Cinderela Modern

Cinderela Modern
KEGALAUAN ASLAN


__ADS_3

"Berhenti berhenti." ujar Icha sembari menepuk pundak Laskar yang membuat Laskar reflek berhenti mendadak, hal tersebut membuat tubuh Icha terhempas kedepan.


"Awww." Icha menabok punggung Laskar, "Kebiasaan banget sieh lo mencari kesempatan." omelnya.


"Sorry, habisnya kamu sieh nyuruh berhentinya mendadak." Laskar membela diri, "Emangnya ada apa sieh."


Icha turun dari motor, "Tunggu sebentar ya." langsung berlari meninggalkan Laskar yang pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban.


"Chaaa, kamu mau ngapain sieh." teriak Laskar yang diabaikan oleh Icha yang terus berlari.


Laskar mendesah berat mengiringi kepergian Icha, "Gini amet punya pacar, belum apa-apa sudah ditinggalin."


****


"Hai pak." tegur Icha pada mang Surip yang tengah istirahat.


"Ehh, neng Icha, ada apa neng."


"Bunga yang kemarin mana."


"Bunga yang kemarin neng kasih buat mamang rawat itu."


Icha mengangguk, "Iya mang."


"Tuhhh." mang Surip menunjuk bunga mawar yang bunganya bermekaran indah.


Icha langsung menghampiri pot bunga tersebut dan mengambilnya, "Saya ambil lagi yah mang." tanpa persetujuan Icha langsung ngacir membawa bunga itu pergi.


"Neng Icha, kok diambil lagi sieh." teriak mang Surip, "Kalau gak niat ngasih jangan memberikan harapan palsu."


Icha melambaikan tangannya tanpa menoleh dan berkata, "Besok gue ganti dengan yang lain mang."


Sesampainya didekat Laskar.


"Itukan bunga yang gue kasih kemarinkan Cha." ujar Laskar melihat Icha membawa bunga.


"Iya, kemarin gue kasihin ke mang Surip untuk dirawat, tapi gue ambil lagi, gue ingin merawatnya."


Laskar tersenyum, ternyata Icha mengambil kembali bunga pemberiannya, kemarin ketika dia melihat Icha memberikan bunga itu pada mang Surip dia sempat merasa kecewa.

__ADS_1


"Ya udah yuk naik, ntar anak-anak marah lagi kalau kelamaan nunggin kita."


*****


Bukannya pulang, Aslan malah mengarahkan mobilnya ke arah sebuah gedung rumah sakit besar yang terletak ditengah kota, rumah sakit tersebut adalah milik keluarganya, keluarga Wijaya. Ketika tengah lagi suntuk atau banyak masalah begini biasanya Aslan memilih rumah sakit untuk menenangkan dirinya, lebih tepatnya sieh adalah roftop rumah sakit. Lift membawanya ke roftop rumah sakit, tempat tersebut begitu sangat nyaman dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang berhembus menerpa wajah datar Aslan, dari atas ketinggian seperti ini Aslan bisa melihat pemandangan kota Jakarta yang dipadati oleh pemukiman penduduk, jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan sedikit tidaknya bisa membuat hatinya sedikit terhibur.


Aslan memandang tangannya yang masih menggenggam balon yang diberikan oleh Icha, "Tanda cinta katanya." Aslan ternyum miring mengingat kata-kata Icha, "Buat apa dia ngasih gue tanda cinta beginian kalau cintanya diberikan untuk orang lain."


Yah begitulah penyebab betenya Aslan ternyata gara-gara jadiannya Icha dan Laskar, entah kenapa dia gak suka Icha pacaran dengan Laskar, apakah ini berarti Aslan cemburu, allahu'allam hanya Aslan dan Allah yang tahu.


Aslan menghembuskan nafas kasar, melepaskan pegangannya pada tali balon yang membuat balon itu terbang menjauh keudara, ketika matanya tengah mengikuti kepergian balon tersebut, ponselnya berdering dari saku kemejanya.


"Icha." gumamnya melihat siapa yang menelponnya.


Sebelum dia sempat bersuara terdengar suara ceria Icha dari seberang.


"Lannn, gue dan temen-temen ada dicafe nieh, lo mau gue bawain apa kalau gue pulang."


"Gak perlu, gue gak mau." tandas Aslan kasar dan langsung memutuskan sambungan begitu saja, dan dia langsung menon aktifkan ponselnya, moodnya yang sedikit membaik kini kembali memburuk mendengar suara bahagia Icha, "Siallllll." Aslan berteriak frustasi.


Cukup lama Aslan berada diroftop rumah sakit sebelum dia memutuskan untuk turun, bukannya langsung pulang dia terlebih dahulu mampir diruangan kakaknya mario yang juga bekerja dirumah sakit milik leluarga.


Namanya juga keluarga sendiri, tanpa mengetuk pintu, Aslan langsung saja main masuk.


"Hai kak." sapa Aslan tanpa semangat dan langsung duduk disofa panjang yang tersedia diruangan kakaknya.


"Lo ternyata, gue fikir suster genit itu lagi yang datang gangguin gue."


Aslan terkekeh, "Suster genit gangguin lo, astagaa, ada juga ya ternyata yang mau sama lo."


"Diam lo." Mario melempar polpen yang dipegangnya kearah Aslan yang langsung ditangkap oleh Aslan.


"Mau ngapain lo kemari."


Aslan menjawab asal, "Kangen."


Mario mendengus, dia bangun dari kursi kerjanya dan berjalan menuju kulkas mini yang terdapat diruangannya untuk mengambil minum, setelah mengambil dua botol air mineral berukuran tanggung dia berjalan kearah sofa dan memberikan salah satu botol air mineral itu kepada adiknya.


"Air putih aja nieh." sambil mengamati botol air mineral yang ada ditangannya.

__ADS_1


"Adanya cuma itu, lagian air putih lebih sehat dibandingkan dengan minuman bersoda." biasa Dokter, omongannya tidak jauh-jauh dari yang namanya kesehatan.


"Gue lagi gak mood minum air putih nieh, gue mau bir, wine...."


Belum sempat Aslan mengabsen deretan minuman beralkohol yang ingin dicicipnya, kepalanya lebih dulu kena geplak dari Mario, "Jangan aneh-aneh lo, lo mau disunat dua kali oleh bokap."


"Aneh gimana, lagian gue udah 18 tahun, udah cukup umur buat mencicipi minuman surga itu."


"Lhaa sik bocah, malah makin ngaur." tukas Mario belum bisa membaca kegalaun sang adik, "Mending lo minum air putih saja, biar otak lo makin encer dan bisa menjadi penerus mama dan papa, jangan kayak kakak lo yang satu itu tuh sik Gibran yang kerjaannya main game melulu, gak punya tujuan hidup."


Karna tidak ada tanggapan dari Aslan, membuat Mario kini memperhatikan adiknya, baru disadarinya wajah adiknya terlihat kusut seperti memiliki banyak beban fikiran, melihat wajah kusut Aslan, Mario bertanya, "Lo habis dari roftop."


Yang dijawab oleh Aslan hanya dengan anggukan, meskipun tadi Aslan protes karna disuguhkan air putih, toh akhirnya dia meneguknya juga.


18 tahun hidup bersama dengan Aslan, membuat Mario tahu luar dalam tentang adiknya, termasuk jika adiknya memiliki banyak beban fikiran dan masalah, dia tahu tempat yang dituju Aslan adalah roftop untuk membuat fikirannya tenang.


Meskipun sudah tahu jawabannya Mario kembali bertanya untuk memastikan, "Lo ada masalah."


Lagi-lagi pertanyaan Mario hanya dijawab dengan anggukan saja.


"Cerita sama gue, siapa tahu gue bisa bantu lo." meneguk air dibotol.


"Icha punya pacar." beritahu Aslan langsung pada intinya.


Air yang saat ini berada dimulut Mario tersembur begitu mendengar berita yang didengarnya, Aslan yang menjadi korban hujan lokal itu langsung ngomel, "Lo itu Dokter kak, masak iya merangkap jadi dukun juga." Aslan meraih tisu dimeja untuk membersihkan wajahnya akibat semburan tak terduga itu.


"Sorry sorry." Mario juga mengambil tisu untuk mengelap bibirnya, "Habisnya gue kaget mendengar berita yang lo sampaikan."


"Kaget sieh kaget, tapi kontrol juga tuh bibir lo, katanya mau ngasih solusi malah ngasih bencana." Aslan masih ngomel.


Namun Mario memilih mengabaikan omelan adiknya, dia malah mencecar Aslan tentang Icha, "Lo serius Icha punya pacar."


"Emang lo fikir gue kayak Gibran suka bercanda."


"Kok bisa."


"Ya bisalah, meski bar bar, diakan cewek normal juga, suka sama laki-laki."


"Maksud gue." Mario menekan kalimatnya supaya adiknya mengerti dengan apa yang akan dia katakan, "Kok bisa Icha pacaran dengan cowok lain, diakan dijodohin sama lo."

__ADS_1


"Kami sudah bikin kesepakatan, kalau kami gak mau nerima perjodohan ini, lebih tepatnya sieh Icha yang gak mau."


****


__ADS_2