
Setelah memantapkan hatinya, Icha bergegas kembali kerumahnya, mencuci mukanya untuk membuat mata sembabnya sedikit membaik, setelah mengenakan hody berwarna gelap dan jeans dengan warna senada, dia mengambil tasnya dan langsung pergi, tujuannya adalah terminal, apa tujuannya ke terminal, tentu saja untuk menyusul Aslan ke Malang.
"Iya, ini adalah keputusan yang terbaik, gue harus melakukannya." Icha berulangkali melafalkan kalimat tersebut untuk meyakinkan dirinya kalau dia telah mengambil keputusan yang menurutnya benar.
"Mau ke Malang dek." seorang ibu-ibu yang duduk disampingnya bertanya.
"Iya bu."
"Adek asli Jakarta."
"Iya."
"Ke rumah sudara atau...."
"Nyusulin teman." ujar Icha memotong, dan setelah itu Icha menyumpalkan airphone di telinganya sebagai kode kalau dia tidak mau diganggu.
Sik ibu mengerti, dia tidak lagi berusaha untuk mengajak Icha untuk ngobrol.
Dan setelah perjalanan panjang, disinilah kini Icha berada, dikota Malang, karna jarak Jakarta dan malang memakan waktu yang lumayan lama, sehingga ketika Icha sampai jam sudah menunjukkan angka 07.30.
Icha duduk disofa yang terdapat di lobi hotel tempat team sains SMA PERTIWI menginap untuk menunggu Aslan, tadi waktu Icha bertanya untuk memastikan apakah team sains SMA PERTIWI menginap dihotel tersebut apa tidak, mbak resepsionisnya menjawab "Iya." dan sik mbaknya juga memberitahu kalau rombongan SMA PERTIWI tengah keluar makan malam. Icha tahu dimana team sekolahnya menginap karna Lea yang memberitahunya.
Dua puluh menit kemudian, beberapa orang yang tidak asing terlihat memasuki pintu utama, Icha berdiri mencoba mencari diantara orang-orang tersebut apakah ada orang yang tengah ditunggunya, dan orang tersebut berjalan paling belakang, berjalan santai sambil memasukkan tangannya disaku hodi yang dia kenakan.
Demi melihat sosok laki-laki tersebut, keputusan yang telah mantap diambil oleh Icha seketika runtuh begitu saja.
"Gue gak bakalan bisa melakukan ini, gak akan bisa." rintihnya menyadari dirinya yang begitu lemah.
"Aslannn." teriak Icha yang membuat tidak hanya Aslan yang menoleh tapi hampir semua orang yang ada di lobi hotel tersebut menoleh ke sumber suara.
"Ichaa." desis Aslan antara percaya atau tidak kalau yang memanggilnya itu adalah Icha, sosok gadis yang dia rindukan beberapa hari belakangan ini.
Icha berlari menghampiri Aslan, udah persis kayak film India saja, tanpa mempedulikan orang yang berada disekelilingnya, Icha langsung menubrukkan tubuhnya memeluk Aslan, dia terisak sambil berulangkali mengatakan, "Aku kangen banget sama kamu."
Disaat Icha memeluknya dengan begitu erat, disitulah Aslan percaya kalau ternyata Icha benar-benar ada disini, ada dihotel tempat dia dan rombongan menginap, dia membalas memeluk Icha untuk menyalurkan rasa kangen yang telah membuncah.
__ADS_1
"Dia nyata, gue fikir cuma halusinasi gue karna terlalu merindukannya." Aslan membatin.
Melihat adegan yang kayak di drama-drama Korea tersebut, teman-teman Aslan yang tergabung dalam team sains SMA PERTIWI hanya menggeleng maklum, persahabatan Icha dan Aslan bukan menjadi sebuah rahasia sehingga hampir semua anak SMA PERTIWI mengetahui kalau mereka bersahabat, sehingga mereka berfikir, dua sahabat itu saling melepas rindu satu sama lain karna terbiasa bersama, dan menurut mereka, wajar saja dua insan itu berpelukan, pelukan layaknya sahabat,
mereka tidak tahu saja kalau status Aslan dan Icha kini berubah.
"Lan, kami duluan." tegur salah satu dari temannya yang dijawab hanya dengan anggukan oleh Aslan.
Dan rombongan itu kembali berjalan ke kamar masing-masing tanpa ada bisik-bisik tetangga, ya maklum saja, kebanyakan anak pinter lebih memilih tidak peduli dengan gosip-gosip karna orang pinter lebih peduli dengan ilmu pengetahuan.
Setelah beberapa saat, Aslan mengurai pelukannya, "Heii, kenapa nangis." tanya Aslan melihat Icha menghapus air matanya.
Icha berusaha mengelak, "Siapa yang nangis, orang cuma kelilipan doank."
"Ngaku aja kenapa sieh." dengus Aslan dalam hati.
"Mau jalan-jalan." ajak Aslan karna dihotel bukan tempat yang tepat untuk melepas rasa kangen, sekaligus Aslan ingin mengintrogasi Icha kenapa sampai Icha ada di Malang dan tahu-tahunya berada dihotel tempat dia menginap.
Icha mengangguk.
"Kamu sudah makan."
Icha menggeleng karna dia memang belum makan sejak tadi pagi karna galau, dan kini setelah bertemu dengan Aslan perutnya begitu terasa sangat lapar.
"Ya udah kita makan dulu." Aslan kembali menarik tangan Icha menuju pedagang kaki lima yang biasa mangkal dia dipinggir jalan dekat taman, karna Aslan sudah makan bersama dengan rombongannya, jadinya dia hanya menemani Icha saja dan memandang gadis tersebut sepuas-puasnya.
"Kenapa lihatin terus, aku cantik ya."
Aslan tersenyum dan menjawab, "Iya."
"Ihhh bohong."
"Iya memang cantik kok menurut aku, tahu deh menurut orang lain."
"Hmmm."
__ADS_1
Setelah selesai mengisi perut, Aslan kembali membawa Icha ketaman, meskipun malam hari, taman yang ada dipusat kota Malang itu cukup ramai dengan pasangan muda-mudi yang tengah pacaran.
"Duduk yuk, capek jalan terus." saran Aslan menunjuk kursi panjang yang terbuat dari kayu.
Icha hanya mengangguk menyetujui.
"Jadi." Aslan memulai begitu mereka sudah duduk.
"Kamu nyusulin aku kesini, kangen banget ya sampai datang nyusulin." tembak Aslan langsung pada intinya.
"Gak." jawab Icha jujur, dia memang kangen sama Aslan, tapi dia menyusul Aslan bukan karna saking kangennya, dia masih bisa kok mengontrol hati dan rasa rindunya, kalau kalian mau tahu, alasan Icha menyusul Aslan ke Malang adalah karna untuk memutuskan hubungannya dengan Aslan, keputusan ini di ambil setelah melalui perdebatan panjang dihatinya, dengan memikirkan dampaknya bagi orang-orang yang ada disekelilingnya, bahwa hubungan mereka akan menyakiti Lea dan Laskar, sehingga dengan mantap Icha memutuskan untuk menyusul Aslan dan akan mengakhiri hubungan mereka, tapi pada kenyataannya, begitu melihat Aslan, keputusannya itu runtuh begitu saja.
"Akhhh, padahal tadi aku sudah GR dan dan terharu ketika melihat kamu di hotel."
"Iya, memang aku kangen juga sieh." ujar Icha, dan dia memilih tidak mengatakan tujuan yang sebenarnya dia datang menyusul Aslan.
"Kamu baik-baik sajakan Cha selama aku di Malang." Aslan merubah topik.
"Gak, aku gak baik-baik saja, aku sakit, sakit hati."
"Sakit hati." ulang Aslan mengerutkan kening, difikir Icha sakit hati sama Laskar.
"Tentu saja aku sakit hati, kamu tiap hari menghubungi Lea, sedangkan aku, kamu sama sekali tidak pernah menghubungi aku, bahkan panggilanku tidak kamu jawab, pesan yang aku kirim tidak pernah kamu balas." Icha menumphkan rasa kesalnya.
Aslan meraih tangan Icha, "Apa kamu berfikir kalau aku tidak kangen sama kamu."
"Memang kamu gak kangen aku kan, makanya kamu tidak pernah menghubungi aku."
"Percayalah, aku selalu merindukanmu, bahkan lebih besar dari rasa rindumu ke aku."
Icha mendengarkan tanpa berniat membantah.
Aslan kembali melanjutkan, "Aku memang sengaja tidak menghubungimu, aku takut, kalau mendengar suaramu atau melihat wajahmu itu akan membuatku untuk langsung menemuimu, sementara disini aku harus menyelsaikan tugasku, aku hanya menanyakan kabarmu lewat Lea, dan itu lebih dari cukup membuatku lega, kalau kamu baik-baik saja." jelas Aslan.
***
__ADS_1