
"Laskarrrr, kita mau kemana sieh sebenarnya." tanya Icha dengan cukup keras karna suaranya bersaing dengan angin.
"Kamu lihat aja ntar." tersenyum misterius.
Icha cembrut, karna sejak berangkat Laskar masih kukuh tidak memberitahunya kemana tujuan yang akan mereka tuju, sedangkan jarak yang mereka tempuh sudah lumayan jauh, bahkan Icha yakin mereka sudah keluar kota.
Tiga puluh menit kemudian, barulah Laskar menghentikan motornya, bau segar air laut menyambut indra penciuman Icha, "Laut." lirihnya memandang Laskar tak percaya, wajah Icha terlihat antusias.
Laskar tersenyum melihat Icha terlihat bersemangat, "Kamu suka."
Icha mengangguk sambil memandang indahnya pemandangan berwarna biru laut lepas yang membentang beberapa meter dari tempatnya berdiri, Icha sudah cukup lama tidak ke pantai, terakhir kali kepantai saat kelas IX SMP bersama dengan keluarga Aslan.
Meskipun hari minggu, tapi pengunjungnya tidak terlalu ramai.
"Akhhh." Icha mendesah, dia terlihat kecewa.
"Kenapa Cha."
"Lo kenapa gak bilang dari awal sieh kalau mau ngajakin gue ke pantai, tahu gitukan gue bawa baju ganti, guekan mau berenang."
"Astagaaa, aku kirain apa." Laskar memandang sekeliling dan melihat toko kecil yang menjual sovenir dan pakaian, "Tuhh, kita bisa beli disana." Laskar menunjuk toko yang berjarak beberapa meter dari tempatnya.
"Ahh ya benar juga."
****
Icha duduk dibawah pohon rindang sembari menikmati indahnya pantai dan hembusan angin yang menerbangkan rambut panjang keritingnya, kini dia sudah berganti dengan kaos berwarna putih bertuliskan I LOVE U BALI, Laskar juga mengenakan baju yang sama dengannya.
Icha memejamkan matanya meresapi hembusan angin yang menampar wajahnya, "Damainya." desahnya.
"Niehhh." Laskar yang baru tiba menaruh kelapa muda yang baru dibelinya dipangkuan Icha.
Icha membuka matanya, langsung memasukkan sedotan kebibirnya, "Panas-panas gini minum kelapa muda emang maknyus, seger bangettt."
Laskar mengeluarkan kamera yang selalu dibawanya ditas, "Foto yuk, sebagai kenang-kenangan." ajaknya
"Lo kok kayak cewek sieh, doyan foto-foto."
"Emang salah kalau cowok doyan foto."
"Gak sieh, tapi setahu gue Aslan tidak pernah mau tuh difoto, sedangkan lo, sedikit-dikit ngajak foto."
"Itu karna Aslan sadar diri, wajahnya yang datar itu bisa bikin kamera retak kalau difoto." cetus Laskar bercanda dan berhasil membuat Icha cekikikan.
"Bisa aja lo."
Setelah mengambil beberapa foto berdua, Laskar kemudian pamit sebentar, hanya satu menit dia kembali, tangannya membawa bunga liar berwana putih, tanpa persetujuan, Laskar menyematkan bunga tersebut ditelinga Icha.
"Apa yang...."
"Tuhkan cantik banget, anggun seperti gadis Bali pujinya."
__ADS_1
Icha bersemu malu, Laskar selalu mengatakan kalau dia cantik, dulunya sieh dia gak percaya, tapi sekarang Icha tahu kenapa Laskar mengatakannya cantik, itu karna tentu saja Laskar mencintainya, itu sebabnya Icha terlihat cantik dimata Laskar.
"Cekrekk." Dan tanpa persetujuan, Laskar mengabadikan momen ketika Icha menunduk malu karna pujiannya tersebut, Icha melotot, "Laskarrr, kebiasaan deh suka motret tiba-tiba."
Laskar mengabaikan protes Icha, dia malah tersenyun memandang hasil jepretannya, "Cantikkk."
Icha memukul lengan lengan Laskar manja, "Apaan sieh, malu tahu."
Aslan hanya terkekeh melihat tingkah pacarnya itu.
"Laskarr."
"Hmmm."
"Kamu masih inget gak, pas awal kamu masuk sebagai murid pindahan di SMA PERTIWI."
"Inget donk, itukan pertama kali aku lihat kamu dikelas, disaat semua anak-anak cewek mandangin aku dengan tatapan mupeng saking gantengnya aku, kamu malah cuek."
"Apaan siehh, narsisnya gak ilang-ilang."
"Ehh, gak tahunya sekarang gadis yang super cuek ini sekarang berstatus sebagai pacarku." tangan Laskar mencubit pipi Icha gemes.
Icha menepis tangan Laskar, "Sakittt." rengeknya manja.
Sesengguhnya, sekuat apapun cewek, semandiri apapun cewek pasti punya sisi manja jika bersama dengan laki-laki yang dia cintai, begitu juga dengan Icha.
"Bisa merasakan sakit juga ternyata, aku gak pernah nyangka wanita tangguh yang hobi tauran ini bisa kesakitan juga." ledek Laskar.
"Dan yang paling penting adalah meskipun jago bela diri, kamu tetap butuh perlindungan, dan aku yang akan selalu jadi tameng pelindung kamu."
Icha terharu membenarkan ucapan Laskar, dia memang pandai bela diri, dia bisa melindungi Lea, ataupun perempuan manapun jika mereka ditindas, tapi dirinya juga butuh perlindungan dari laki-laki yang dia cintai.
Icha mendekat dan memeluk Laskar, "Gue cinta lo."
Laskar melingkarkan tangannya dipinggang Icha, mencium puncak kepala Icha dan membalas ucapan Icha, "Aku juga."
"Aku boleh minta sesuatu."
"Gak." jawab Icha cepat.
Laskar mendengus, "Huhh, padahal belum juga disebutin mau minta apa, sudah langsung bilang gak aja tanpa berfikir."
"Gue sudah tahu apa yang lo pinta."
"Apa memangnya."
"Minta ciumkan."
Laskar menjawil hidung Icha gregetan, "Ngeres aja ya fikirannya."
"Emang lo mau minta apa."
__ADS_1
"Aku sieh pernah minta, tapi gak diturutin."
"Tuhhkan, pasti minta ciumkan." simpul Icha mendengar kalimat Laskar.
"Ke arah itu mulu nieh otak." menyentil kening Icha, "Denger dulu donk sampai selesai."
"Iya iya." Icha mengelus keningnya yang kena sentilan.
"Chaa, boleh gak, kamu manggilnya aku kamu, biar agak enakan gitu didengar."
Ini bukan sebuah permintaan yang berat sieh, tapi Icha pakai berfikir dulu beberapa saat sebelum mengatakan, "Iya deh, mulai sekarang gue, eh." Icha meralat, "Maksud aku, aku manggilnya aku kamu, karna kamu telah berbaik hati membawa aku ke pantai." Icha berujar dalam hati, "Duhhh, kok gue geli sendiri sieh denger gue ber aku kamu."
"Good girls."
"Lass."
"Ya."
"Selain peristiwa dikelas, lo, eh maksud aku, peristiwa apa lagi yang kamu inget ketika pertama masuk." Icha kembali ketopik awal.
Laskar terlihat berfikir sejenak, karna hal itu sudah terjadi beberapa bulan yang lalu, jadi dia agak lupa, maklum sieh bukan sesuatu yang penting juga untuk diinget, "Aku motret kamu diem-diem ketika kamu tengah main basket dibawah terik matahari."
"Aku inget, itukan foto pertama yang berada dilembar pertama di album foto yang isinya foto aku semua." ujar Icha mengingat album foto yang tidak sengaja dilihatnya dirumah Laskar sekaligus membuka kedok Laskar, waktu itu Icha gak percaya dengan pengakuan Laskar saking shocknya.
"Ya itu karna kamu spesial, makanya tuh album foto aku khususkan untuk memajang foto-foto kamu."
"Untung aku cinta, kalau gak udah aku tuntut karna ngambil foto aku diem-diem."
Laskar terkekeh mendengar ucapan Icha, dia kembali melanjutkan kalimatnya, "Dan kita sama-sama mendapatkan hukuman karna ketahuan tidur, dan diakhir cerita aku nganterin kamu pulang karna kamu terus merengek minta tumpangan."
"Ada satu hal lagi yang kamu lupain."
"Apa."
"Kamu gak inget, sewaktu kita tiba diparkiran, ban motor kamu bocor."
"Ohh iya itu." Laskar melupakan hal itu, "Aku heran siapa yang segitu gak sukanya sama aku sampai dihari pertama masuk ada yang ngebocorin ban motor aku."
"Laskarr itu sebenarnya..." Icha agak ragu juga sieh mengakui dosanya, "Itu sebenarnya aku ngebocorin ban motor kamu."
"Kamu." heran Laskar.
Icha mengangguk.
"Aku gak ngerti, coba jelaskan."
Icha kemudian menjelaskan secara rinci kenapa dia sampai tega mengempiskan ban motor Laskar, dia akhir cerita Laskar malah ngakak.
"Astagaaa, pacarku ini ternyata pendendam, masak gara-gara gak terima kekalahannya balapan dadakan sampai ngebocorin ban motor aku, gak suportif."
"Habisnya gimana, aku kan kesel disalip."
__ADS_1
*****