
Malam itu mereka habiskan waktu berdua menikmati indahnya malam dibawah langit kota Malang, dan setelah puas melepaskan rasa kangen dengan menikmati waktu berdua, mereka memutuskan kembali ke hotel.
"Balik yuk, udah malam." ajak Aslan.
"Tapi temenin dulu."
"Nemenin,? nemenin kemana."
"Temenin cari penginapan murah."
"Nginep dihotel saja."
"Gak bisa Aslan, disanakan tarifnya mahal."
"Memang sedikit mahal, tapi nyaman dan aman."
"Iya sieh, tapi itu terlalu mahal untuk aku, aku gak punya uang sebanyak itu."
"Astaga Icha, apa gunya aku disini, kenapa pakai mikirin biaya segala sieh." dengus Aslan kesal.
Icha yang dulu tidak pernah kenal yang namanya jaim-jaiman, kini sok jaim, dia menolak tawaran Aslan.
"Gak usah Lan, aku gak mau ngerepotin kamu, mending aku cari penginapan murah saja."
"Kamu mau cari dimana Cha, sekitar sini itu kawasan elit, jadi gak ada penginapan murah, adanya cuma dipinggir kota." Aslan mencoba membuat Icha mengerti.
"Gitu ya, jauh berarti donk ya dari sini."
"Jauh banget, makanya jangan ngeyel, ayok ikut aku ke hotel."
Dan karna gak punya pilihan lain, Icha dengan terpaksa mau nginep dihotel yang sama dimana Aslan dan team sains SMA PERTIWI menginap.
Didepan kamar yang telah dipesankan untuk Icha, dua insan yang berlainan jenis kelamin itu enggan untuk berpisah.
"Masuk sana, istirahat, kamu pasti capekkan karna habis perjalanan jauh."
"Tapi masih kangen." Icha merengek manja.
Aslan meraih pinggang Icha sehingga membuat tubuh mereka menempel satu sama lain, posisi tersebut membuat mereka bisa merasakan detak jantung satu sama lain, Aslan kemudian menempelkan keningnya dikening Icha, "Besok kita bisa ketemu lagi, sekarang bahaya kalau kita berada di satu ruangan yang sama, kamu ngertikan, aku takut aku khilaf nantinya."
Icha mengangguk mengerti.
Aslan kemudian mendaratkan bibirnya di kening Icha, cukup lama, Icha memejamkan matanya merasakan lembutnya bibir Aslan dikeningnya.
"Masuk sana, sebelum aku berubah fikirin." bisik Aslan.
Icha seketika langsung menjauh, berbalik dan langsung menutup pintu tanpa mengucapkan sepatah katapun, Aslan hanya tersenyum tipis melihat Icha yang terlihat salah tingkah.
Dibalik pintu, Icha meletakkan tangannya tepat di area jantungnya, jantungnya berdebar keras, Icha tersenyum, "Indahnya jatuh cinta." ujarnya berlari kearah tempat tidur dan membanting tubuhnya ditempat tidur hotel yang super empuk.
****
Bibir Lea sejak berangkat dari Jakarta ke Malang terus tersenyum merekah, gak sabar rasanya dia ingin memberi kejutan pada sang kekasih dengan mengunjunginya secara tiba-tiba di Malang, Lea senyum-senyum sendiri di cermin membayangkan reaksi Aslan ketika melihat dirinya menyusulnya. Lea memaksa kakak laki-lakinya Teguh untuk mengantarnya, dan tentu saja Teguh tidak pernah tega mengatakan tidak pada sang adik kesayangannya tersebut selama dia bisa melakukannya.
"Teguh, inget, jaga adikmu, jangan lengah." sang mama memberi pesan sebelum kedua anaknya berangkat.
"Siap yang mulai Ratu." Teguh pose hormat layaknya tentara, "Tuan putri Azalea selama bersama dengan Jenderal Teguh akan aman tanpa kurang satu apapun."
Melihat tingkah polah Teguh tersebut tentu saja membuat sang mama dan Lea terkikik geli.
"Kak Teguh ini, ada-ada saja."
"Memang, kamu anak mama yang paling bisa diandalkan Teguh."
"Siapa dulu donk ma, Teguh."
"Ya sudah, mending kalian berangkat sekarang, mumpung masih pagi agar tidak kena macet."
__ADS_1
"Iya ma."
Sebelum masuk ke mobil, Lea dan Teguh menyalami mamanya.
"Dahh mama." Lea melambaikan tangannya dari jendela mobil yang terbuka.
"Dahh sayaang, hati-hati dijalan."
"Siap ma."
Dan mobilpun melaju meninggalkan rumah besar Lea.
Lea π©
Cha, gimana keadaan lo sekarang, udah baikankan, jangan lupa sarapan dan minum obat kalau lo masih pusing, sorry gue gak bisa ke rumah lo sekarang, gue ada keperluan mendadak soalnya.
Dalam perjalanan, Lea mengirim pesan pada Icha yang difikirnya sakit, kemarin sebenarnya dia dan Laskar berniat datang ke rumah Icha setelah pulang sekolah, tapi Icha melarang mereka datang dengan alasan dia baik-baik saja, hanya pusing biasa, ya jelaslah Lea dan Laskar dilarang datang, orang Icha pergi ke Malang, beberapa saat kemudian, balasan masuk ke ponsel Lea dari Icha.
Icha π©
Gak apa-apa, gue udah gak pusing lagi kok. Balas Icha bohong.
Lea π©
Syukurlah kalau gitu, gue seneng dengernya
Mereka terus berkirim pesan.
Icha π©
By the way, lo mau kemana.
Lea π©
Rahasia.
Lea membuka jendela mobil, membiarkan sejuknya angin pagi berhembus mengenai wajahnya, dia kembali tersenyum membayangkan pertemuannya nanti dengan Aslan.
"Senyum terus dek, seneng banget ya bakalan ketemu sang pujaan hati." goda Teguh melihat senyum yang sejak tadi tercetak dibibir sang adik.
"Iya donk kak, udah beberapa hari soalnya gak ketemu, kan Lea jadi kangen berat."
"Duhh, yang kasmaran, padahal baru beberapa hari kalian gak bertemu udah kangen berat saja, bagaimana kalau gak bertemu satu bulan."Β
"Akhh kakak, jangan goda Lea donk, Leakan jadi malu."
Teguh terkekeh, mengelus puncak kepala adik perempuannya dengan sayang, "Adik kecil kakak, ternyata sudah besar sekarang."
***
Karna ini hari minggu, jadi memang aktifitas yang berkaitan dengan olimpiade tentu saja diliburkan dan tentu saja peserta rombongan team olimpiade sain SMA PERTIWI memanfaatkan hal tersebut untuk menikmati keindahan kota Malang dengan jalan-jalan menghabiskan waktu dengan mengunjungi tempat-tempat menarik di Malang, begitu juga dengan Icha dan Aslan yang memilih menghabiskan waktu berdua dengan mengunjungi tempat-tempat wisata.
"Foto yuk." ajak Aslan pada Icha setelah mereka puas menjelajah salah satu tempat wisata yang mereka kunjungi.
"Gak ah malu."Β
"Tumben banget malu, biasanya juga malu-maluin." ledek Aslan.
"Ihh apaan sieh, ya udah deh."
"Nahh gitu donk, kitakan gak pernah foto berdua."
Dengan merapatkan posisi mereka sehingga menempel satu sama lain, dan dengan menggukan kamera ponsel mereka berselvia.
"Bagus, aku kirimnya." gumam Aslan sambil melihat hasil-hasil foto yang diambil.
Icha hanya mengangguk untuk mengiyakan.
__ADS_1
"Gimana, baguskan." Aslan mengarahkan layar ponselnya yang menyala ke arah Icha untuk memberitahu Icha kalau foto selvi mereka barusan Aslan jadikan sebagai wallpaper ponselnya.
"Jangan dijadikan wallpaper Lan, ntar kalau dilihat Lea bagaimana." khawatir Icha.
"Jangan fikirkan hal itu sekarang, untuk saat ini kita habiskan waktu berdua, dan melakukan apapun yang kita suka, mengerti."
Icha mengangguk, Aslan bener, untuk saat ini dia seharusnya menikmati waktu berdua dengan Aslan tanpa memikirkan hal lainnya.
"Sini HPmu."
"Untuk apa."
"Udah sini."
Dengan ragu Icha memberikan ponselnya pada Aslan, Aslan terlihat menarikan jemarinya dilayar ponsel Icha dan gak lama kembali memberikannya pada Icha.
"Nahh udah selesai."
Dan Icha bisa melihat apa yang dilakukan Aslan diponselnya, Aslan ternyata merubah tampilan wallpaper ponselnya dengan gambar yang sama dengan wallpaper diponsel Aslan.
"Jangan protes." ujar Aslan melihat Icha yang bersiap membuka bibirnya.
"Siapa yang protes, orang aku mau bilang ini oke kok."
"Kirain."
***
Lea π©
Lan, kamu dimana.
Begitu tiba dihotel tempat Aslan dan rombongan team sains SMA PERTIWI menginap, Lea langsung mengirimi Aslan pesan, tentunya dengan tidak memberitahu Aslan kalau dia kini berada dihotel karna kan dia ingin memberi Aslan kejutan.
Aslan π©
Gue lagi diluar Le.
Lea π©
Lama gak baliknya.
Aslan π©
Gak, bentar lagi balik kok, emang kenapa.
Lea π©
Gak apa-apa kok, hanya nanya doank.
"Akhh, lebih baik gue tunggu Aslan dilobi hotel saja, dia pasti kaget banget lihat gue begitu dia kembali." Lea tersenyum, gak sabar dia menunggu kedatangan sang pujaan hati yang begitu dirindukannya, sementara itu kakaknya pergi ke supermarket untuk membeli rokok setelah menurunkan Lea didepan hotel.
Saat ini Malang tengah diguyur hujan deras, untungnya Lea mengenakan jaket yang cukup tebal sehingga bisa menghalau rasa dingin, tapi mengingat Aslan berada diluar dalam kondisi hujan begini membuat Lea sedikit khawatir.
"Aslan dimana sieh, kok belum balik juga, kalau dia kehujanan gimana, diakan bisa sakit." sambil terus mengarahkan matanya ke luar berharap Aslan akan segera datang.
Beberapa menit, sebuah taksi berhenti tepat didepan hotel, Lea melihat sosok yang dirindukan menuruni taksi tersebut dengan menjadikan jaketnya sebagai pelindung dari derasnya guyuran air hujan.
Senyum Lea mengembang, "Aslan." gumamnya berniat untuk menyongsong kedatangan Aslan, namun langkahnya langsung berhenti begitu melihat siapa yang turun selanjutnya.
"Icha." desis Lea, tanpa memutus pandangannya ke arah dua orang tersebut, "Ngapain dia disini, dan sejak kapan dia disini, dan kenapa Aslan tidak memberitahu gue kalau Icha saat ini tengah bersamanya."Β tentu saja Lea heran melihat Icha berada di Malang, berbagai pertanyaan berseliweran dibenaknya.
Aslan menggunakan jaketnya untuk melindungi mereka berdua dari hujan dan mereka berjalan ke hotel, Lea dengan jelas melihat dua orang yang sangat berarti bagi hidupnya tersebut tertawa bahagia dibawah naungan jaket tersebut, itu adalah sesuatu hal yang romantis yang sering terjadi difilm-film yang sering Lea tonton.
Melihat adegan tersebut, sebagai seorang wanita tentu saja rasa cemburu menghampiri perasaan Lea, tapi dia berusaha menepisnya, "Mereka cuma sahabatan, gak lebih." Lea meyakinkan dirinya, dia kembali melanjutkan langkahnya untuk menghampiri mereka berdua yang saat ini tengah berdiri diluar hotel sembari mengibas-ngibas pakaian mereka yang terkena percikan air hujan, dua orang itu masih tertawa bahagia tanpa menyadari keberadaan Lea.
****
__ADS_1