
Icha yakin saat ini dirinya dan Laskar jadi pusat perhatian dan tontonan menarik, ya iyalah, jarang-jarangkan cowok nyatain perasaanya didepan banyak orang dan pakai bawa bunga beserta potnya lagi, bener-bener sesuatu hal yang langkakan, hanya Laskar dan Tuhanlah yang tahu apa makna dibalik bunga yang dibawa oleh Laskar untuk menyatakan perasaannya pada Icha.
Dan kenekatan Laskar menembaknya didepan banyak orang tentunya membuat Icha jengkel dan malu, dia gak habis fikir kenapa Laskar mempermalukannya didepan teman-teman kelas dan juga guru mereka dengan menyatakan perasaanya ditempat umum begini, tidak bisa apa dia menyatakan perasaan ditempat sepi saja.
Dan semua penghuni kelas termasuk bu Hamidah menunggu Icha untuk buka suara, gregetan juga mereka melihat Icha yang dari tadi bungkam, fikir mereka mungkin Icha gak bisa mengeluarkan satu hurufpun saking gak menyangkanya karna disukai oleh cowok ganteng seperti Laskar.
"Roman-romannya, Icha sepertinya bakalan nolak." tebak Rita.
"Kalau Icha menolak, fix kondisi kejiwaanya perlu dipertanyakan." timpal Lani
"Atau gak...."
"Atau gak apa."
"Atau gak Icha mencintai Lea."
"Jangan ngaco lo, gitu-gitu Icha normal kali."
Karna Icha tidak ada tanda-tandanya untuk buka suara hanya sekedar mengatakan "iya" atau "tidak" sehingga kebungkaman Icha mendorong Lea untuk menegur Icha, "Cha, jawab donk, kasihan Laskar capek banget berdiri nunggu jawaban lo."
Laskar masih berdiri didepan Icha masih dengan senyum dan harapan kalau perasaannya akan terbalas.
Icha berdiri, dan mulai bersuara, "Gue...."
"Terima terima terima." dari belakang terdengar suara teriakan dari Marhun dan tindakannya itu diikuti oleh teman-teman cowoknya yang lain yang turut meneriakkan kalimat "Terima." bisa dibilang itu sebagai bentuk dukungan mereka pada Laskar.
"Cha, apa lagi yang lo tunggu, tinggal bilang iya saja apa susahnya sieh, atau mau gue wakilin."
Sumpah Icha ingin melempar buku-buku paket tebalnya pada Marhun, tuh anak dari tadi heboh terus.
Bu Hamidah meletakkan jari telunjuknya dibibir sebagai sebuah kode meminta murid-muridnya untuk terdiam dan mendengar jawaban langsung dari Icha, karna dia sejujurnya juga penasaran.
Ketika semuanya sudah kembali tenang, Icha kembali melanjutkan kalimatnya yang tertunda, "Maafkan gue Laskar, gue gak bisa."
Laskar tahu Icha menolaknya, tapi dia berusaha positifthinking dengan mengatakan, "Kamu gak bisa nolakkan maksudnya." karna memang cewek suka begitu untuk mendramatis keadaan.
Icha menggeleng, "Gue gak bisa jadi pacar lo Laskar, kita lebih baik sebagai teman saja."
Ada yang mendesah lega mendengar jawaban Icha siapa lagi kalau bukan Aslan, kini dia bisa kembali berbalik menghadap depan dengan tenang setelah mendengar penolakan Icha.
Sementara yang lainnya menanggapi begini, "Yang benar saja dia menolak cowok setampan Laskar, dia fikir dia oke apa, syukur-syukur gadis dengan wajah standar seperti dia ada yang suka, sok jual mahal banget sieh." kalimat sadis Nana, tentunya dengan suara kecil.
"Yah baguslah sik upill itu sadar diri, kalau gadis jelek seperti dia gak pantas bersama Laskar." tanggapan Lola.
"Sayang." bisik Gita pada pacarnya sik Marhun, "Pulang sekolah sepertinya kita harus bawa Icha kerumah sakit jiwa deh."
__ADS_1
"Apa sieh beb, ngaco, emang Icha sakit jiwa harus dibawa kerumah sakit jiwa."
"Kalau tidak gila apa namanya, cowok sesempurna Laskar ditolak mentah-mentah begitu, aku saja kalau disuruh milih antara kamu dan Laskar jelaslah tanpa berfikir aku akan milih Laskar."
"Jahat banget sieh kamu beb."
"Bukannya jahat beb, tapi aku mencoba realistis saja, kamu tanya deh semua anak cewek dikelas kita pasti jawabannya sama kayak aku."
Marhun menarik nafas berat, "Semua cewek sama saja."
"Tidak bisakah Icha mempertimbangkan dulu, kenapa dia langsung menolak begini." batin Lea memandang Laskar dengan prihatin.
Sedangkan Laskar, dia memang kecewa, ini untuk pertama kalinya dia ditolak oleh seorang wanita, biasanya wanitalah yang selalu mengejar-ngejarnya, namun Laskar berhasil menyembunyikan rasa kecewanya dengan menyunggingkan senyum tipis.
Dia menyodorkan pot bunga yang dibawanya pada Icha, "Terimalah."
Icha memandangnya, "Terimalah bunga ini."
Untuk menghargai Laskar, Icha menerima bunga pemberian Laskar, "Maafin gue ya Laskar karna gak bisa membalas perasaan lo."
"Kamu gak perlu minta maaf Cha, karna aku telah bersumpah, bagaimanapun caranya aku akan menjadikan kamu sebagai pacarku." setelah mengucapkan kalimat itu Laskar berjalan kearah bangkunya dibelakang.
Dan kalimat Laskar tersebut mendapatkan tepuk tangan meriah dari temen-teman kelasnya yang menganggap bahwa Laskar adalah laki-laki sejati yang pantang menyerah memperjuangkan wanita yang dicintainya.
"Anjirrr ya, beruntung banget sik Icha dicintai dengan sedalam itu."
"Sesuatu yang berharga memang harus diperjuangkan kan." ujar Laskar.
****
Bel yang menandakan waktu istirahat berbunyi, biasanya penghuni kelas bakalan langsung pada ngacir ke kantin, tapi kali ini kebanyakan dari mereka, (Yang dimaksud disini adalah cewek-cewek.) pada menggerebungi Icha, kebanyakan ingin bertanya kenapa bisa Laskar cinta mati gitu sama Icha, dan kalau beruntung mereka bisa mendapatkan informasi dukun mana yang dipakai oleh Icha sehingga membuat Laskar sampai cinta sama dia.
"Cha, kok bisa sieh Laskar cinta sama lo." Nana memulai mewakili temannya yang lain.
"Ya bisalah, diakan cowok normal."
"Maksud gue, kok seleranya Laskar itu kayak lo." gregetan juga sik Nana, "Jangan-jangan lo pakai guna-guna lagi." tambah Nan bercanda.
"Maksud lo apa, gue jelek gitu maksud lo." Icha jadi panas.
"Gue gak bilang begitu ya Cha, lo sendiri yang ngatain diri lo jelek."
"Terus lo fikir lo cantik, wajah sebelas dua belas dengan gue pakai ngehina gue, tapi gue lebih beruntung karna gue disukai cowok secakep Laskar, ya lo, bahkan cowok terjelek di SMA PERTIWI pun tidak pernah terdengar nyukain lo." balas Icha telak dan langsung menerobos kerumunan temen-temannya yang mengerubunginya, "Minggir lo semua, kenapa lo pada jadi tembok berlin memblokir jalan gue." bentaknya, sebelum Icha keluar dari pintu dia berbalik dan berkata, "Dan satu lagi, gue gak pernah pakai guna-guna, gak level gue pakai cara musyrik begitu."
"Makanya Na, jaga tuh mulut, jangan asal ceplos saja." desis Lea sebelum menyusul Icha.
__ADS_1
"Cha." teriak Lea, "Tungguin gue donk." berlari untuk mengejar Icha.
"Lo mau kemana sieh."
"Ketempat yang sepi, gue malas dilihat-lihat kayak topeng monyet."
Lea terkekeh, "Tumben banget lo nanggepin hal beginian, biasanya juga lo gak peduli tuh."
"Gimana gue gak peduli, kalau mereka menganggap Laskar menyukai gue karna gue guna-guna, emang gue sebegitu jeleknya apa sampai mereka berfikiran gue menggunakan cara musyrik itu untuk menggaet cowok."
"Iya iya gue tahu, lagian gak perlu lo permasalahin jugakan sekarang, toh lo nolak Laskar, tapi Laskar bener-bener laki-laki sejati sumpah, dia gak bakalan nyerah untuk dapetin cinta lo, lo yang diperjuangin sedemikian rupa malah gue yang baper."
"Apa sieh lo Le, gak jelas."
"Kok gue yang gak jelas, lo lah Cha yang aneh, heran deh gue sama lo Cha, kok lo bisa-bisanya sieh nolak cowok se sweet Laskar, malah tampangnya oke lagi, gak malu-maluin dibawa ke kondangan."
"Karna gue udah nganggep dia seperti sahabat sendiri Le, jadi pasti akan terasa janggal kalau orang yang awalnya sebagai sahabat berubah menjadi pacar."
"Lo terlalu lebay Cha, banyak tuh yang awalnya bersahabat berubah menjadi pacar, bahkan ada yang sampai menikah, seperti Ayudia Bing Slamet dan Dipo latif, bahkan mereka bikin buku segala yang judulnya teman tapi menikah."
"Jangan samain gue sama mereka donk, kami beda dan gak akan pernah sama." tandas Icha kembali berjalan.
"Chaaaa, tungguin donk." Lea mengejar Icha, "Kamprett lo ya, main tinggal saja."
****
Apa yang terjadi diruang kelas IPS 5 dengan cepat menyebar diseantero sekolah, bahkan dikantin, hal tersebut menjadi topik hangat yang dibahas. Untuk pertama kalinya Icha merasakan malu dalam hidupnya, dia gak mau berada ditempat umum, sehingga dia lebih memilih bersembunyi diperpustakaan bersama Aslan, dan dia meminta Lea untuk membelikannya roti untuk mengganjal rasa laparnya karna dia malas pergi ke kantin.
"Neng Lea."
Mbak Dijah yang super kepo dan selalu up to date masalah gosip yang terjadi diseantero SMA PERTIWI berniat mengintrogasi Lea yang kini tengah membeli makanan ditempatnya.
"Benar tidak kalau neng Icha dan mas Laskar katanya baru saja jadian."
Lea heran, Icha kan nolak cinta Laskar, kenapa mbak Dijah malah menanyakan apakah mereka baru jadian atau tidak, "Mbak tahu dari mana."
"Masalah begituan sangat cepat menyebar neng, teman-teman neng Lea rame membicarakannya, lihat saja tuh." mbak Dijah mengedikkan dagunya pada anak-anak yang pada membicarakan Icha dan Laskar.
Icha melihat dan mendengar teman-teman kelasnya bercerita pada anak-anak kelas lainnya.
"Dasar tukang ghibah." desis Lea.
"Jadi apa itu benar neng."
"Udah deh mbak, mending mbak usah nanya-nanya hal begituan, mending mbak Dijah fokus saja jualan, gak usah ngajak-ngajakin Lea ghibah agar jualan mbak berkah." ujar Lea mengambil plastik berisi gorengan dan roti yang belinya pada mbak Dijah, dan setelah itu dia berlalu dari kantin untuk menemui Icha diperpus.
__ADS_1
"Neng Icha dan neng Lea sama saja, sama-sama gak bisa diajakin ghibah." lirih mbak Dijah memandang punggung Lea yang menjauh.
****