
Datang kerumah cepat.
Pesan masuk dari Aslan ketika Icha tengah merenggangkan otot-ototnya karna kecapean setelah bersih-bersih.
Gue gak kuat jalan, gue habis kerja rodi
Balasnya lebay.
Rugi kalau lo gak langsung datang, soalnya Mama dan papa dan juga kak Mario sudah balik, kalau lo gak segera datang, maka lo gak bakalan dapat oleh-oleh.
Demi mendengar kata oleh-oleh saja rasa capeknya langsung menguap, dan dia langsung berlari keluar menuju rumah Aslan yang tepat berada disebelah rumahnya.
"Mama, papa." teriaknya dengan suara melengking langsung berlari dan memeluk mama Dina mamanya Wijaya bersaudara.
Icha memang memanggil mama Dina dengan sebutan mama dan memanggil papa Ridho dengan papa, karna Icha sudah menganggap mereka sebagi orang tuanya, begitu juga mereka yang telah menganggap Icha adalah anak mereka sendiri, selain karna Icha adalah anak almarhum sahabat mereka, mereka juga menginginkan anak perempuan.
"Icha kangen mama." ujarnya memeluk mama Dina erat.
"Mama juga kangen sama Icha." mengelus rambut Icha.
Icha beralih memeluk papa Ridho yang menyambut pelukannya, "Papa sehatkan." tanyaya.
"Sehat donk sayang." sambil mengelus rambut keriting Icha dengan sayang.
Dan satu lagi yang harusnya mendapatkan pelukan dari Icha yaitu mario anak tertua dari keluarga Wijaya, dan kebetulan Mario baru keluar dari kamarnya dan sepertinya baru saja selesai mandi, dia berjalan kearah ruang tamu dimana semua keluarganya tengah berkumpul disana untuk bagi-bagi hadiah.
"Kak Mariooo, ." Icha menyongsong kedatangan Mario dan langsung memeluknya seperti yang dilakukannya pada mama Dina dan papa Ridho, "Icha kangen."
"Ya Tuhan Icha, kamu pasti belum mandi, main peluk-peluk segala lagi." protes Mario berusaha melepas pelukan Icha.
"Emang belum mandi, guekan baru selesai beres-beres rumah."
"Pantesan bau asem." masih berjuang melepas pelukan Icha yang super kuat, "Lepasin donk Cha, kakak baru selesai mandi, ntar kuman-kuman dibadan kamu pindah lagi kekulit kakak."
"Biarin aja, habisnya Icha kangen, kak Mariokan sudah dua minggu gak pulang."
"Kangen kak Mario atau oleh-oleh."
"Oleh-oleh donk yang utama, baru kemudian kak Mario." jawab Icha, "Mana oleh-olehnya kak."
"Lepasin dulu, mana bisa ngasih oleh-oleh kalau kamu nempel kayak prangko begini."
Icha melepaskan pelukannya, "Gue juga gak dapat pelukan nieh." tegur Gibran yang duduk disofa ruang tamu, Aslan juga ada disana, tadi Icha tidak memperhatikan saking hebohnya melepas rasa kangen.
"Ngapain gue harus meluk lo, najis."
"Pilih kasih banget, yang lain dipeluk gue gak."
"Sotoy lo." Aslan menoyor kepala Gibran sebagai jawaban dari kata-katanya.
"Adek durhaka lo, main toyor aja."
__ADS_1
"Sudah-sudah, ayok semuanya mending duduk dulu." perintah mama Dina pada Mario dan Icha yang masih berdiri.
Mereka semua duduk disofa, dimeja sudah terdapat beberapa paperbag, mama mulai membagikan paperbag tersebut.
"Nah, ini untuk kamu Gibran." Gibran menerimanya dengan suka cita.
"Isinya apa ma."
"Lihat saja sendiri."
"Nah, yang ini buat Icha dan Aslan." menyerahkan masing-masing paperbag yang sama besarnya pada Aslan dan Icha.
Gibran mengambil kotak kecil dari dari dalam paperbag yang diterimanya, dengan semangat membukanya.
"Ma, bukan barang couple lagikan yang mama belikan." Icha bertanya mengingat tiap tahun mama Dina dan papa Ridho selalu menghadiahkan Icha dan Aslan benda-benda kembar, ya mungkin mereka dianggap anak kembar kali.
Mama hanya mengulas senyum, dan itu lebih dari cukup sebagai jawaban iya.
"Yahhh." Icha mendesah kecewa.
Ternyata Gibran mendapatkan hadiah jam tangan, "Jam tangan lagi, perasaan mama setiap beliin oleh-oleh buat Gibran pasti jam tangan."
"Itu karna mama tahu lo orangnya gak disiplin, gak pernah menghargai waktu." tukas Aslan, "Tapi percuma saja ma dibeliin jam tangan, bukannya membuatnya berubah malah dijadiin pajangan dan aksesoris."
Gibran mendengus, bener yang dikatakan oleh Aslan, dia sudah memiliki banyak jam tangan, dan jam tangan itu hanya sebagai pajangan dan aksesoris pemanis saja ditangannya.
Icha mengeluarkan kotak persegi empat dari dalam paperbag, Icha dan Aslan saling melempar pandangan pada kotak masing-masing, dari kotaknya saja sama dan isinya juga pasti sama, dan benar saja, jelas mereka mendapat baju couple, Icha mendapatkan dress berlengan pendek dan selutut berwarna putih gading, dress itu begitu cantik dengan renda-renda dibagian lengannya, "Cantik sieh." gumam Icha dalam hati, "Tapi tetap saja bukan selera gue."
"Gimana, Cha, Aslan, kalian sukakan hadiahnya." mama Dina bertanya.
Aslan dan Icha menjawab bersamaan.
"Iya." jawaban Aslan.
"Gak." Icha.
"Lho, Icha kenapa gak suka, jelek ya dressnya, itu baju pasangan lho, sengaja mama dan papa beliin buat Icha dan Aslan."
"Cantik sieh ma, tapi Ichakan..." Icha tidak melanjutkan kalimatnya.
"Mama tahu sayang, kamu tidak terlalu suka barang-barang perempuan seperti itu, tapi suka tidak suka, kamu harus suka, karna kamu perempuan seutuhnya, dan kamu sudah dewasa sekarang, menurut mama kamu sudah saatnya berubah feminin dan anggun sesuai dengan kodrat kamu sebagai perempuan."
Jadi diceramahinkan Icha.
"Nah, tuh denger Cha, kalau penampilan lo berantakan terus mana ada yang mau sama lo, ada sieh satu orang yang mau sama lo yaitu..." Gibran tidak melanjutkan kalimatnya karna Aslan melotot kepadanya.
"Baju itu bagus kok Cha, bakalan cocok untuk kamu." komentar Aslan.
"Bohong banget sieh lo." ujar Icha gak percaya.
"Lo bener Cha, Aslan bohong hanya untuk membuat lo seneng, tuh baju kebagusan buat lo, malahan gak ada cocok-cocoknya lagi." ceplos Gibran, disaat semua orang berusaha meyakinkan Icha harusnya mulai merubah penampilannya, dia malah mengatakan yang sebaliknya.
__ADS_1
Sehingga semua orang memberi Gibran plototan supaya dia tutup mulut.
Sedangkan Icha yang duduk didekat Gibran menendang tulang kering Gibran, membuat Gibran kesakitan.
"Aww, Gadis ini gak bisa apa anggun sedikit."
"Rasain lo."
"Nah Icha." seru Mario buka suara, "Tuh baju harus kamu pakai ntar malam, kamu juga Aslan."
"Ntar malam, emang ada acara apaan ntar malam."
Papa Ridho yang menjawab, "Karna mama dan papa gak ada disini saat hari ulang tahun kalian, jadinya untuk menebusnya ntar malam kita akan makan malam diluar."
"Ide yang bagus, tapi bolehkan Icha gak pakai baju ini." pinta Icha, masalahnya, sejak SD dia gak pernah mengenakan baju cewek begini, pasti akan terasa aneh kalau dia mengenakan dress ini.
"Gak bisa Icha sayang, kamu harus pakai dress itu ya, mama bisa sedih lho kamu gak memakainya." timpal mama Dina.
"Apa boleh buat." ujarnya pasrah.
****
Icha berulangkali mematut dirinya dicermin, kadang memutar untuk melihat penampilannya, dan benar, dia merasa agak, bukan agak lagi, tapi aneh dalam balutan dress anggun itu, sangat bertolak belakang dengan karakternya yang tomboy.
"Mama ada-ada saja, udah tahu gue gak suka baju beginian malah dibeliin baju model beginian, harus berubah feminim, anggun, buat apa coba, toh meskipun cassing gue begini, tetapkan gue cewek tulen."
Sebenarnya bukan mama Dina saja, hampir semua yang menyayangi Icha selalu memberikannya barang-barang perempuan, mulai Lea, mamanya Lea, hal itu dilakukan dengan alasan kalau Icha berubah supaya Icha seperti perempuan-perempuan lainnya.
"Pasti gue bakalan diketawain, apa gue ganti saja kali ya." dia mempertimbangkan, "Tapi mama pasti kecewa, ntar difikir gue gak menghargai pemberiannya lagi, tapi gue kelihatan aneh banget."
Dan begitulah akhirnya, karna gak mau melihat mama Dina kecewa, dengan sangat terpaksa dia mengenakan dress tersebut yang dipadukan dengan sepatu pemberian Aslan, dan tanpa polesan make up sedikitpun dan hanya menguncir rambut keritingnya, dia hanya menyemprotkan farpum sedikit sebelum memutuskan untuk kerumah Aslan karna mereka akan berangkat lima belas menit lagi. Dan benar saja dugaannya, begitu dia berpapasan dengan Loli diruang tengah, Loli memandangnya dengan pandangan seolah-seolah dia melihat mahluk aneh dari luar angkasa, diperhatikannya penampilan Icha mulai dari bawah kemudian keatas sebelum tawanya meledak.
"Hahaha." mungkin penampilan Icha sudah mengalahkan lawakan Sule sampai Loli memegang perutnya segala.
"Apa sieh lo, lo fikir penampilan gue lucu." damprat Icha ingin melakban bibir Loli.
"Anjirrr, sumpah lucu banget." tukasnya mengiyakan kalimat Icha.
Mendengar suara tawa Loli yang bikin ribut, Lola tengah nonton sinetron diruang tengah menghampiri, niatnya sieh ingin mendampar Loli karna tawanya mengganggu, "Lol bisa gak lo..." Lola menelan kalimatnya karna mengetahui sumber tawa Loli, dan gak menunggu lama Lola ikutan bergabung tertawa.
"Anjirr, gue dijadiin bahan tertawaan lagi." Icha merutuk kesal.
"Bajunya sieh oke, oke banget malah, tapi yang makenya jauh dari kata oke, sehingga kelihatan seperti orang-orangan sawah." ledek Lola.
Icha berusaha mengabaikan ledekan kedua saudara tirinya, "Minggir lo." dia mendorong bahu Lola dan Loli yang memblokir jalannya membuat dua gadis itu terjatuh dilantai. Icha sieh mendorongnya dengan kekuatan biasa-biasa saja, namun dasar merekanya saja yang lembek.
"Upilll, sialan."
Icha menoleh kebelakang dan meledek, "Rasain lo, sakit ya, kasihan."
"Awas lo ya."
__ADS_1
****