
"Cha, gue anterin lo ya." tawar Laskar.
Icha akan mengiyakan, tapi disaat bersamaan Aslan yang dari tadi menunggunya berjalan menghampirinya.
"Aslan." heran Icha, "Jangan bilang dia nungguin gue."
Aslan masih menggunakan seragamnya yang menandakan kalau seharian ini dia tidak pulang kerumah karna sibuk mencari keberapa tempat dimana keberadaan Icha saking khawatirnya dia, tanpa aba-aba Aslan langsung memeluk Icha, setelah begitu dirinya dibuat sangat khawatir, kini dia lega melihat Icha baik-baik saja, tidak sepenuhnya baik-baik saja sieh sebenarnya mengingat sebagian wajah Icha terdapat beberapa lebam.
Icha menepuk-nepuk punggung Aslan, "Gue baik-baik aja kok, makasih ya telah mengkhawatirkan gue." lirihnya, meskipun Aslan tidak mengatakannya Icha tahu Aslan mengkhawatirkannya, jadi terharu dia.
"Ekheem." deheman Laskar mengalihkan perhatian dua sahabat tersebut, Aslan melepaskan pelukannya, "Cha, karna udah ada Aslan, gue cabut ya."
Icha mengangguk, "Hati-hati Laskar, dan makasih juga atas tawarannya barusan."
Laskar memberi senyuman sebagai sebuah balasan, "Oke Cha, Lan, gue cabut duluan kalau gitu, kalau lo butuh bantuan atau ada apa-apa jangan sungkan untuk ngasih tahu gue." pesan Laskar.
"Iya, sekali lagi makasih ya Laskar."
Laskar kemudian berjalan menghampiri motornya dan menjalankannya.
"Cha, ayok balik." ajak Aslan yang diiyakan oleh Icha.
Aslan memang bukan orang yang bisa mengekpresikan kekakhawatirannya dengan kata-kata apalagi bersikap lebay, sehingga ketika mereka sudah duduk didalam mobil dan Aslan mulai menjalankan mobilnya, Aslan masih setia dengan kebungkamannya dan wajah datarnya.
"Kok diem aja sieh, gue fikir begitu dimobil dia akan menceramahi gue." batin Icha, "Padahal gue udah nyiapin kuping gue."
"Cha."
"Kayaknya bakalan dimulai nieh." batin Icha.
"Lo laper."
"Eh." Icha gak menyangka akan mendapatkan pertanyaan menguntungkan begitu, fikirnya Aslan akan mengeluarkan kata-kata mutiara penuh hikmah. Karna dia memang lapar, ralat, sangat laper, apalagi ini sudah malam dia mengiyakan pertanyaan Aslan, "Iya Lan, gue laper, lo mau traktir gue ya"
"Iya." Aslan menjawab singkat.
"Lo mau makan apa."
"Boleh request nieh."
"Hmmm."
"Lha, kesambet setan apa dia, kok tumben baik begini tanpa ngasih ceramah dahulu, tapi syukurinlah, ini namanya rizki nomplok" Icha membatin, namun kemudian dia mengabsen daftar makanan yang ingin dia makan, "Gue mau makan ketoprak, sate ayam, mi ayam."
"Kelaparan banget lo ya setelah tauran."
"Ya begitu deh, orang taurankan menghabiskan banyak tenaga buat gebukin orang."
"Dan digebukin juga." tambah Aslan melihat wajah Icha.
"Iya, hehe."
"Tapi sebelum itu, kita obatin dulu tuh luka lo."
"Gak perlu, besok juga sembuh sendiri, lagian juga gak sakit ini, saat ini yang paling penting adalah ngisi perut dulu." mengelus perutnya yang keroncongan.
"Gue tahu lo kebal Cha sampai gak kesakitan gitu, tapi obatin dulu luka lo, ntar infeksi lagi."
"Gak bakalan, percaya deh sama gue, mending kita cari makan aja sekarang." Icha ngotot.
Aslan pasrah dengan kekeraspalaan Icha, Icha selalu menyepelekan sesuatu.
Aslan menghentikan mobilnya didekat gerobak abang-abang pedagang pinggir jalan.
"Lo mau makan apa dulu nieh."
"Makan bakso kayaknya enak."
"Katanya tadi mau makan ketoprak, sate ayam, mi ayam."
"Hehehe, bakso juga ya Lan, boleh ya." rengeknya.
"Ya udah deh." Aslan memang tidak bisa mengatakan tidak pada Icha.
"Eh, tapi makan ketoprak dulu aja deh." ujar Icha plin plan.
"Plin plan banget sieh lo."
__ADS_1
"Namanya juga masih kecil."
"Kecil, kecil dilihat darimananya."
"Dari umurnyalah, guekan baru 17 tahun, jadi belum dewasa menurut negara kita."
"Bisa aja lo kalau ngejawab."
Setelah memesan dua porsi ketoprak dan mereka duduk dibangku yang tersedia sambil menunggu pesanan mereka dibuatkan.
"Bang, yang super pedes ya." reques Icha.
"Baik neng."
"Cha, jangan dibiasain makan yang pedes melulu, ntar usus buntu." peringat Aslan.
"Santai aja Lan, gak bakalan."
Gak lama kemudian abang ketoprak mengantarkan pesanan mereka.
Baru pada suapan pertama Icha mengaduh, "Awww."
"Kenapa Cha." panik Aslan yang menghentikan tangannya yang akan memasukkan suapan pertama.
"Perih Lan bibir gue." ya pantas perihlah, bibirnya Icha sobek begitu ditambah makannya pedes lagi.
"Udahlah gak usah ngeluh gitu, itu resiko lo ikut tauran gitu." ujar Aslan santai begitu mengetahui penyebab Icha mengaduh.
Icha langsung diem, kalau dia mengeluh lagi bisa-bisa Aslan ceramah lagi, sudah cukup dia mendengar ceramah Doni dan bu Dewi, akhirnya dengan menahan perih dia memakan ketopraknya.
****
Aslan kembali menjalankan mobilnya begitu mereka selesai mengisi perut.
Icha menguap berulangkali karna capek dan kekenyangan, Icha jadi mengantuk.
"Cha, kalau menguap begitu tutup mulut, berapa banyak setan yang masuk ke mulut kalau lo menguapnya kayak kuda nil begitu."
Gak ada respon dari Icha, Aslan menoleh kearah Icha, Aslan menggeleng karna melihat Icha sudah tertidur.
Tiba dirumah.
"Cha, bangun, udah sampai kita." Aslan mencoba membangunkan, namun gak ada reaksi.
"Cha, udah sampai kita ini." dengan suara yang lebih keras, tetap tak ada respon.
"Chaaa." Aslan gregetan, dia mengguncang bahu Icha, tapi tetap saja Icha tidur kayak orang mati.
"Emang dasar kebo."
Karna gak kunjung bangun, akhirnya dengan terpaksa Aslan menggendong Icha, "Aduhhh, berat banget." keluh Aslan, "Padahal badannya kecil, kok bisa seberat ini, mungkin keberatan dosa kali."
Aslan berjuang menggendong Icha kedalam, karna rumah Icha sudah gelap gulita, Aslan membawa Icha kerumahnya.
"Gibran, bukain pintu donk." teriak Aslan memanggil kakaknya.
Tuhkan, meskipun Aslan teriak sekencang itu, Icha masih saja tidak bangun.
"Gibrann, lagi apa sieh lo didalam, gue tahu lo belum tidur, jadi bukain pintunya, gue bawa beban berat nieh."
Aslan sieh punya kunci cadangan, tapi gak disaat kedua tangannya membawa beban berat begini mana bisa dimanfaatkan untuk membuka pintu.
Karna kesel gak ada respon dari Gibran, Aslan menendang pintu, dan alhasil tuh pintu terbuka, "Kebiasaan kalau dirumah tidak pernah kunci pintu, untung gue yang pulang, kalau maling yang masuk gimana." Aslan ngomel karna sifat kakaknya yang sembrono.
Aslan berjalan, tujuannya adalah lantai dua karna kamarnya ada disana, tiba-tiba Gibran muncul dari arah dapur.
"Anjirrr, lo apain anak orang." bentaknya
begitu melihat Aslan menggendong Icha.
Tak ayal hal tersebut membuat Aslan kaget karna kemunculan Gibran ditambah suara yang menggelegar ditengah malam buta begini, karna kaget Aslan tersandung oleh karpet yang membuat keseimbangannya oleng, hampir saja dia terjatuh, namun dia berhasil menjaga keseimbangannya kembali, sayangnya, Icha yang tengah berada dalam gendongannya terbangun, kaget karna berada dalam gendongan Aslan, Icha replek meloncat turun, dan yang terjadi berikutnya adalah jidatnya membentur dinding.
"Awww." dia melenguh sambil memegang jidatnya, "Sakit."
"Sini gue lihat." Aslan memeriksa jidat Icha.
Icha menepis tangan Aslan, "Lo mau ngapain gue, jangan coba macam-macam dengan gue."
__ADS_1
Aslan mendengus kasar, keselkan, udah ditolongin, malah dianggap punya niat buruk, "Siapa yang mau macem-macem sama lo, lo tuh yang kalau tidur kayak orang mati, gue bangunin lo gak bangun-bangun." jelas Aslan jengkel.
"Gitu ya, sorry deh kalau gitu."
"Ya ampun Icha, tuh wajah kenapa." tanya Gibran heboh begitu dia mendekat kearah Icha dan Aslan.
"Biasa, tauran dia." jawab Aslan berlalu menuju kamarnya.
"Tauran lagi, lo itu cewek Cha, tobatlah, kiamat udah dekat."
Icha sengaja menguap lebar, "Ngantuk kak, kalau kakak mau ceramah mending besok aja ya." Icha berjalan menyusul Aslan.
"Mau jadi apa dia kalau kerjaannya tauran melulu." cloteh Gibran mengiringi kepergian Icha, "Untung Lea cewek tulen, gak ketularan bar-bar kayak Icha."
****
Dikamar, Icha membuka lemari pakaian Aslan, tujuannya sieh ingin meminjam baju Aslan, tapi kalau dia suka banget sama tuh baju, bakalan diembat sama dia.
"Lan, jangan keluar, gue lagi ganti baju nieh." Icha memperingatkan karna saat ini Aslan tengah berada dikamar mandi.
Hanya terdengar jawaban "Hmm." dari dalam kamar mandi.
"Lo boleh keluar sekarang."
"Lan, gue suka sama baju lo yang ini, ini buat gue ya, ya Aslan ya, baju ini buat gue, baju lokan banyak." Icha langsung membrondong Aslan begitu Aslan keluar dari kamar mandi.
Aslan memperhatikan baju kaos berwarna hitam yang kini dikenakan oleh Icha, "Jangan yang itu Cha, gue suka banget sama tuh baju, lo pilih yang lain aja deh, lagian tuh baju kegedean di elo kan."
"Tapi gue suka yang ini Lan, ya Aslan, plisss, lo kan udah lama gak ngasih gue sesuatu." memang gitu deh Icha, suka merengek kalau udah ngebet banget sama sesuatu yang diinginkan, ya ngerengeknya cuma sama Aslan doank sieh.
Aslan menghela nafas berat, baju itu baru dibelinya dan hanya satu kali dikenakan, tapi ya begitulah, Aslan gak pernah kuasa menolak keinginan Icha, apalagi kalau Icha merengek yang membuktikan kalau Icha masih cewek tulen.
"Ya udah deh, gue ikhlasin tuh baju buat lo."
"Yesss." Icha berlari dan menubrukkan tubuhnya ke Aslan, "Makasih Aslan, meskipun muka lo datar, jarang senyum, wajahnya lebih sering asem, tapi lo tetap baik kayak dulu."
"Ya itu karna lo yatim piatu, kalau gue gak ngasih takutnya dosa lagi." canda Aslan.
"Isshhh." Icha memukul lengan Aslan.
"Udah tidur sana, biar besok lo ada tenaga menghadapi kemarahan ibu Dewi yang belum reda."
Icha membanting tubuhnya dikasur empuk Aslan, "Lo tidur dibawah ya."
"Hmmm." Aslan menggelar kasur lantai dibawah.
"Lan, lampunya jangan dimatiin." pintanya karna Icha takut gelap.
"Gue gak bisa tidur Cha kalau lampunya nyala, lo tenang saja, kamar gue gak ada hantunya, lagiankan gue ada disini sama lo."
"Ya udah deh."
Suasana diruangan itu gelap gulita setelah Aslan mematikan lampu.
"Lan." Icha memanggil, tapi gak ada sahutan, "Aslan, jawab gue donk, lo belum tidurkan."
"Apa sieh Cha, gue mau tidur nieh."
"Pegang tangan gue." dari atas tempat tidur Icha melambaikan tangannya kebawah dimana Aslan berada, "Gue takut soalnya, kalau lo pegang tangan guekan gue tau lo gak bakalan ninggalin gue."
Aslan meraih uluran tangan Icha, tangan itu terasa hangat dalam genggamannya.
"Aslan."
"Apalagi Cha."
"Kita baikan kan sekarang."
"Lo maunya gimana."
"Ya baikanlah, gak enak diem-dieman, gak dapat tumpangan gue."
Aslan terkekeh, "Iya, kita baikan Alissa Ramadhani, sekarang mending lo tidur deh."
"Oke boss."
*****
__ADS_1