-motor lainnya menyumbang polusi bagi udara kota Jakarta.

__ADS_1


Mereka tiba di Dufan, namun sebelum masuk mereka mengganti seragam mereka dengan pakaian yang mereka beli ditoko dalam perjalanan menuju Dufan, kini mereka mengenakan baju kembar, yaitu kaos berwarna putih dengan tulisan "I LOVE U JAKARTA."


Seperti biasa, Dufan pengunjungnya rame meskipun siang-siang begini.


"Eh foto dulu ya." Icha menarik Laskar menuju badut Dufan yang berdiri dipintu masuk untuk bersua foto.


Setelah mengambil gambar dengan latar belakang yang berbeda dengan ponselnya, Icha mulai memikirkan wahana mana yang akan pertama kali dijajalnya.


"Laskar, naik bilang lala yuk." tunjuknya pada biang lala, bianglala merupakan wahana pertama yang dipilih untuk dinaiki.


Sebenarnya Laskar gak terlalu suka ke Dufan, kalau cuma datang doank sieh gak apa-apa, naik wahana di Dufan itu yang tidak disukai, karna bisa bikin dia mual, karna perutnya terasa diaduk, apalagi naik wahana bianglala, itu merupakan wahana yang paling tidak disukainya, hal ini dikarenakan dia phobia ketinggian, bukan tanpa alasan dia phobia sama ketinggian, begini ceritanya, waktu dia kecil, kira-kira berumur lima tahun, dia dan mamanya pernah kepasar malam, dan dia ingin naik bianglala, ketika sudah naik, tiba-tiba mamanya mendapat telpon dari papanya, karna sibuk nelpon, mamanya gak sadar kalau biang itu sudah bergerak, dan Laskar kecil berada disendirian disana, mungkin Laskar tidak akan trauma kalau bianglala itu berputar lancar, tapi ketika dirinya sudah berada diatas sendirian, bianglala tersebut tiba-tiba macet, dan bisa kalian bayangkan bagaimana sik Laskar kecil ketakutan, menjerit dan menangis memanggil mamanya, kejadian itu meninggalkan trauma mendalam sampai saat ini bagi Laskar. Namun karna dia sudah berjanji sama Icha akan mengiyakan apapun keinginan Icha, dengan menekan rasa takutnya dia mengiyakan ajakan Icha. Sekali lagi sebelum menaiki wahana tersebut Icha kembali mengajak Laskar berselvi ria didepan wahana.


Mereka naik, dan bianglalanya mulai berputar, pelan tapi pasti bianglala itu berputar seperti roda, sehingga mereka yang tadinya berada dibawah kini secara perlahan berada diatas.


Ketika berada diatas ketinggian Icha berdiri tanpa rasa takut, dengan antusias melambai lambaikan tangannya sambil berteriak, "Yuhuuu, gue terbang." teriaknya sambil merentangkan tangannya sembari tertawa.


Berbanding terbalik dengan keadaan Laskar yang saat ini pucat pias, tadinya sieh dia gak apa-apa, tapi begitu sudah berada diketinggian mendadak rasa takut itu muncul kembali, tubuhnya bergetar, tangannya berpegang erat takut-takut kalau dia jatuh,


Icha menoleh pada Laskar dengan niatan mengajaknya untuk menikmati ini semua, namun dia langsung mengernyit melihat Laskar yang gemetar ketakutan.


"Laskar." Icha duduk disamping Laskar, "Lo..."


Namun bukan ledekan atau hinanaan yang dilontarkan Icha, yang Icha lakukan adalah memeluk Laskar dengan harapan mengurangi ketakutan Laskar. Icha tahu semua orang punya hal yang ditakutkannya, seperti dia yang takut gelap dan takut hantu. Memang kalau dilihat, Laskar merupakan cowok keren dan kuat, seperti tidak memiliki ketakutan terhadap apapun, siapa sangka cowok keren dan banyak diidolakan wanita disekolah tersebut takut pada ketinggian. Icha berusaha menenangkan, "Tenang ya, jangan takut, gue ada disini." mengelus punggung Laskar.


Dan sedikit tidaknya perlakuan Icha itu membuatnya agak tenang, tubuhnya tidak gemetar lagi.


"Sorry ya, gue maksa lo naik tadi, harusnya lo bilang lo fobiia ketinggian." lisan Icha begitu mereka sudah turun.


Laskar tersenyum tipis, "Gak apa-apa kok Cha, lagiankan gue udah berjanji seharian ini akan bilang iya apapun yang lo inginkan."


"Ya tapi gak dengan mengorbankan lo juga kali, tapi sekarang lo gak apa-apakan." tanya Icha.


"Gue udah gak kenapa-napa kok, makasih ya."


Icha membuka resleting tasnya dan mengeluarkan botol air meneral yang dibelinya barusan lalu menyodorkannya pada Laskar, "Minum dulu gieh agar perasan lo lebih baik."


"Makasih Cha." ujar Laskar mengambil alih botol air tersebut dari tangan Icha.

__ADS_1


Untuk memulihkan kondisi Laskar, mereka istirahat sejenak, dan mereka kembali mengelilingi Dufan ketika Laskar bilang kalau dia sudah membaik.


"Eh, ya ampun kora-kora." tunjuk Icha pada wahana kora-kora, "Tapi, kalau lo gak...."


"Selain tidak berhubungan dengan ketinggian, gue gak masalah dengan yang lainnya." lisannya, "Tapi tuh wahana bisa berpotensi bikin gue mual-mual." tambahnya dalam hati.


Senyum Icha kembali merekah, "Jadi..."


"Jadi, ayok kita naik kora-kora." ujarnya.


Icha tersenyum antusias.


"Oke perut, untuk saat ini bekerjasamalah, karna yang gue inginkan saat ini adalah tidak ingin mengecewakan Icha." lirihnya dalam hati.


Mereka duduk bersama dengan puluhan orang lainnya, menunggu wahana itu untuk diayunkan, Laskar menyodorkan telapak tangannya untuk digenggam Icha, dan tanpa ragu Icha menggenggamnya.


"Siap."


"Siap."


Dan wahana tersebut diayunkan, hampir semua berteriak, entah apa makna dari teriakan-teriakan itu, mungkin takut, atau mungkin antusias, atau mungkin supaya bertambah seru saja, entahlah, hanya mereka dan Tuhan yang tahu, dalam hal ini, termasuk Icha dan Laskar yang ikut meramaikan keseruan diwahana tersebut dengan ikut berteriak.


"Akhhhh."


"Akhhhh."


"Akhhhhh."


Teriakan sahut menyahut.


Begitu wahana itu berhenti, Laskar langsung berlari turun, dia mencari tempat yang aman untuk memuntahkan isi perutnya yang terasa di aduk-aduk.


Dibelakang Icha tertawa-tawa melihat penderitaan Laskar, "Malu-maluin aja lo, gitu aja muntah." ledeknya.


Laskar memegang perutnya, dengan tersenggal-senggal berkata, "Sialan lo, tertawa diatas penderitaan gue."


"Lucu banget sumpah."

__ADS_1


****


__ADS_2