
"Sayanggg." Lea langsung mendekati Aslan begitu melihat Aslan sudah bangun.
"Sayang." Icha mengulangi kalimat yang dilontarka Lea, "Lo manggil Aslan dengan panggilan sayang." tanyaya.
"Iyalah, kamikan sekarang pacaran, jadi wajar donk gue manggil Aslan sayang, yakan sayang." Lea memandang Aslan dengan penuh cinta.
"Hmmm." tanggapan Aslan.
"Kok gue yang geli dengernya ya."
Lea mendengus, "Itu namanya romantis Cha, hal romantiskan dimulai dari panggilan dulu, baru perbuatan, hal romantis bisa membuat suatu hubungan awet."
"Kalau kamu mau." Laskar menimpali, "Kita juga bisa kayak mereka kok Cha."
"Manggilnya sayang gitu."
"Ya itu kalau kamu mau."
"Gak deh Las, geli aku dengernya."
"Lo mah gak punya sisi romantis." tukas Lea.
"Biarin aja, yang pentingkan Laskar cinta sama gue, yakan Las."
"Iya." jawab Laskar sabar, "Aku mencintai kamu apa adanya."
Kalimat Laskar membuat pipi Icha bersemu merah.
Lea kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada sang kekasih, dan layaknya seorang kekasih yang perhatian, Lea bertanya, "Kamu butuh apa sayang, kamu mau makan." Lea menawarkan.
"Gue masih kenyang Le."
"Atau mau buah biar aku kupasin."
Aslan menggeleng, yang menandakan saat ini dia tidak menginginkan apa-apa.
Lea kemudian bergayut manja dilengan Aslan, dengan suara manja dia berkata, "Kalau kamu butuh apa-apa bilang ke aku ya, aku akan jadi pacar siaga buat kamu."
"Le, Aslan masih sakit tuh." tegur Icha seolah gak rela melihat Lea bermanja-manja pada Aslan yang masih dalam keadaan sakit, "Kok lo malah gelayutan kayak monyet gitu sieh, meskipun berat badan lo ideal, tetap saja Aslan tidak bisa menahan berat badan lo saat ini." Icha memperingatkan, entah mana yang lebih mendominasi, apa karna Icha benar-benar khawatir dengan keadaan Aslan atau dia tidak suka dengan apa yang dilakukan Lea.
"Duhhh, aku lupa, maaf sayang." mengelus lengan Aslan, "Sakit ya."
"Gak kok."
"Maaf ya."
"Santai aja Le."
Lea kemudian duduk dikursi disamping tempat tidur Aslan, memegang tangan Aslan dan menautkan jarinya dengan jari jemari Aslan, "Tahu gak, karna kamu gak masuk, aku rasanya gak semangat belajar." ujarnya.
"Gak boleh gitu Le, ada tanpa adanya gue, lo harus tetap semangat belajar, demi masa depan." Aslan menasehati.
"Makanya, kamu cepatan sembuh, agar akunya semangat, dan biar ada yang ngajarin aku matimatika, kamukan jagonya."
"Kan ada pak Taopik yang ngajarin."
__ADS_1
"Iya, tapi pak Top penjelasannya susah dimengerti, aku maunya diajarin kamu yang penjelasan gampang dipahami." rengek Lea manja.
Icha gak lepas memandang intraksi dua sahabatnya tersebut, rasa asing itu kembali menghampiri, rasa tidak suka dengan kemesraan Lea dan Aslan, dalam hati Icha bergumam, "Lea kok ganjen sieh."
"Kita kok kayak nyamuk ya disini." cloteh Laskar bercanda melihat kemesraan sepasang kekasih yang baru jadian tersebut, "Apa kita pergi aja ya Cha."
Aslan terkekeh menanggapi candaan Laskar, "Santai aja Las."
"Cha." tegur Laskar karna merasa diabaikan oleh Icha.
Namun Icha gak bergeming, dia masih intens menatap ke arah Aslan dan Lea, Laskar mengikuti arah pandang Icha, dia tersenyum, tangannya mengelus rambut Icha, "Cha."
"Ehhh." Icha agak kaget.
"Kamu kenapa."
"Gak kenapa-napa kok bohongnya."
****
Dan besok sorenya, karna dirasa kondisi Aslan sudah membaik, Aslan sudah diizinkan pulang oleh Mario kakaknya yang menanganinya selama dirumah sakit.
Seperti hari kemarin, Icha begitu pulang sekolah langsung ke rumah sakit, karna Laskar ada keperluan, jadinya Icha hanya diantar sampai depan rumah sakit.
Dan Icha begitu sangat antusias ketika Aslan memberitahunya kalau dia sudah bisa pulang.
"Beneran lo udah boleh pulang." tanyaya tidak percaya ketika Aslan memberitahunya ketika dia tiba.
"Iya Cha." jawab Aslan menarik tubuhnya berusaha untuk duduk.
Icha langusng memeluk Aslan begitu Aslan duduk dengan sempurna, "Gue seneng banget dengernya, gue kangen berangkat dan pulang bareng lo, dan yang paling penting, gue kangen ditraktir sama elo."
"Ekhhemmm."
Icha langsung melepas rangkulannya begitu melihat Mario dan mama Dina memasuki ruangan Aslan.
"Kita masuk disaat yang gak tepat ma." goda Mario melihat adegan antara Icha dan adiknya.
"Apaan sieh lo." tandas Aslan menanggapi ucapan sang kakak.
Mama Dina hanya tersenyum tanpa berniat untuk menggoda putranya dan Icha.
"Kamu langsung kesini lagi sayang." tanya mama Dina melihat Icha yang masih mengenakan seragam abu-abunya.
"Iya ma."
"Kamu pasti belum makankan." simpul mama Dina.
"Belum."
Mama Dina mendesah, "Mama tahu kamu sangat khawatir dengan keadaan Aslan sayang, tapi kesehatan kamu juga penting, jadi lain kali jangan terlambat makan hanya gara-gara Aslan."
"Iya ma."
Mario menggeleng, "Anak muda zaman sekarang, lebih mengkhawatirkan pujaan hati ketimbang diri sendiri."
__ADS_1
Baik Icha dan Aslan tidak menanggapi ucapan Mario.
"Rio."
"Iya ma."
"Kamu ajak Icha makan sana, mama gak mau anak perempuan mama juga sakit."
"Baik ma." patuh Mario, "Ayok Cha kita cari makan, agar kamu punya tenaga buat ngurus calon suami kamu itu."
"Apaan sieh kak Mario, dari tadi ngegoda Icha terus." tukas Icha malu.
Karna Icha masih berdiri ditempatnya, Mario mendekat dan merangkul bahu Icha, "Ayokkk, kenapa malah bengong." sembari berjalan menuju kafetaria rumah sakit.
****
Ketika Icha kembali keruangan Aslan setelah mengisi perutnya, Aslan terlihat baru saja melakukan panggilan.
Icha bertanya, "Siapa yang nelpon Lan."
"Lea."
"Ohh, dia bilang apa, dia jadi ikut nganterin lo pulang."
Aslan terlihat menghela nafas, "Dia bilang gak bisa nganterin gue balik, ada pertemuan keluarga katanya."
"Bagus itu." respon Icha reflek menyuarakan isi hatinya, entahlah, tapi saat ini Icha ingin menikmati berdua dengan Aslan.
Aslan mengerutkan keningnya gak mengerti, pasalnya Icha terlihat senang gitu mendengar kalau Lea tidak bisa ikut mengantarnya pulang.
Sadar kalau dirinya reflek menyuarakan isi hatinya, Icha buru-buru meralat maksudnya, "Maksud gue, Lea mungkin tidak bisa meninggalkan acara keluarganya itu saking pentingnya, makanya dia gak bisa ikut nganterin lo balik."
"Mungkin."
"Lo gak perlu sedih gitu donk, kan ada gue."
"Hmmm."
Icha mulai membereskan barang-barang Aslan, "Lan, kok sejak lo dirawat, gue gak pernah lihat kak Gibran." tanya Icha heran, karna sejak Aslan dirawat, putra kedua keluarga Atmaja tersebut sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Icha, Aslan malah balik nanya, "Menurut lo, kenapa sik kunyuk itu gak terlihat."
"Karna..." Icha berfikir, tadinya Icha akan menjawab mungkin dia sibuk belajar karna saat-saat ini anak kuliahan musimnya ujian, tapi kemudian dia baru ingat akan hal penting, "Astagaaa." Icha baru ingat kalau Gibran suka sama Lea, dan Gibran berjanji bakalan dapatin Lea, dan kini keinginannya itu harus terkubur mengingat Aslan yang malah mendapatkan Lea tanpa berusaha sedikitpun.
"Jangan bilang kak Gibran..." Icha menggantung kata-katanya.
Seolah tahu apa yang akan dikatakan Icha selanjutnya, Aslan berkata, "Iya, dia gak terima gue pacaran sama Lea." Aslan memberitahu.
"Gue gak tahu bagaimana persisnya, tapi begitu gue sadar, dia ingin nonjok gue, tapi karna gue tengah terbaring sakit, keinginannya itu ditahan."
"Ya Tuhann." Icha membekap bibirnya, "Terus gimana."
Aslan mengangkat bahu tanpa merasa bersalah sedikitpun, memang Aslan gak salah sieh kalau dilihat, Gibran menyukai Lea, tapi Lea tidak menyukai Gibran, dan Lea menyukai Aslan, dan menurut Aslan gak ada yang salah dengan dirinya menerima cinta Lea, seenggaknya itu yang ada difikiran Aslan.
"Kasihan banget kak Gibran." gumam Icha prihatin.
__ADS_1
"Sudahlah gak usah lo fikirin, cowok model dia besok juga dapat gandengan baru."
****