
Ketika Icha tiba dikelas sudah banyak teman kelasnya yang sudah berdatangan.
Ketika kakinya memasuki pintu, terdengar suara cie cie dari beberapa teman kelasnya.
"Cie Icha, penggemar rahasia lo itu ternyata serius sama lo." suara godaan Nana.
"Sweet banget sieh tuh cowok Cha, jadi iri sama lo." timbrung Gita.
"Apa sieh lo pada, gak jelas." gumam Icha menanggapi ledekan temen-temen kelasnya.
Dan ketika matanya tertuju pada bangkunya, barulah dia mengerti kenapa teman-temannya meledeknya, disana duduk sebuah boneka beruang besar berwarna pink yang memangku buket bunga, kalau Icha tidak melihat Lea duduk didekat boneka itu, mungkin Icha tidak akan berfikir itu adalah tempat duduknya, Icha berjalan cepat menghampiri bangkunya.
Lea menatapnya sekilas dan kembali membuang pandangan, Icha begitu malas untuk membujuk Lea berbaikan dengannya makanya dia mengabaikan Lea, Icha meraih buket bunga indah tersebut, diantara bunga-bunga tersebut terselip selembar kertas, Icha meraihnya dan membuka lipatannya, disana tertulis.
Hai Alissa Ramadhan.
Selamat ulang tahun ya aku ucapkan untuk kamu, meskipun telat ngucapin dan ngasih hadiahnya, tapi lebih baik terlambatkan daripada gak sama sekali.
Sorry ya aku gak bisa ngasih secara langsung, aku takut ditolak mentah-mentah, bener-bener cemenkan.
Aku tahu kamu gak suka bunga atau boneka, kamu lebih suka makanan daripada dikasih benda samacam itu, tapi entah kenapa aku suka memberikan kamu bunga, ya aku harap kamu gak menyedekahkan bunga ataupun boneka itu ya Cha pada sahabat kamu, dan suatu saat aku pasti akan menampakkan diriku, tapi untuk saat ini belum saatnya.
Dari orang yang mengagumimu.
Icha sebenarnya gak terlalu terkesan dengan hal-hal beginian, tapi entah kenapa kali ini bibirnya melengkung membentuk senyum, mungkin dia terharu atau luluh dengan kegigihan cowok yang sudah beberapa kali mengiriminya bunga yang menganggap dirinya sebagai pengagum rahasia. Dibelakang bahunya tanpa sepengetahuan Icha, beberapa temannya ikut membaca surat itu dan langsung kembali bercie-cie semakin heboh.
"Ciee yang punya pengagum rahasia."
"Duh, kok gue yang jadi baper ya."
"Pada ngapain sieh lo." bentak Icha dongkol dengan teman-temannya yang pada kepo.
"Ya ingin tahulah Cha, siapa sieh Cha pengagum rahasia lo itu."
"Ya gue gak tahulah, kalau gue tahu ya gak mungkinlah namanya pengagum rahasia, begok lo."
Gita meraih boneka beruang Icha memeluknya dengan gemes, "Gemes banget sieh, enak banget dipeluk kalau kalau lagi tidur."
"Kenapa gak suruh sik Marhun beliin lo."
"Tuh anakkan kere dan pelit, jangankan beli boneka, beliin cilok aja gak mampu."
Temen-temennya pada mentertawakan,
"Yankk, jangan buka kartu kenapa sieh."
"Biarin aja, biar orang tahu lo pacar pelit." tandas Gita.
"Kalau gue jadi lo Git." Dion mengompori, "Udah gue buang ke laut, buat apa melihara cowok kere."
"Sialan lo Dion." Marhun cuma bisa mengumpat.
Untuk pertama kalinya Icha tidak memiliki keinginan memberikan boneka ataupun bunga pemberian pengagum rahasianya kepada siapapun, dia berniat menyimpannya dan satu lagi, dia bener-bener ingin mengetahui siapa sik pengagum rahasia tersebut.
__ADS_1
Gak lama Aslan muncul, langsung menoleh pada Icha dan pandangannya beralih pada boneka yang duduk dengan manis dibangku Icha, namun fikir Aslan ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya karna dilihatnya Icha masih gak mau bicara dengannya, makanya dia langsung kemejanya.
"Sejak kapan lo suka benda-benda yang disukai cewek Cha." tanya Laskar yang langsung berhenti didekat Icha dalam perjalanan menuju bangkunya dipaling belakang.
Icha gak menyadari kedatangan Laskar karna saking sibuknya menghindari tatapan Aslan.
"Jangan ngeledek gue deh lo."
"Dari siapa emang."
Icha mengangkat bahu, "Gak tahu."
"Kok bisa."
"Gak ada nama pengirimnya."
Laskar kemudian menyibak-nyibak rambut lembut boneka beruang itu seperti mencari kutu.
"Tuh boneka gak punya kutu kayak rambut lo."
"Sialan lo ngehina gue lagi, gue cuma nyari-nyari siapa tahu ada bomnya atau alat sadap gitu."
"Lo fikir gue anak presiden pakai pakai dikirimin boneka yang ada bomnya segala, udah sana kembali ke meja lo, jangan ganggu milik gue."
"Yeelah, masak lihat-lihat gak boleh sieh."
"Gak boleh, ntar rusak lagi."
"Sejak kapan sieh lo jadi lebay."
"Iya iya." Laskar berjalan kebangkunya.
****
Kelas XI IPS 5 sudah berkumpul dilapangan karna hari adalah matpel olahraga, tapi berhubung ptir gak masuk, jadinya mereka disuruh berlatih sendiri dilapangan, itu sebuah keuntungan bagi anak-anak tersebut, karna gak bakalan ada guru yang bakalan negur mereka karna olahraga memang tempatnya diluar ruangan, sehingga gak heran kebanyakan anak-anak perempuan pada duduk ditempat teduh sambil pada bergosip, malas kena sinar matahari takut hitam katanya, Lea duduk bersama temen-teman kelasnya yang perempuan, dia masih belum berbaikan dengan Icha.
Sedangkan Icha daripada duduk bengong yang gak berfaedah, dia lebih memilih merenggangkan otot-ototnya dibawah siraman sinar matahari pagi.
Klik klik
Terdengar suara yang paling disukai oleh cewek narsis, yaitu suara kamera, dan yang membidikkan kamera barusan adalah Laskar. Icha langsung menatap Laskar sebal.
"Ngapain sieh lo."
"Motret lo, kamera baru nieh." beritahunya sambil mengacung-ngacungkan kameranya.
"Gak nanya."
"Senyum donk Cha." pinta Laskar kembali membidikkan kameranya pada Icha.
"Berhenti deh sebelum lo ngerasain sepatu melayang." ancam Icha.
Namun Laskar mengabaikan, malah makin gencar memotret Icha yang terlihat makin sebal, "Ayolah berpose, guekan lagi ikutan lomba fotografi, dan lo seharusnya merasa terhormat karna gue pilih jadi model gue."
__ADS_1
"Lo milih orang yang salah sebagai model lo."
Anak-anak cewek yang pada duduk agak jauh dari lapangan olahraga pada berduyun-duyun mendatangi Laskar begitu melihat Laskar membawa kamera.
"Laskar Laskar, kami mau difoto juga donk." rengek Gita.
"Iya Laskar, masak Icha doank sieh difoto, ayok foto kami sebagai kenang-kenangan." sokong Nana.
"Kayak mau mati aja." gumam Icha.
"Ayok Laskar foto, kok malah bengong sieh."
"Iya iya beres nona nona."
Mulai deh mereka pada berpose gila-gilaan, dimana-mana memang begitu, wanita paling suka melihat kamera.
"Woee, ini bukan acara next top model, pada pemanasan kek." teriak Icha melihat kehebohan temen-temennya.
"Yeelah mumpung ada kamera ya manfaatinlah."
"Gue aduiin lo ke ptir."
Namun gak ada yang menggubris Icha.
Icha merasa capek, oleh karna itu dia duduk dipinggir lapangan yang teduh setelah tanding basket dengan temen-temen kelasnya yang cowok, dari tadi Icha tidak melihat Aslan, fikirnya mungkin Aslan lebih senang menghabiskan waktunya diperpus daripada dilapangan. Laskar terlihat mendekati Icha dan duduk disampingnya, sambil melihat hasil foto yang diambil.
"Mereka bener-bener sudah pada gila, gue dipaksa jadi fotografer gratis." ujar Laskar sambil melihat foto-foto nyeleneh temen-temen kelasnya.
"Siapa suruh lo bawa kamera, anak-anakkan pada gitu, gak bisa lihat kamera pada heboh jadi model dadakan."
"Tapi lo gak seperti mereka."
"Gue malas difoto."
"Karna lo jelek ya."
Icha menendang kaki Laskar, "Kejujuran lo membuat hati gue terluka tahu."
Laskar terkekeh, "Sorry bercanda, lo cantik tahu."
"Jangan bohong untuk buat gue seneng."
"Cantik itu relatif, dan menurut gue lo cantik."
"Tadi lo bilang gue jelek."
"Guekan udah bilang tadi tuh bercanda."
Icha mendengus, "Pulang sekolah mau nemenin gue gak."
"Kemana."
"Rahasia donk, pokoknya ikut saja, oke."
__ADS_1
"Gue lihat entar deh."
*****