Cinderela Modern

Cinderela Modern
OBROLAN DI MOBIL


__ADS_3

Selamat tidur sayang


Mimpi indah ya


Oh ya, jangan lupa mimpiin aku ya


Gak sabar nunggu besok, kangen ingin segera ketemu.


Miss u


Love u


Jangan pacaran ditempat gelap, bahaya.


Rentetan bunyi chat masuk menyambut Icha saat dia keluar dari kamar mandi.


"Ini pasti Laskar." duga Icha meraih ponselnya yang diletakkan sembarang ditempat tidurnya.


Dan memang benar, 99 % pesan itu berasal dari Laskar, dan 1% berasal dari Aslan.


"Apaan sieh Laskar, alay banget deh." sambil senyum-senyum tanpa niat untuk membalas pesan dari Laskar.


Icha kemudian beralih membuka chat masuk dari Aslan, dan itu berhasil membuatnya merengut.


Siapa yang pacaran ditempat gelap sieh.


*Ya elo lah, pakai nanya lagi*.


Gak kok


Gue lihat dengan mata kepala gue kalau lo berdua-duaan dengan pacar lo itu diteras rumah, cinta sieh cinta, tapi jangan sampai ngelanggar norma agama. Jelas Aslan, mungkin tadi dia melihat Icha dan Laskar dari jendela kamarnya.


"Apa-apaan sieh Aslan, guekan gak ngapa-ngapain sama Aslan."


Laskar cuma nganterin makanan doank sebentar, gak lebih gak kurang, kami gak ngapa-ngapain kok. Icha menjelaskan.


Ya baguslah kalau gitu, gue peringatkan sama lo, kalau pacaran yang sehat, jangan sampai kebablasan, ntar berbuah sebelum waktunya lagi.


"Menyebalkan banget sieh Aslan, difikirnya gue cewek apaan." saking dongkolnya Icha malas untuk membalas.


****


Pagi sayang


Udah bangun belum


Gak sabar ingin ketemu kamu


Oh ya satu lagi


Jangan lupa ya, bawain bekal buat aku


Begitu ya kalau orang lagi kasmaran, kalau ngechat setiap saat setiap waktu.


Suara berisik itulah yang membangunkan Icha dari tidur lelapnya, biasanya dia akan marah kalau tidurnya terganggu, tapi kali ini lain, di malah senyum, yah itulah yang dinamakan keajaiban cinta, bisa merubah orang pemarah seperti Icha menjadi murah senyum.


Ping


Karna gak ada balasan, Laskar kembali mengirim pesan.


Kamu udah bangun belum


Sepertinya belum mengingat chat aku tidak mendapat balasan.


Iya, ini gue udah bangun bawel


Calon istri yang baik, sana sholat dulu, setelah itu siapin bekal buat calon suaminya.

__ADS_1


Geli tahu gak.


Tapi suka kan


Gak lah


😭


"Ihhh, sik Laskar kok alay banget sieh." meskipun bilang begitu tapi bibirnya berkhianat dengan menyunggingkan senyum.


Ntar aku jemput ya


Gue berangkat sama Aslan aja


Ya udah deh, tapi awas ya jangan macam-macam sama Aslan


Ngaco lo, mana mungkin gue sama Laskar macam-macam


Hehehe, bercanda sayang


Jangan marah donk


I miss u


I LOVE YOU


"Dasar sinting."


***


Icha berdiri didepan menunggu Aslan, dia berharap sieh meskipun Aslan acuh tak acuh sama dia dari kemarin, tapi Icha berharap hari ini moodnya Aslan sudah membaik sehingga sikapnya kembali seperti sedia kala.


Dan benar saja, Aslan menghentikan mobilnya didepan Icha, tapi bukan berarti moodnya sudah membaik.


"Pagi Lan." sapa Icha ceria ketika membuka pintu mobil.


Icha membatin, "Dugaan gue salah ternyata, nieh anak masih marah." Icha memandang wajah dingin Aslan, "Tapi apa sieh salah gue."


Icha mencoba mengingat ngingat kejadian kemarin, berharap menemukan kesalahan apa yang menyebabkan sahabatnya ini sampai bersikap acuh tak acuh begini sejak pulang sekolah kemarin, "Kayaknya gue gak ngelakukan kesalahan atau nyinggung perasaanya deh kemarin, apa jangan-jangan dia ada masalah dengan keluarganya, tapi gue lihat keluarga Wijaya baik-baik saja tuh." Icha terus bertanya-tanya dalam hati penyebab sikap Aslan jadi acuh begini.


Laskar menginjak pedal gas dengan kuat, tak ayal hal tersebut membuat tubuh Icha terhempas kedepan yang menyebabkan bagian dadanya membentur dasbor.


"Awww." Icha reflek memegang dadanya, "Sakit Aslan, lo sengaja ya."


"Makanya, kalau naik mobil itu jangan lalai, pakai sabuk pengamannya."


Icha menyilangkan kedua tangannya, mengabaikan perintah Aslan, bibirnya cembrut, Icha yakin tadi Aslan sengaja melakukan hal tersebut.


"Heh, kok malah diem, pasang sabuk pengamannya."


"Gak mau."


Aslan mendekat, ya niatnya ingin memasang sabuk pengaman tersebut, gak lebih gak kurang.


"Eh, apa yang akan lo lak..." kalimat Icha terhenti karna disaat bersamaan Aslan yang jaraknya begitu sangat dekat dengan Icha mengarahkan wajahnya kearah Icha, dan alhasil bibir mereka menempel, Icha langsung mendorong bahu Aslan menjauh, dia jadi salah tingkah, begitu juga dengan Aslan, dia kini duduk dengan tegak, tidak jadi memasang sabuk pengaman untuk Icha.


"Mending lo pakai tuh sabuk pengamannya."


Tanpa membantah Icha melakukan perintah Aslan.


Karna kejadian barusan, suasana dimobil jadi hening dan canggung, Icha yang niatnya mencoba untuk memperbaiki hubungannya dengan Aslan diam seribu bahasa, begitu juga dengan Aslan yang kini fokus menyetir.


"Sorry." tiba-tiba kalimat tersebut tercetus dari bibir Aslan.


Icha yang lebih memilih memandang jalanan memutar lehernya ke arah Aslan.


"Untuk apa."

__ADS_1


"Karna gue sengaja menginjak pedal gas dan membuat tubuh lo terhempas ke depan."


"Tuhkan dia sengaja, menyebalkan banget."


Icha memegang kepala Aslan dan bergumam, "Baiklah, karna lo meminta maaf dengan tulus, maka lo dimaafkan."


"Apaan sieh lo." Aslan menyingkirkan tangan Icha, dia tersenyum, meskipun senyuman yang sangat tipis, tapi sudah lebih dari cukup untuk Icha menyadari kalau sahabatnya ini sudah kembali seperti sediakala.


"Jadi, gue dimaafkan kan atas kesalahan yang tidak pernah gue lakukan."


"Maksud lo." Aslan bingung dengan kalimat Icha.


"Lo fikir aja sendiri."


"Gak jelas banget sieh lo."


"Ya maksud gue, lo itukan sejak kemarin ngacuhin gue mulu, benarkan."


"Hmmm."


"Marah-marah gak jelas, wajahnya asem terus kayak udah ngalah-ngalahin sayur asem."


Aslan langsung memberikan plototan tajam pada Icha, namun Icha mengabaikannya dan terus mengeluarkan isi hatinya, "Sikap lo yang berubah drastis itu membuat gue memeras otak untuk mencari dimana letak kesalahan gue, dan setelah gue cari-cari, dan gue tidak menemukan satupun kesalahan yang gue lakuin kemarin sama lo, makanya gue bilang gue minta maaf atas kesalahan yang tidak pernah gue buat."


"Ohhhh."


"Kok cuma oh doank sieh."


"Ya memang lo gak ada salah sieh sama gue."


"Nahh tuhkan, tapi kenapa lo mengacuhkan gue."


"Baperan lo, sifat guekan memang kayak gini sejak dahulu kala."


"Iya Aslan, lo emang wajahnya datar kayak tembok, dingin kayak salju abadi, cuek dan pemarah juga, tapikan selama ini lo gak pernah ngacuhin gue."


Aslan mendengus, "Sahabat macam apaan lo dengan terang dan jelas menghina sahabatnya sendiri didepan mukanya."


"Tersinggung juga lo, padahal itu kenyataan."


"Aslann."


"Apalagi, lo mau bilang gue kanebo kering lagi sebagai daftar pelengkap ledekan lo."


Icha terkekeh, dia senang Aslan sudah kembali seperti biasanya, Aslan yang selalu membalas setiap ucapannya, "Iya benar juga lo, kenebo kering juga cocok tuh sebagai julukan tambahan buat lo."


"Gak lucu."


"Lan, gue sahabat lo kan."


"Bukan, lo calon tunangan gue."


"Ihhh." Icha reflek memukul lengan Aslan, "Gue serius Lan."


"Iya iya lo sahabat gue, kenapa."


"Lo selalu baik sama gue, selalu ada buat gue, gue tahu gue gak berguna, tapi Lan."


"Sadar juga lo gak berguna selama ini."


"Kalau lo gak nyetir, ingin banget gue nabok lo." kesal Icha merengut, pasalnya dari tadi dia serius tapi Aslan selalu memotong ucapannya.


"Iya sorry, lanjutin deh lo mau bilang apa."


"Gak jadi, gue udah ngambek." bibir Icha mengerucut.


"Dihhh, dasar baper."

__ADS_1


*****


__ADS_2