Cinderela Modern

Cinderela Modern
KERUMAH LASKAR


__ADS_3

"Heh lo." panggil Laskar pada salah satu pelayan dirumahnya, "Siapa sieh nama lo." karna rumahnya besar, orang tuanya memperkerjakan beberapa pelayan, jadi hal yang wajar jika Laskar tidak tahu nama pelayan wanita yang dipanggilnya. Dan masing-masing pelayan dirumah Laskar mengenakan seragam khusus.


"Tuan manggil saya." jawab sik pelayan wanita yang kira-kira berusia tiga puluhan.


"Iya elo, kemari."


Sik pelayan itu mendekati majikan mudanya.


"Nama saya Sri tuan, masak tuan lupa."


"Oh iyaa, gue lupa."


"apa tuan butuh sesuatu."


"Lo bisa make up gak."


"Make up tuan." ulang sik pelayan.


"Iya make up, itu yang sering dipakai wanita supaya terlihat cantik." Laskar menjelaskan, difikir pelayannya gak tahu yang namanya make up.


"Iya tuan muda saya tahu, maksud saya kenapa tuan tiba-tiba nanya apa saya bisa make up apa gak."


"Lo jawab aja pertanyaan gue, lo bisa make up apa gak." Laskar mengulangi.


"Bisa sieh tuan dikit-dikit, gak mahir seperti make up artis." jawab mbak Sri bingung karna pertanyaan tuan mudanya tersebut.


"Lo bisa gak mengaplikasikan tehnik make up kayak orang habis babak belur gitu diwajah gue."


"Gak bisa tuan, emang kenapa."


Tanpa menjawab pertanyaan mbak Sri Laskar berkata, "Panggil semua pelayan dirumah gue cepat."


"Buat apa tuan."


"Lo dibayar buat matuhin perintah gue, bukan untuk banyak nanya kayak gini." tandas Laskar jengkel.


"Maaf tuan, saya akan panggil mereka segera."


Dalam waktu sepuluh menit, ada lebih tujuh orang yang kini berdiri menghadap Laskar, bersiap menerima perintah apa yang akan diberikan oleh tuan muda mereka, dan para pelayan itu agak heran juga, karna tuan mudanya yang terkenal cuek dan gak pernah nyapa kalau gak ada perlu itu tiba-tiba ngumpulin mereka.


"Maaf tuan muda, ada gerangan apa sampai tuan muda mengumpulkan kami." tanya salah satu pelayan yang agak berumur, kalau dilihat sieh sepertinya dia adalah kepala pelayan dirumah Laskar.


"Siapa diantara lo semua yang bisa mengaplikasikan tehnik make up kayak orang babak belur." Laskar mengulangi pertanyaan yang ditanyakan pada pelayan pertama yang dia temui.


Sebelum menjawab, para pelayan tersebut saling melemparkan pandangan satu sama lain, sampai ada salah satu dari mereka mengangkat tangan.

__ADS_1


"Saya tuan, gak seprofesional make up artis sieh, tapi saya bisa."


"Bagus, sekarang dandanin gue, buat seolah-olah wajah gue babak belur seperti habis dihajar." dia memang habis dihajar, tapi lukanya gak parah-parah amet.


Ketika para pelayan itu belum beraksi karna masih mencerna keinginan sang tuan, Laskar membentak, "Apa yang lo tunggu, cepat laksanakan perintah gue."


"Baiklah tuan, tapi saya harus ngambil peralatan make up saya dulu." sik pelayan tadi buru-buru mengambil peralatan make up nya untuk memenuhi keinginan aneh sang majikan mudanya.


Terdengar suara bisik-bisik antar pelayan, "Tuan muda kenapa ya, kok tiba-tiba punya keinginan untuk didandani."


"Tanya saja sama tuan kalau berani."


"Dan lo semua." Laskar beralih memberikan intruksi pada pelayan lainnya yang masih setia berdiri untuk menunggu perintah berikutnya.


"Bakalan ada cewek manis berambut keriting yang bakalan datang ke rumah gue, jadi tugas lo adalah buat cerita sesedih mungkin, ceritakan sama dia kalau gue babak belur sampai gak bisa bangun dari tempat tidur, bila perlu sambil menceritakan tentang kondisi gue barengi dengan tangisan supaya lebih menghayati."


Jelas para pelayan tersebut dibuat tambah kebingungan dengan keinginan aneh sang majikan muda.


"Maaf tuan, apa gadis yang akan datang ini adalah gadis yang tuan sukai."


"Bukan urusan lo, lakukan saja apa yang gue perintahkan."


"Baik tuan." ujar mereka ditengah rasa keingintahuan mereka.


"Dan satu lagi, jamu dia layaknya ratu."


"Itu saja dulu."


Dan sik pelayan yang akan merias Laskar kembali dengan membawa peralatan make up, siap untuk melaksanakan tugasnya, "Kalian boleh pergi sekarang." suruh Laskar pada yang lainnya.


Para pelayan itu membubarkan diri, hanya tinggal pelayan yang akan merias Laskar yang tetap tinggal.


"Apa yang lo tunggu, cepetan lakukan tugas lo."


"Iya tuan."


"Aku jadi penasaran ingin lihat gadis yang ditunggu oleh tuan."


Dibelakang pada rame membicarakan gadis yang disebut-sebut oleh tuan muda mereka dan tentunya mereka penasaran.


"Iya aku juga gak kalah penasaran dengan kamu, tuan muda pasti menyukai gadis itu sampai rela akting segala kayak orang yang baru dihajar habis-habisan, memang sieh tuan habis dikeroyok, tapikan lukanya gak parah-parah banget."


"Pasti orangnya cantik banget sampai tuan meminta kita memperlakukannnya seperti ratu."


"Sepertinya begitu."

__ADS_1


****


Mobil Lea sudah memasuki komplek perumahan elit dimana seharusnya rumah Laskar berada.


"Inikan komplek perumahan elit Cha, biasanya yang tinggal dikomplek ini adalah orang-orang super kaya, berarti Laskar kaya banget donk." komen Lea memperhatikan bangunan rumah-rumah mewah dari jendela mobil yang dibiarkan terbuka.


Icha menjulurkan kepalanya melewati jendela untuk melihat rumah-rumah mewah yang berjejer dan membalas ucapan Lea, "Gue emang tahu Laskar anak orang kaya, gue hanya gak menyangka dia sekaya ini, lebih kaya dari papa lo Le." ujar Icha, "Pantasan saja dia selalu memamerkan kekayaannya, ternyata dia kaya raya toh."


"Nona nona, kita sudah sampai nieh dialamat yang nona tuju." tegur Ucup, karna baik Lea dan Icha tidak menyadari hal tersebut saking fokusnya menyaksikan deretan rumah-rumah mewah tersebut.


"Ternyata ya, orang kaya kayak nona nona juga bisa katrok gini lihat rumah besar dan mewah, udah ngalah-ngalahin orang dikampung saya saja, saya saja gak senorak neng berdua."


Icha langsung menendang belakang kursi pengemudi yang diduduki Ucup, "Belajar tutup mulut lo mulai dari sekarang, kalau gak gue sunat lo untuk kedua kalinya."


Lea terkikik mendengar ancaman Icha, sedangkan Ucup otomatis melindungi burungnya dengan tangan, "Neng Icha kalau ngomong suka gak pakai filter, Ucup jadi ngilu membayangkan silet dan gunting." ujar Ucup merana.


"Makanya, tutup mulut." balas Icha.


Icha membuka pintu mobil dan ikuti oleh Lea, mereka memandang rumah besar dan mewah yang menjulang tinggi didepan mata mereka.


"Fix sieh ini Le, Laskar lebih kaya dari keluarga lo." gumam Icha memandang rumah Laskar dengan takjub.


"Sepertinya sieh begitu Cha."


"Non, jangan norak, bikin malu aja." peringat Ucup.


"Uhhh." Icha mendengus, "Gue heran Le, kok lo bisa tahan dengan sopir lo yang banyak omong itu."


"Ucup orangnya baik, mama dan papa menyukai cara kerjanya." bela Lea.


"Cha, apa kita hanya berdiri disini saja atau mau masuk."


"Tentu saja kita masuk."


Icha memfungsikan tangannya untuk menekan bel disamping tembok, dari dalam terlihat seorang satpam berjalan mendekati gerbang, karna sudah diperingatkan sebelumnya, sik satpam berkata, "Nona manis dan cantik ini pasti non Icha."


"Cantik dan manis, yang benar saja." gumam Icha membatin, siapa sieh yang tidak ingin dikatakan cantik, tapi buat Icha yang punya kaca dan sering ngaca menganggap sapaan satpam itu berlebihan, karna dia sangat tahu kalau dia tidak bisa dibilang cantik dan manis.


Lea terbatuk-batuk untuk menyamarkan tawanya sebelum berkata, "Bener pak, yang manis dan cantik ini adalah nona Icha."


Icha langsung memberi plototan pada Lea, kalau diartikan artinya begini, "Jangan ngeledek deh lo."


"Mari masuk nona." sik satpam mempersilahkan.


"Cup, tungguin disini ya." pesan Lea sebelum mengikuti Icha masuk.

__ADS_1


"Baik neng."


****


__ADS_2