
"Siapa yang datang Cha." tanya Aslan, namun pertanyaannya tidak memerlukan jawaban karna begitu melihat Aslan, Lea langsung menghampiri Aslan yang masih duduk dimeja makan.
"Aslannn." panggil Lea manja.
"Ishhh, lebay." gumam Icha kesel, apalagi dilihatnya Lea langsung nemplok dilengan Aslan.
"Panas, panas." Icha mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengipasi wajahnya yang terasa panas karna melihat adegan didepannya.
"Lea, kenapa lo pagi-pagi kemari." tanya Aslan tidak menyangka akan kedatangan Lea sepagi ini dirumahnya, "Akhh, gue jadi merasa bersalah sama Lea." batin Aslan mengingat dirinya kini berselingkuh dengan Icha, "Lea gadis yang baik, gak seharusnya gue nyakitin dia, tapi kalau mau jujur, sejak awal memang gue gak pernah suka sama dia." Aslan memandang Lea dengan rasa bersalah.
Lea malah menyalah artikan arti tatapan Aslan, "Aku cantik ya sampai kamu mandangnya sampai segitunya."
"Iya, lo cantik." jawab Aslan.
Lea jadi tersipu malu mendengar pujian Aslan.
"Aslan kenapa pakai muji-muji Lea sieh, bete deh." rutuk Icha dalam hati.
"Oh ya, kenapa lo datang sepagi ini." Aslan mengulangi pertanyaan pertamanya.
"Aku mau berangkat sekolah bereng kamu."
"Ohh." Aslan melirik ke arah Icha yang menahan rasa kesel melihat Lea yang nempel-nempel padanya.
"Lo udah sarapan belum Le." Icha bertanya, suaranya terdengar ketus, "Mengingat lo pagi banget datengnya, gue yakin lo belum sarapan." tebak Icha.
"Iya belum."
"Tadinya aku mau ngajak kamu sarapan bareng diwarung bubur ayam didekat sekolah itu Lan, tapi kamunya udah sarapan duluan." Lea terlihat kecewa karna niatnya sarapan bareng dengan sang kekasih batal karna Aslan sudah sarapan duluan.
"Lo lebih baik sarapan dulu deh, nieh masih ada sisa nasi goreng." timpal Icha.
"Boleh deh."
Icha menyodorkan sepiring nasi goreng dihadapan Lea, Lea malah menyodorkan piring nasi goreng tersebut dihadapan Aslan, "Suapin." rengek Lea manja.
Icha makin jengkel, sebelum Aslan sempat buka mulut, Icha mendahului, "Lo punya tangankan Le, makan sendiri sana, jangan manja, Aslankan kudu siap-siap."
"Kenapa sieh lo Cha, perasaan dari tadi lo ketus mulu deh sejak gue datang."
__ADS_1
"Masak sieh, gue biasa aja tuh." sanggah Icha tidak menyadari.
"Masak sieh, masak sieh." Lea mengulangi kalimat Icha dengan menirukan suara Icha, "Lo lagi PMS atau ada masalah sama Laskar, jangan limpahin ke gue donk kalau lo kesel sama Laskar".
"Ishh, gue biasa aja juga, lonya aja yang baperan." Icha membela diri.
"Sudah sudah, ini kenapa kalian jadi berdebat gini sieh." Aslan menengahi.
"Icha tuh." gumam Lea.
"Le, mending lo makan sekarang deh, ntar nasi gorengnya keburu dingin." perintah Aslan.
"Suapin donk Lan." Lea masih merengek manja.
Aslan mengelus puncak kepala Lea, "Gue harus siap-siap, ntar telat lagi, bisa-bisa kita kena hukum sama bu Dewi."
Dengan wajah cembrut Lea kembali menarik piring nasi goreng kehadapannya, "Ya udah kalau gitu."
****
Dua puluh menit kemudian, mereka sudah siap untuk berangkat, Icha yang hatinya panas membara melihat Lea yang nempel terus sama Aslan memutuskan untuk naik angkutan umum, daripada satu mobil malah akan tambah membuat dirinya terbakar api cemburu.
"Gue naik angkutan umum saja." cetus Icha dengan muka masam.
"Kenapa naik angkutan umum Cha, nieh mobilkan lebih dari muat untuk kita bertiga." ujar Aslan tidak setuju.
"Sik Aslan bodoh, mana mungkin gue kuat lihat lo dipeluk-peluk, bisa khilaf tangan gue ngejambak rambut Lea." dengus Icha dalam hati.
"Gue naik angkutan umum saja deh." jawab Icha ketus, "Lagian gue gak mau jadi pengganggu." Icha berkata begitu dengan wajah bete.
"Kalau Icha mau naik angkutan umum ya biarin aja Lan." sahut Lea tanpa beban.
"Tapi Cha..."
"Gue duluan." Icha berjalan pergi untuk kedepan gang untuk mencari angkutan umum.
"Chaa." panggil Aslan tidak rela membiarkan Icha pergi, sayangnya panggilannya diabaikan.
Aslan berniat untuk mengejar Icha, sayangnya lengannya ditahan oleh Lea, "Udahlah Lan, Icha maunya naik angkutan umum, gak usah dipaksa."
__ADS_1
Dalam hati Lea bersyukur, dia benar-benar berfikir Icha sahabat yang pengertian karna membiarkannya menikmati waktu berdua dengan Aslan.
****
Begitu tiba disekolah, karna kesel setengah hidup, Icha berjalan sambil merutuk sampai tidak memperhatikan jalan, sehingga tidak sadar dirinya hampir saja menabrak pohon peneduh, untungnya sebelum itu terjadi, sebuah tangan menjadi perisai pelindung untuk jidatnya yang hampir mencium batang pohon tersebut.
Icha mendongak, menemukan sebuah tangan yang memisahkan jidatnya dan batang pohon, dan pemilik tangan itu adalah Laskar yang memandangnya dengan pandangan sendu.
"Kalau jalan jangan sambil nunduk Cha, untung saja jidat lo gak sampai nyium tuh pohon."
Icha sedikit menjauh, "Hmm, iya makasih." Icha masih menghindari kontak mata dengan Laskar, dia masih kesal sama Laskar.
Seharusnya Icha gak perlu kesal juga mengingat mungkin bisa dibilang dia kini telah berselingkuh dengan Aslan.
"Cha, bisa gak lihat aku kalau ngomong."
Icha kemudian mengarahkan matanya ke arah Laskar, menatap manik mata Laskar yang terlihat sendu seperti tidak memiliki gairah hidup, melihat hal itu, terbersit rasa kasihan sekaligus rasa bersalah dihati Icha, "Gue gak seharusnya bersikap berlebihan kayak gini sama Laskar." batin Icha.
"Cha." Melihat Icha yang diam saja, Laskar memberanikan dirinya meraih tangan Icha, dan Laskar bersyukur karna Icha tidak melakukan penolakan, "Sumpah, aku gak ada apa-apa sama Diana." Laskar mulai menjelaskan, "Itu semua salah paham Cha, aku memang pergi sama Diana waktu itu, itu karna terpaksa Cha, aku gak tega sama mamanya yang tengah sakit, yang meminta aku untuk nemenin Diana jalan-jalan karna katanya Diana selama dua minggu menghabiskan waktunya nemenin mamanya dirumah sakit, tapi ternyata, kebaikanku disalah artikan oleh Diana." Laskar menjelaskan.
Icha terdiam, mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Laskar.
"Cha, kamu percayakan sama aku."
Icha mengangguk pelan, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Laskar tersenyum bahagia seperti mendapatkan semangat hidupnya kembali, Laskar meraih pinggang Icha dan memeluknya, "Makasih Cha."
"Ekhemm, ini sekolah woyy, bukan tempat untuk mesra-mesraan." suara Lea yang baru datang mengintrupsi kemesraan yang baru saja tercipta.
Dua remaja yang baru berbaikan tersebut langsung melepas pelukannya begitu mendengar suara Lea, mereka berdua jadi salting.
Icha melirik ke arah Aslan yang memberikan tatapan tajam pada Icha, Icha dengan berani membalas tatapan Aslan, "Kamu aja mesra-mesraan dengan Lea, masak aku juga gak boleh." itu kira-kira makna tatapan Icha.
"Jadi gara-gara masalah dengan Laskar penyebab lo sejak tadi bete, pakai gak mau ngaku segala lagi, tapi syukurlah lo berdua sudah baikan."
"Apaan sieh Le, gue biasa aja kali sejak tadi." Icha membantah.
Lea mengabaikan protes Icha, "Lo tahu gak Las, dari tadi Icha marah-marah mulu, sampai gue jadi korbannya diketusin mulu sama dia." adu Lea mengingat sikap Icha, ternyata Lea masih salah paham, difikirnya icha bete karna tengah ada masalah sama Laskar, tahunya kan karna dia yang manja-manja sama Aslan.
"Oh ya." respon Laskar, "Tapi sekarang kami udah baikan kok." Laskar merangkul lengan Icha.
__ADS_1
Aslan melotot tajam memandang tangan Laskar yang merangkul Icha, "Ingin gue patahin tangan itu." Aslan mengeram.
****