Cinderela Modern

Cinderela Modern
APA YANG TERJADI DENGAN ICHA


__ADS_3

Laskar keluar dari lift, dan begitu pintu lift terbuka, sebuah wajah yang tidak pernah ingin dilihat seumur hidupnya tersenyum manis didepannya, tapi bagi Laskar, senyum itu terasa memuakkan baginya.


Dengan ketus dia bertanya, "Mau ngapain lo dirumah gue."


Meskipun diketusin begitu, Diana berusaha untuk menjawab pertanyaan Laskar dengan manis, "Aku mau ketemu kamu Laskar, aku kangen sama kamu."


Laskar memandang Diana dengan jijik, "Lo bener-bener wanita tidak tahu malu ya, padahal jelas-jelas lo tahu gue punya pacar, masih saja lo ngedekatin gue."


Diana tersenyum sinis, "Pacar, maksud kamu gadis yang baru keluar itu, Laskar Laskar, segitu niatnya ya kamu mau bikin aku cemburu, sampai pura-pura ngakuin gadis itu sebagai pacar kamu."


"Maksud lo apa."


"Gadis itu yang ngaku sendiri, kalau kamu dan dia cuma pura-pura pacaran." Diana tersenyum puas mengetahui kebenaran ini, "Aku selalu tahu Laskar, kalau kamu selalu mencintai aku dan tidak pernah bisa melupakan aku." ujarnya percaya diri.


"Lo ketemu Icha."


"Ya begitulah."


"Asal lo tahu ya Diana, Icha memang bukan pacar gue, tapi mulai saat ini gue akan berusaha untuk menjadikan Icha sebagai pacar gue."


"Kamu gak seriuskan, kamu cuma bercandakan."


"Untuk hal sepenting ini, gue gak pernah bercanda, jadi Diana, mantan kekasih gue yang pernah menghianati gue." Laskar menekan setiap kata-katanya, "Jangan pernah mimpi lo bisa balikan sama gue, karna bagi gue lo hanyalah sampah yang harus gue buang."


Plakk


Laskar mendapat tamparan keras dipipinya dari Diana atas kalimat menyakitkan yang dilontarkannya barusan.


"Aku gak pernah menyangka kamu setega ini sama aku." lirih Diana sebelum berlari keluar dengan berurai air mata.


Laskar merasa bersalah melihat Diana menangis, dia menyesal atas kata-katanya barusan, tapi dia juga gak mau mengejar Diana hanya untuk minta maaf, karna baginya, perlakuan Diana padanya di masa lalu jauh lebih menyakitkan.


****


"Kenapa sieh lama amet." tanya Lea begitu Icha duduk disampingnya, "Habis ngapain aja disana, lo gak habis ciuman kan dengan Laskar." ujar Lea curiga sambil matanya memperhatikan bibir Icha.


Namun Icha tidak menggubris pertanyaan Lea, dia malah memberi perintah pada Ucup, "Jalan Cup."


"Oke doki, perintah dilaksanakan." jawab Ucup menstater mobil.


Karna pertanyaannya tidak mendapat jawaban, Lea kembali mengajukan pertanyaan.


"Cha, kok lo jadi pendiem sieh setelah keluar dari rumah Laskar, jangan-jangan beneran lagi lo habis dicium sama Laskar."


Kali ini Icha jelas ingin membantah praduga tak berdasar Lea, tapi ketika bibirnya sudah akan terbuka, Ucup lebih dulu berkata,


"Astagaaanaga, non Icha nieh, masih kecil main cium-ciuman segala, inget dosa atuh neng, ntar kebablasan lagi jadi kayak lagu dangdut hamil duluan." main ceplas ceplos saja bibir sik Ucup.


Icha yang gak terima karna dianggap melakukan hal yang sama sekali tidak pernah dilakukan langsung menendang belakang kursi pengemudi yang diduduki Ucup, "Sialann, jangan pada nuduh sembarangan, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan, bibir gue yang suci bersih ini yang gak mungkinlah gue serahin begitu aja sama laki-laki yang bukan muhrim gue."

__ADS_1


"Habis, kenapa wajah lo pucet, kayak orang yang baru pertama kali ciuman aja."


"Masak sieh wajah gue pucat, gak kok." Icha terlihat salah tingkah gitu.


"Dan kenapa lo jadi salah tingkah begini." Lea jadi curiga dengan perubahan sikap Icha begitu kembali mengambil ponselnya dari kamar Laskar, "Hayooo, ngaku aja sama gue, benerankan lo habis dicium sama sik Laskar, ya kan ya kan, ngaku aja."


"Apaan sieh lo Le, kok lo jadi nyolot sieh, udah gue bilang enggak ya enggak, atas dasar apa juga Laskar nyium gue, orang kita gak pacaran."


"Habisnya kenapa wajah lo jadi pucet, tingkah lo juga jadi aneh."


"Gue biasa aja kok, aneh dari mananya coba, dan kalau wajah gue pucet, mungkin karna gue laper aja kali." Icha mencoba membela diri.


"Laper darimana, tadi lo makan kayak kuda nil lagi hamil, kalau bohong kira-kira juga donk."


"Udah ah, intinya gue gak pernah dicium sama Laskar, dan lo catat diotak lo yang dangkal ini." Icha mengetuk kepala Lea, "Gue gak akan pernah ciuman sama Laskar." tandas Icha sebagai sebuah kode kalau dia gak mau ditanya-tanya lagi.


Lea tahu terjadi sesuatu antara Icha dan Laskar, kalau gak, mana mungkin tingkah Icha agak aneh gitu, tapi untuk saat ini percuma saja dia merongrong Icha dengan pertanyaan karna sudah pasti Icha tidak akan mau menjawab, mungkin besok-besok Icha akan bercerita dengan sendirinya tanpa dipaksa.


Ucup menghentikan mobil didepan rumah Icha.


"Lo mau mampir dulu gak." Icha menawarkan.


"Gak deh, selain udah mau hampir magrib, gue takutnya ntar disuguhin racun sama mama tiri lo kalau gue mampir."


"Berlebihan lo, sejahat-jahatnya tiga rubah itu, mereka gak mungkin berbuat sejauh itu."


Tok tok tok, terdengar suara ketukan dijendela samping Icha.


"Sepertinya Aslan tengah nungguin lo deh Cha."


"Bisa jadi, seharian ini dia khawatir terus dengan gue."


Icha membuka pintu mobil, Lea juga, begitu Icha keluar, Aslan langsung berkata, "Darimana aja, hampir magrib gini baru pulang." Aslan terlihat khawatir, "Dan kenapa wajah kamu pucet begini, kan sudah aku bilang, jangan keluyuran dulu, istirahat agar sembuh total." Aslan persis seperti ayah yang mengomeli anaknya yang nakal.


Icha yang ngajak pergi, malah Lea yang merasa tidak enak hati, dengan mengikuti sekenario yang dibuat Icha, Lea berbohong, "Sorry ya Lan, aku ngajakin Icha nyariin kado untuk ulang tahun kakakku sampai lupa waktu gini."


"Lo kan tahu Icha baru sembuh, malah lo ajakin lagi, pulangnya sore banget lagi, nyari kadokan lo gak perlu ngajak-ngajak Icha segala, manja banget lo jadi cewek, apa-apa harus ditemenin." Aslan tidak bisa ngontrol emosinya.


Lea merasa sedih mendengar dirinya disalahkan oleh Aslan, padahalkan dalam hal ini dia gak salah, tapi gak mungkin donk dia bilang kalau dia dan Icha habis pergi jengukin Laskar.


"Lan, jangan salahin Lea, ini salah gue, gue yang ingin nemenin Lea, lagian gue gak apa-apa kok." bela Icha karna gak terima Lea disalahkan.


"Gak apa-apa gimana, tuh wajah lo pucet."


"Tapi gue gak apa-apa Aslan, udah deh stop khawatirin gue, lo fikir gue anak kecil apa."


Aslan terdiam.


"Le, lo pulang aja, udah hampir magrib, ntar tante dan om khawatir lagi sama lo." ujar Icha.

__ADS_1


"Ya udah deh gue balik, Aslan aku pergi dulu ya." pamit Lea.


Aslan tersenyum tipis, "Maafin gue ya Le karna bentak lo tadi."


"Gak apa-apa kok Lan."


Icha berjalan kedepan dimana Ucup duduk dikursi kemudi, "Cup, bawa Lea balik dengan selamat."


"Tenang aja non Icha, itu sudah menjadi tanggung jawab Ucup."


"Udah sana masuk istirahat, ngapain masih betah berdiri disini." perintah Aslan.


"Gue fikir lo masih mau nerusin pidato kenegaraan lo."


"Untuk saat ini gue gak mau nasehatin lo panjang kali lebar, percumakan, masuk telinga kanan keluar telinga kiri."


****


PANGERAN NARSIS CALLING


Nama itu terpampang dilayar ponsel Icha, Icha langsung mematikan ponselnya begitu suara panggilan itu terhenti, untuk saat ini Icha gak mau bicara dengan Laskar, yah mungkin untuk saat ini Icha bisa menghindari Laskar, tapi bagaimana dengan besok, entahlah, untuk saat ini Icha gak mau memikirkannya, yang terjadi besok, besok difikirkan, untuk saat ini yang Icha inginkan adalah tidur, berharap apa yang terjadi hari ini adalah mimpi, meskipun begitu, butuh waktu yang cukup lama untuk Icha menyelami dunia mimpi, dan ketika dia bisa memejamkan mata, tau-taunya pagi sudah menyapa, dengan malas dia bangun dari tidurnya. Icha masih berfikir bagaimana dia menghadapi Laskar nanti disekolah, dan ketika dia tidak menemukan cara untuk menghindari Laskar, harapannya bahwa apa yang terjadi kemarin hanyalah cara Laskar untuk menjailinya, ya begitulah fikirnya karna Laskar selalu menjilinya.


Yang pertama dilakukan Icha adalah meraih ponselnya dan mengaktifkannya, dan dia bersyukur karna tidak ada chat masuk dari Laskar.


****


Begitu tiba dikelas, Icha tidak menemukan bunga atau coklat yang biasa selalu menyambut pagi harinya, dan Icha memang tidak mengharapkannya kali ini karna dia sudah tahu siapa orang yang selalu mengiriminya kedua benda tersebut.


"Pagi Cha." Lea menyapa.


Icha tidak membalas.


"Cha, kok tumben penggemar rahasia lo gak melakulan rutinitas paginya ngirimin lo bunga dan coklat." komentar Lea tidak menemukan bunga dan coklat dibangku Icha.


Icha mengangkat bahu, "Tahu, udah bosan kali."


"Palingan dia sakit kali, jadi gak masuk hari ini, dan absen deh ngirimin elo bunga dan coklat." seperti biasa, Lea selalu menduga-duga.


"Semoga saja dia beneran sakit."


"Ihhh, kok lo jahat gitu sieh mendoakan doi lo sakit, padahlkan kemarin lo terlihat antusias setiap dapat bunga dan coklat, atau jangan-jangan."


"Jangan-jangan apa."


"Jangan-jangan lo udah tahu siapa penggemar rahasia lo itu, dan pastinya orangnya jelek ya makanya lo gak ngarep lagi dikirimin bunga dan coklat." Lea mengambil kesimpulan


Icha memberikan jawaban jujur dalam hati, "Orangnya ganteng Le kalau lo ingin tahu." yang malah dilisankan adalah, "Gue gak tahu dan gak mau tahu siapa sik penggemar rahasia itu, dan gue berharap dia berhenti ngirimin gue bunga-bunga konyol itu."


"Kenapa sieh lo berubah aneh gini sejak kita pulang dari rumah Laskar." heran Lea melihat perubahan sikap Icha.

__ADS_1


"Gue gak aneh, dan stop bilang gue aneh Le." tandas Icha.


****


__ADS_2