
Icha tengah berbaring cantik dengan menggunakan headset ditelinganya ketika sesuatu mengenai wajahnya dengan kasar, benda asing itu mengenai wajahnya dua kali, itu membuat Icha berjengit kaget.
"Apa yang....."
Kalimatnya terpotong oleh suara teriakan dari Lola dan Loli dua saudara tirinya.
"Upil, kerjain tuh tugas matematika gue." perintah Lola.
"Tugas gue juga." sambung Loli.
Ternyata benda melayang yang menimpuk wajahnya adalah dua buku PR saudara tirinya. Icha yang kesel karna ulah kedua saudara tirinya tersebut kembali melempar buku tersebut pada mereka, "Lo fikir lo siapa nyuruh-nyuruh gue, kerjain aja sendiri." Icha saja gak tahu ada PR, apalagi ngerjain PR orang lain.
Lola dan Loli memungut kembali buku mereka dan kembali menyerang Icha dengan buku itu, "Heh babu, jangan banyak cincong lo, elo dilahirkan ke dunia untuk ngelayanin kami, ngerti gak lo."
"Denger tuh, elo tidak memiliki hak untuk menolak perintah kami."
Icha geram, dia mengepalkan tangannya dan mengacung-ngacungkannya ke arah Lola dan Loli, "Kalau kalian bukan cewek, udah bonyok lo."
"Kenapa kalau kami cewek, lo takut, bilang aja takut, kalau lo nyentuh kami seujung rambut saja lo bakalan go out dari rumah kami." Lola meledek yang membuat Icha panas.
"Ishhh, lo berdua bener-bener minta dihajar." dengan langkah lebar Icha mendekati Lola dan Loli, namun mereka langsung melarikan diri begitu bahaya mengancam.
"Weekk, kejar kami kalau lo bisa." ledek mereka menjulurkan lidahnya.
"Dasar pengecut, beraninya kalau dirumah." Icha mengumpat.
Dengan kesal Icha meraih kembali buku kedua rubah tersebut membalikkan setiap lembarnya dan berhenti pada PR yang akan dikerjakan.
"Jangankan ngerjain, lihat soalnya saja pala gue mumet." Icha memijit-mijit keningnya.
"Aha." Icha seperti menemukan sebuah ide cemerlang untuk membalas perlakuan saudara tirinya, seketika wajahnya berubah ceria kembali.
Dua jam kemudian.
"Anjirr ya, meskipun ngarang bebas ngerjain tugas dua rubah itu, otak gue serasa mau meledak, apalagi ngerjainnya dengan baik dan benar." Icha merenggangkan otot-otot lehernya yang kaku, untuk PRnya sendiri dia akan mencontek milik Lea karna gak mungkin nyontek punya Aslankan sedangkan saat ini mereka tengah berantem, oleh karna itu dia menelpon Lea.
"Elahh, sik Lea lama amet ngangkatnya kayak pengantin baru saja." ujarnya karna Lea belum juga menjawab panggilannya.
Didetik terakhir panggilannya terjawab juga, terdengar suara ngantuk dari seberang,
"Ada apaan sieh Cha, nelpon tengah malam gini."
"Anak kecil banget sieh lo, jam delapan udah tidur."
"Jam delapan dihongkong kali, lo lihat tuh jam, udah jam berapa sekarang."
Icha menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat jam digital yang tertera dilayar ponselnya, disana sudah menunjukkan angka 11.50.
"Eh, mau jam dua belas ya, gue kirain masih jam delapan."
"Lo ada perlu apa, cepatan ngomong gue ngantuk berat nieh ingin lanjutin mimpi."
"Le, fotoin PR matematika elo donk terus krim pliss, gue belum ngerjain nieh, gue malas kena omel pak Top besok." Icha memohon.
"Kebiasaan banget deh lo ngerepotin gue mulu."
"Ayoklah pliss, tolongin gue, guekan gak mungkin nyontek punya Aslan, kami tengah marahan."
"Makanya baikan aja sama Aslan, kalau berantem ginikan elonya yang rugi."
"Gimana mau baikan, dianya gak mau minta maaf."
"Ya elolah yang inisiatif duluan minta maaf, jadi orang kok gengsian amet sieh."
"Dihh, kenapa gue yang mesti minta maaf duluan, dia yang salah kok, harusnya dia yang minta maaf sama gue." Icha ngegas.
"Kok lo malah ngegas gitu sieh Cha, kan gue cuma ngasih saran."
"Siapa yang ngegas, orang gue biasa aja kok." balas Icha, "Udah deh Le, gue gak mau berdebat nieh, lagian udah tengah malam gini, lo foto ajalah tugas matematika elo dan kirimin biar bisa gue salin."
__ADS_1
"Iya ya, tunggu aja ntar gue kirimin." Lea akhirnya ngalah.
Setelah beberapa gambar yang berisi jawaban matematika terlikirim ke ponsel Icha, Icha berujar, "Oke deh cantik makasih, luv luv luv deh buat lo." sambunganpun terputus.
Dan kini Icha mulai menyalin setiap angka yang tertera digambar, ada saja protesnya Icha selama menyalin tuh PR.
"Niat ngasih contekan gak sieh sik Lea, gambarnya buram gini, jadi gak bisa kebacakan." rutuknya sembari mengezoom gambar tersebut, ya maklum sajalah gambarnya gak jelas, orang motonya malam.
Ketika tengah sibuk-sibuknya menyalin PR sebuah chat masuk keponselnya.
"Duh, ini siapa sieh yang ganggu dijam segini, gak tahu apa dia orang lagi sibuk." omelnya melihat siapa yang mengirim chat.
Cha, lo udah tidur belum.
"Kak Gibran, ngapain ngechat jam segini, kayak ngechat pacarnya saja, bener-bener gak tahu situasi dan kondisi banget." ternyata pengirim chat itu adalah Gibran.
Icha menarikan jemarinya diayar ponselnya untuk membalas chat Gibran.
Belum, kenapa?.
Lea udah tidur belum.
Tau deh, tanya aja sendiri.
Gak enaklah ganggu dia tengah malam begini.
Tapi lo enak tuh gangguin gue.
Kalau elo mah gak apa-apa.
"Dasar sumpret emang kak Gibran" rutuk Icha.
Setelah itu Icha malas membalas pesan Gibran, selain itu juga dia sudah ngantuk dan memutuskan untuk tidur.
****
Icha bener-bener gak bisa tidur nyenyak semalam, karna setiap satu detik, Gibran menerornya terus menerus dengan mengirim chat setelah dia memutuskan untuk tidak membalas chat Gibran, seperti ini kira-kira bunyi chatnya.
Cha
Cha
Cha balas donk.
Gue ingin curhat nieh.
Cha
Gue ingin nanya nieh.
Cha, makanan kesukaan Lea apa."
Cha, warna faporit Lea apa.
Disekolah Lea sukanya pelajaran apa.
Cha, lea kok gak balas pesan gue ya.
Dan masih seribu chat lainnya sehingga membuat Icha terganggu dengan bunyi setiap chat yang masuk, sehingga tidak heran ada lingkaran hitam dibawah matanya.
"Uh, dimana sieh kak Gibran, bisa telat gue kalau gini." saat ini Icha tengah menunggu Gibran untuk mengantarnya, dia sudah berulangkali menelpon Gibran tapi Gibran tidak menjawab panggilannya, tadi sieh Icha lihat Aslan lewat didepannya, tapi Aslan cuek bebek tuh melewati Icha, jangankan menawarinya tumpangan, ngelirik aja dia ogah.
"Sialan bener sik Aslan, main lewat aja, basa basi dikit kek, gue doain ban mobil lo kempes." doanya, "Kak Gibran lagi, mana sieh dia, jangan bilang dia belum bangun."
Icha berinisiatif membangunkan Gibran, namun baru saja Icha berniat membangunkan Gibran kekamarnya, ponselnya berdering, dan itu merupakan panggilan dari Gibran.
"Kak Gibran, kenapa lo gak ngejawab panggilan gue." langsung deh ngomel.
"Sorry Cha, gue baru bangun nieh, habisnya gue tidurnya jam tiga pagi." Gibran menjawab dengan suara ngantuk.
__ADS_1
"Gue gak peduli kak Gibran tidur jam berapa, yang penting saat ini cepet anterin gue, bisa telat gue."
"Oke oke, gue mandi dulu."
"Gak perlu mandi kak, lo udah ganteng kok meskipun baru bangun tidur."
"Iya deh tunggu lima menit, minimal gosok gigi kek."
"Cepetan."
Icha menunggu hampir lima belas menit, dan selama itu dia gak henti-hentinya ngomel, "Dia cowok apa cewek sieh, sikat gigi saja segitu lamanya."
Terdengar suara deruman motor Gibran yang mendekatinya, "Naik Cha."
"Lama amet sieh, bener-bener telat nieh gue, kalau gini malas banget deh nyomblangin kak Gibran dengan Lea."
"Jangan ngambek gitu donk, sorry banget deh untuk kali ini, gue janji deh besok-besok gak bakalan lagi." janji Gibran.
Dan benar saja, Icha telat, gerbang sudah ditutup, "Yahhh, lo telat deh Cha."
"Ini semua gara-gara lo kak." Icha meloncat turun dari motor dan berlari.
"Cha, lo mau kemana." teriak Gibran bertanya melihat Icha berlari berlawanan arah dari gerbang.
"Masuklah."
"Arah gerbangkan kesana."
"Lo fikir gue mahluk astral yang bisa nembus besi, gue mau lewat belakang sekolah, seenggaknya meskipun gue gak bisa nembus tembok, tapi gue bisa menaikinya." langsung berlari dengan kencang menuju belakang sekolah.
Gibran menggeleng melihat kelakuan Icha, "Gini deh jadinya kalau tumbuh bersama tiga cowok, jadi ketularan deh kayak cowok."
Icha bisa dibilang tumbuh besar dengan anak-anak keluarga Atmaja yang semuanya adalah laki-laki, sehingga tidak heran kalau dia tomboy.
Karna sudah terbiasa melakukan ini semua, Icha dengan mudahnya menaiki tembok belakang sekolah dan berlari menuju kelasnya.
Begitu tiba dikelas, situasi kelas sepi karna hari adalah pelajaran olahraga, setelah mengganti seragamnya dengan pakain olahraga, Icha langsung berlari menuju lapangan.
Didepan Ptir guru olahraga mereka tengah memimpin pemanasan, sehingga dia tidak menyadari kedatangan Icha, supaya langkahnya tidak terdengar Icha berjalan sambil berkingkat-jingkat untuk meredam suara sepatunya.
Icha meletakkan jari telunjukknya dibibir supaya temen-temennya tidak ngember, dia bergangung dibarisan paling belakang, mengikuti gerakan pemanasan dan kebetulan yang berada didepan Icha adalah Lea.
"Kenapa telat." tanya Lea dengan suara berbisik.
"Gara-gara kak Gibran bangunnya kesiangan."
"Untung Ptir gak lihat, kalau dia tahu lo telat, bakalan kena hukum lo."
"Hari ini keberuntungan tengah berpihak sama gue." jawabnya percaya diri.
"Satu dua tiga." Ptir memberi intruksi dan setelah selesai melakukan pemanasan dia menghadap kembali ke muridnya.
"Icha." tegur pak Tirmizi alias Ptir.
"Iya pak." Icha was-was.
"Sudah keringetan aja kamu, padahal baru saja pemanasan, tapi bagus itu, itu tandanya kamu sehat."
Lola mengintrupsi, "Gimana gak banjir gitu keringetnya pak, orang telatkan butuh tenaga untuk berlari dari kelas menuju lapangan."
"Bisa gak sekali saja sik rubah itu gak ngember, kan jadi ketahua gue, duh, alamat bakalan kena hukum deh gue." Icha mendesah dalam hati.
"Apa, jadi kamu telat Icha."
"Hehe, iya pak."
"Kamu itu Icha, selalu saja melanggar peraturan, sebagai hukumannya, kamu lari keliling lapangan sepuluh kali."
"Apa." ujar Icha kaget, "Sepuluh kali pak, yang benar saja." wajar Icha protes mengingat lapangan sekolahnya luas, jangankan sepuluh kali, satu putaran saja sudah bikin nafas ngos-ngosan.
__ADS_1
"Itu resiko karna kamu telat." tandas Ptir tidak bisa dibantah.
****