Cinderela Modern

Cinderela Modern
MENJELASKAN SEMUANYA PADA LASKAR


__ADS_3

Icha kembali ke kamarnya, menyambar tasnya dan berjalan terburu-buru.


"Mau kemana." tanya Aslan saat berpapasan dengan Icha dikoridor saat dirinya berniat menyusul Icha.


"Aku mau balik." jawab Icha terus berjalan melewati Aslan.


Aslan meraih tangan Icha untuk menahannya, "Jangan pulang sekarang, sudah hampir malam, bahaya, besok pagi aku antar."


Icha berusaha melepaskan cengkraman tangan Aslan, "Lepasin Aslan aku mau balik sekarang." Icha ngotot.


"Aku bilang besok ya besok, jangan jadi ngeyel begini deh Cha." bentak Aslan, dia sudah banyak fikirin saat ini, ditambah Icha yang ngotot ingin pulang akan menambah beban fikirannya saja kalau dia membiarkan Icha balik sendiri ke Jakarta.


Icha berhenti berontak, dia mulai terisak karna rasa bersalah yang begitu besar pada Lea, "Tapi aku harus nemenin Lea Lan, aku mau minta maaf sama dia, dia pasti saat ini tengah hancur."


"Kamu sadar gak sieh, yang saat ini Lea butuhkan adalah jauh-jauh dari kita Cha, karna melihat salah satu dari kita hanya akan membuatnya bertambah sakit hati."


Icha membenarkan ucapan Aslan, "Kamu benar Lan, mungkin saat kita adalah orang yang paling dia benci."


Aslan menarik Icha dan merengkuhnya untuk memberi ketenangan pada Icha yang saat ini tengah merasa bersalah, Aslan juga tentunya merasa bersalah juga, tapi mau bagaimana lagi, mereka harus memberitahu kebenarannya sama Leakan.


"Semuanya akan baik-baik saja." ujar Aslan untuk membuat Icha tenang.


Icha mengangguk dalam pelukan Aslan, dia benar-benar berharap besok semuanya akan baik-baik saja seperti semula, Aslan kemudian menuntun Icha ke kamar, Icha butuh istirahat.


"Lan."


"Apa."


"Jangan pergi." pinta Icha.


Aslan tersenyum tipis, "Tidurlah, aku akan menemanimu sampai kamu tertidur." Aslan menggenggam tangan Icha.


Icha mengangguk, beberapa saat kemudian, dengan membawa rasa bersalahnya, dia terlelap ke alam mimpi.


Melihat Icha sudah terbang ke alam mimpi, Aslan dengan pelan melepaskan tangan Icha yang menggenggam tanganya cukup kuat.


"Selamat tidur Cha, mimpi indah." Aslan kemudian mencium kening Icha sebelum keluar dari kamar hotel yang ditempati oleh Icha.


***


Paginya, dengan menggunakan peswat penerbangan pagi Aslan mengantarkan Icha kembali ke Jakarta, dan dia langsung kembali karna dia juga harus berada diMalang karna kompetisi belum berakhir.


Icha masih sempat pergi ke sekolah, dia ingin bertemu dengan Lea dan menjelaskan semuanya.


Ketika dia sampai disekolah ternyata Lea belum datang, Icha berulangkali melirik ke arah pintu berharap dia bisa melihat Lea, dan ternyata sampai bel berdering sekalipun Lea belum juga nampak batang hidungnya, Icha sudah berulangkali menelpon Lea tapi nomer Lea tidak aktif.

__ADS_1


Laskar kemudian masuk, melihat Icha terus memandang pintu, membuat Laskar tersenyum jail, dia menghampiri Icha.


"Nungguin aku ya." godanya mengedipkan matanya.


Icha tersenyum miris menanggapi ucapan Laskar, dia merasa bersalah sama Laskar, orang yang juga hatinya disakiti oleh Icha.


Laskar mengelus puncak kepala Icha, "Uhh, kangennya aku karna gak ketemu kamu selama dua hari, pulang sekolah jalan yuk."


Icha fikir, setelah Lea tahu tentang hubungan gelapnya dengan Aslan, Laskar juga harus tahu, dan dengan Laskar mengajaknya jalan berdua akan dia gunakan untuk menjelaskan semuanya sama Laskar, makanya Icha langsung mengiyakan ajakan Laskar, "Boleh."


Laskar tersenyum, dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Icha, Laskar mengarahkan matanya ke bangku Lea yang masih kosong, "Lea belum datang Cha."


Icha menggeleng.


"Tumben banget tuh anak belum datang, udah bel lho ini, gak seperti biasanya."


Kedatangan guru di jam pertama membuat Laskar pamit ke bangkunya dibelakang.


****


Pulang sekolah, seperti yang telah direncanakan, Laskar dan Icha akan pergi jalan-jalan, Laskar terlihat begitu antusias, sedangkan Icha terlihat sedih, sejak tadi dia terus merangkai kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya sama Laskar, melihat kegembiraan yang terpancar diwajah Laskar membuat rasa bersalah Icha semakin besar, dia begitu sangat jahat menghancurkan dua hati sekaligus, sempat berniat mengurungkan niatnya, tapi dia meyakinkan dirinya kalau semuanya harus dia selsaikan sekarang.


"Las."


"Bisa gak kita pergi ke tempat yang suasananya tenang." ujar Icha, karna mengakui dosa butuh tempat yang kondusif.


"Oke, aku tahu tempat yang asyik dan juga tenang untuk muda-mudi kayak kita."


"Sekarang ayok naik nona."


Icha mengikuti perintah Laskar.


30 menit kemudian, Laskar menghentikan motornya didepan sebuah cafe yang tidak terlalu besar, namun terlihat nyaman, pengunjung cafe tersebut tidak terlalu ramai hanya beberapa orang saja, Icha memilih tempat yang agak jauh agar pengakuan dosanya tidak sampai didengar oleh pengunjung cafe lainnya, Laskar hanya mengikuti langkah Icha di belakang, mereka kemudian dihampiri oleh pelayan cafe untuk menanyakan pesanan mereka, setelah memesan sang pelayan kembali, suasana canggung tercipta diantara mereka berdua.


"Kok jadi canggung gini sieh Cha, kayak orang yang baru saling kenal saja, ngobrol donk, jangan diem saja, kamu seperti bukan Icha yang aku kenal saja." Laskar mencoba mencairkan suasana.


Icha hanya tersenyum hambar menanggapi kalimat Laskar, karna saat ini dia tengah mempersiapkan dirinya untuk mengungkapkan fakta yang dia dan Aslan sembunyikan.


Gak lama makanan dan minuman yang mereka pesan datang, Icha langsung meminum jus melon yang dipesannya banyak-banyak untuk menenangkan hatinya yang deg-degan.


Laskar yang sejak tadi merasa aneh dengan sikap Icha akhirnya mengungkapkan keheranannya dalam bentuk pertanyaan, "Cha, kamu kenapa sieh sebenarnya, sejak di sekolah tingkah kamu aneh gitu."


Dan Icha gak berniat menjawab pertanyaan Laskar tersebut karna apa yang akan dia sampaikan nantinya akan dengan sendirinya memberitahu kenapa sikapnya aneh.


"Las." Icha memulai.

__ADS_1


Laskar memusatkan perhatiannya sepenuhnya pada Icha mendengar nada suara Icha yang terdengar serius.


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."


Laskar tidak mengintrupsi, dia lebih memilih mendengar apa yang akan Icha katakan selanjutnya.


"Aku dan Aslan saling mencintai." Icha menatap Laskar untuk mengetahui reaksi Laskar.


Satu detik, dua detik, tiga detik, dan kemudian, "Hahaha." Laskar tertawa ngakak, dia sampai memegang perutnya, tentunya dia beranggapan itu cuma lelucon garing, "Icha, Icha, kamu itu bukan pelawak, jadi jangan sok jadi pelawak gitu."


"Aku gak bercanda Laskar, aku serius." ungkap Icha sungguh-sungguh.


Laskar langsung menghentikan tawanya, "Jangan bercanda Cha." ujarnya meskipun dia tahu Icha tidak sedang bercanda.


"Aku gak bercanda Las, aku dan Aslan saling mencintai." Icha kemudian menunduk, tidak sanggup dia memandang mata Laskar yang terlihat terluka atas pengakuannya, "Maafin aku Las, maafin aku karna telah menghianati kamu, maafin aku karna aku baru menyadari kalau aku tidak pernah mencintai kamu." kini Icha pasrah menerima apapun reaksi Laskar.


Tidak Laskar tidak seperti laki-laki kebanyakan yang akan membanting barang yang ada disekitarnya atau berteriak marah-marah setelah mendengar pengakuan penghianatan kekasihnya, Laskar cendrung tenang meskipun jelas dia sangat terluka, "Lea sudah tahu." tanyaya berusaha tenang.


Masih menunduk, Icha mengangguk, "Maafin aku Las, maafin aku." Icha terus melafalkan kata-kata maaf.


"Stop minta maaf Cha, karna seribu kalipun kamu meminta maaf itu tidak bisa membuat hati yang telah kalian hancurkan akan kembali seperti semula."


Icha menangis dalam diem mengakui kebenaran ucapan Laskar.


"Ya Tuhan, kenapa hal ini terjadi lagi sama aku, aku fikir telah menemukan wanita yang tepat."


"Kenapa kamu tega melakukan ini kepada kami Cha." maksudnya kami adalah dirinya dan Lea.


"Maafin aku Las, sumpah aku merasa sangat bersalah."


"Hah." Laskar mendengus kasar, "Merasa bersalah tapi kamu dan Aslan tetap menyakiti kami dibelakang."


Karna tahu dirinya bersalah yang Icha lakukan hanya diam.


"Aku gak kebayang bagaimana sakitnya Lea dikhianati oleh orang yang dia sayang, apa gara-gara ini Lea gak masuk."


Icha mengangguk.


Laskar meraih tas dan jaketnya, "Kita balik sekarang Cha, aku anterin pulang." dan setelah mengatakan kalimat tersebut dia langsung pergi, Laskar tidak tahan berlama-lama didekat Icha karna itu hanya akan membuat hatinya sakit.


Kurang baik apa coba Laskar, udah disakitin, tapi masih berbaik hati mengantarkan Icha pulang, bener-bener cowok langka dan bertanggung jawab.


Icha mengikuti dibelakang, meskipun sebenarnya dia ingin menolak keinginan Laskar untuk mengantarnya karna merasa tidak enak, tapi tidak dia lakukan mendengar nada suara Laskar yang tidak ingin dibantah.


****

__ADS_1


__ADS_2