
Kalimat Icha tersebut membuat Aslan membuka matanya dan melirik Icha yang berada disampingnya yang saat ini tengah menatapnya menunggu respon dari Aslan atas kelancangan dirinya mengungkapkan rasa cintanya terhadap Aslan yang saat ini telah memiliki kekasih yaitu Lea sahabatnya sendiri.
Namun sedetik kemudian, Aslan malah tertawa karna menganggap apa yang dikatakan Icha barusan hanyalah sebuah lelucon.
"Icha Icha, bisa-bisanya lo bercanda disaat kita kena musibah seperti ini."
"Aslann, gue serius, gue suka sama lo." ucap Icha penuh keyakinan dan berhasil membungkam Aslan.
Dada Aslan bergemuruh mendengar pengakuan yang tiba-tiba keluar dari bibir Icha, otaknya terasa kosong, dia gak bisa berfikir jernih, dia gak tahu harus merespon bagaimana.
"Cha, mending lo masuk gieh ke dalam mobil, gak baik hujan-hujanann apalagi malam-malam begini."
Icha hanya diam mematung tidak mengindahkan perintah Aslan, yang dia inginkan adalah Aslan merespon ungkapan rasa sukanya yang baru saja dia akui, terlepas dari Aslan menerima atau tidak.
"Gue mau cari bengkel disekitar sini." dalihnya hanya untuk menjauhi Icha untuk sementara, pasalnya dia gak tahu harus bersikap terhadap Icha saat mengetahui perasaan Icha terhadapnya.
Aslan melangkahkan kakinya meninggalkan Icha yang masih mematung dibawah guyuran air hujan, dinginnya air hujan yang kini membasahi sekujur tubuhnya tidak lagi dirasakan.
"Aslannn." teriak Icha berlari menyusul Aslan dan memeluknya dari belakang, Aslan membeku merasakan tangan Icha melingkari perutnya.
"Gue suka sama lo, gue suka sama lo." lirih Icha berulang-ulang, Icha terisak karna rasa bersalahnya sama Lea dan Laskar, dua orang yang dia khianati.
Aslan perlahan melepas tangan Icha yang memeluknya, "Maafin gue Cha." ujar Aslan ambigu, entah apa arti maaf yang dia ucapkan.
Isakan Icha kini berubah menjadi tangisan, air matanya berbaur dengan derasnya air hujan, dadanya terasa sesak.
Aslan kembali melanjutkan langkahnya dengan perasaan kacau, ungkapan perasaan Icha yang tiba-tiba tersebut membuatnya shock, dia memang mencintai Icha, sangat mencintai malah, namun ketika melihat Icha bahagia dengan Laskar, dia dengan berbesar hati melepaskan dan merelakan Icha untuk Laskar, dan dia juga memutuskan untuk menerima Lea dalam hidupnya. Meskipun rasa itu tidak pernah hilang sampai sekarang, tapi kini ada dua hati yang harus mereka jaga, tidak mungkin bagi mereka untuk bersama. Aslan sendiri sangat kesal dengan Icha, bisa-bisanya dia mengungkapkan rasa sukanya disaat dirinya tengah bersama dengan Laskar, Aslan menyayangkan, kenapa baru sekarang Icha menyadari perasaannya disaat mereka berdua sama-sama memiliki kekasih.
Aslan menghentikan langkahnya, setelah perdebatan yang terjadi dibenaknya, rasa bersalah terhadap Lea terkikis oleh rasa cintanya terhadap Icha, dia menoleh ke belakang, disana, gadis yang sejak dulu dicintainya masih berdiri, tubuhnya gemetaran, tanpa menunggu lama, Aslan berlari dan langsung mendekap Icha dalam pelukannya.
"Aslan gue..."
"Shhhh, jangan banyak bicara oke."
Icha membalas pelukan Aslan, dua remaja itu berpelukan disaksikan oleh hujan yang sepertinya enggan berhenti, setelah beberapa saat, Aslan mengurai pelukannya, dia menatap mata Icha yang digenangi oleh cairan bening, perlahan Aslan mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Icha, karna tidak mendapat penolakan, Aslan semakin berani, dia memperdalam ciumannya yang kemudian dibalas oleh Icha, tidak perlu kata-kata, karna sebuah ciuman mampu mengungkapkan apa yang kini dirasakan oleh kedua insan tersebut.
****
Mereka tiba dirumah, kebetulan rumah Aslan sepi, karna kedua orang tuanya kini tengah menjenguk kakek dan neneknya dibandung, sedangkan Mario tengah melakukan seminar dimalang, dan Gibran, entah kemana cowok itu, mungkin menginap dirumah temannya.
__ADS_1
Aslan memberikan handuk dan baju ganti untuk Icha, dan menyuruh Icha membersihkan dirinya, Icha menggunakan kamar mandi dikamar Aslan sedangkan Aslan menggunakan kamar mandi yang ada diluar, setelah selesai membersihkan diri, Aslan kembali masuk, dia menemukan Icha duduk ditepi ranjang sambil meremas tangannya, terlihat sekali dia sangat gugup.
Aslan tersenyum tipis melihat tingkah Icha yang baru pertama kalinya dia lihat, "Tadi bilang suka, sekarang ngelirik aja malu." Aslan membatin, dia mendekati Icha yang terlihat salah tingkah.
Aslan duduk disamping Icha, Icha melirik Aslan dengan malu-malu, "Kamu mending tidur, udah malam." pesan Aslan, dia kini ber aku kamu.
"Ehh, iya." jawab Icha gugup.
Aslan meraih tangan Icha, menggenggamnya untuk memberikan rasa hangat ditangan sahabat yang kini berubah status menjadi kekasihnya, Aslan mengarahkan tangan Icha kebibirnya, perlakuan Aslan tersebut membuat Icha grogi dan panas dingin.
"Aslan, masalah Lea dan Laskar...."
"Tidurlah, besok kita fikirkan masalah itu."
"Baiklah." masih tidak berani memandang Aslan.
Sekali lagi, Aslan mencium tangan Icha, dia berdiri dan mencium kening Icha.
"Jantung gue, jantung gue rasanya mau copot." Icha reflek memegang dadanya.
"Selamat malam sayang."
Bibir Icha terasa kelu sehingga dia hanya menjawab dengan angguka.
"Mau kemana." pertanyaan Icha menghentikan Aslan.
"Aku mau tidur dikamar tamu."
"Ehh, gak tidur disini."
Aslan tersenyum tipis dan menanggapi, "Kita tidak mungkin lagi tidur dikamar yang sama, bahaya."
Icha mengangguk mengerti, kini gak mungkin lagi bagi mereka tidur dalam satu kamar lagi mengingat sekarang ada perasaan yang turut hadir diantara mereka berdua, bisa-bisa setan membisikkan hal-hal yang tidak-tidak yang bisa membuat mereka kebablasan.
****
"Selamat pagi." sapa Icha melihat Aslan berjalan menghampirinya didapur yang saat ini tengah berkutat membuat sarapan.
"Pagi." balas Aslan duduk dimeja makan, matanya tidak lepas memperhatikan sang kekasih yang begitu lihai memasak, meskipun tomboy dan berandalan Icha pintar memasak, ya jelas saja, itu pengaruh dari ibu tirinya yang menjadikan Icha sebagai gadis serba bisa sejak kecil.
__ADS_1
Suasana hening tercipta, hanya suara Icha yang mengaduk nasi goreng diwajan yang terdengar, sikap Icha berubah 180 derajat setelah dia mengungkapkan perasaannya, tidak seperti Icha yang ceplas ceplos yang tidak pernah habis bahan obrolan, dia kini menjadi agak pemalu.
Icha kemudian menuangkan nasi goreng dipiring dan membawanya kemeja makan.
"Mmmm." Aslan memejamkan matanya menghirup wanginya aroma nasi goreng yang kini ada dihadapannya, "Pasti enak." sambil mengarahkan sendok ke bibirnya.
Icha tersenyum melihat tingkah Aslan.
"Kalau mama yang bikin emang enak rasanya, tapi kalau kekasih yang bikin rasanya dua kali tambah enak." gombal Aslan.
"Gombal." balas Icha bersemu.
"Aaaa." Aslan mengarahkan sendoknya ke mulut Icha, Icha membuka bibirnya menerima suapan dari Aslan.
"Suapin aku juga donk, akukan ingin disuapin pacar aku."
Icha menuruti keinginan Aslan, mereka berakhir suap-suapan.
Pagi itu terasa indah bagi mereka berdua.
Ting tong
Suara bel mengganggu aktifitas sarapan romantis mereka.
"Siapa yang pagi-pagi datang." gumam Aslan.
"Biar aku lihat." Icha berdiri untuk mengecek siapa yang datang.
Orang itu ternyata adalah Lea, Lea yang tadinya terus tersenyum mengerutkan keningnya begitu melihat Icha yang menyambutnya bukannya Aslan.
"Cha, kok lo disini, lo tidur dikamar Aslan ya." pertanyaan itu lolos begitu saja, Lea memang tahu kadang Icha tidur dikamar Aslan, Icha sendiri yang cerita, dulunya sieh dia gak peduli, tapi kok sekarang dia merasa tidak suka melihat Icha tidur dikamar sang kekasih.
"Iya, gue tidur dikamar Aslan." jawab Icha jujur.
"Lo kok pagi-pagi datang kesini Le." Icha balik nanya.
"Iya soalnya gue ingin berangkat bareng sama pacar gue."
Jlebb.
__ADS_1
Ucapan Lea seketika menyadarkan Icha bahwa Aslan pacarnya Lea, dan dia tidak seharusnya menyukai Aslan dan menjalin hubungan terlarang dibelakang Lea.
****