
Ditengah teriknya sinar matahari, Icha bersama dengan temen-temen cowoknya yang tergabung dalam geng elit sekolah fokus bermain basket yang terbagi menjadi dua team, teamnya Ari dan teamnya Icha, dan yang namanya anak-anak badung permainannya sarat dengan kecurangan, senggol sana senggol sini, injak sana injak sini, tapi mereka oke oke saja tuh, menurut mereka gak curang gak seru.
"Cuxx tangkep." teriak Icha sambil melempar bola berwarna oren itu kearah Acux yang merupakan teman satu teamnya.
Sayangnya Acux yang berbadan tambun itu terjatuh ketika bola yang dilempar Icha bukannya ditangkap malah kena perutnya, sehingga bola diambil alih Aceng yang merupakan team lawan dan dengan berlari dan melempar bola itu ke ring yang masuk dengan mulus.
"Yesss." Aceng mengepalkan tinjunya ke udara.
"Udah pasti lo gak bakalan menang lawan team kami." ledek Aceng.
"Jangan sombong dulu lo, baru saja beda poin kita cuma lima lo udah mengklaim team gue bakalan kalah." balas Icha.
"Woee, bantuin gue napa." teriak Acux yang sepertinya tidak bisa mengangkat tubuhnya yang tambun.
"Hahaha." Aceng tertawa, "Bisa dipastikan lo gak bakalan menang, apalagi teman seteam lo kuda nil yang larinya kayak kura-kura begitu begitu."
Icha mendengus kasar, dalam hati membenarkan ucapan Aceng.
"Markunahhh, jerapahhh." Acux kembali berteriak karna tidak ada tanda-tanda bakalan ada yang menolongnya untuk berdiri, "Bantuin gue begok, lo malah pada sibuk ngobrol."
"Tuuhhh bantuin sahabat lo yang kelebihan lemak itu." Aceng mengedikkan dagunya ke arah Acux.
Icha berjalan kearah Acux dan mengulurkan tangannya untuk membantu Acux berdiri, "Dasarr pemalas, gitu aja gak bisa berdiri sendiri, bikin repot aja." rutuk Icha.
"Ini salah lo Markunah, lempar bola kenceng banget sampai gue jatuh, kalau gue kenapa-napa emang lo mau tanggung jawab."
"Lebayy, orang gue lemparnya pelan, lonya aja yang dasar banci."
Icha berusaha menarik Acux, "Duhhh, lo berat banget sieh, lemak semua tuh badan."
"Jangan ngehin donk Cha." balas Acux gak terima dikatakan badannya lemak semua setelah berhasil berdiri.
"Siapa yang menghina, orang lo gendut, makanya sering-sering olahraga untuk membakar kelebihan lemak ditubuh lo." saran Icha.
"Teruss biar gue kurus gitu kayak Aceng yang seperti orang kekurangan gizi gitu, ya gaklah yaww, mending gue tetap kayak gini enak dipeluk, hangat."
"Sotoyy lo."
Pandangan Icha kemudian terarah pada Ari yang tidak jauh dari mereka.
"Ndutt, tumben tuh bos lo nongol ditempat umum begini, biasanya dia lebih senang ngapelin Markunah dibelakang sekolah." Icha mengedikkan dagunya ke arah Ari yang tengah mengikat tali sepatu.
Acux mengangkat bahunya, "Mana gue tahu, bosan kali dia pacaran dengan mahluk astral."
Kalimat yang dilontarkan oleh Acux tersebut sontak membuat Icha dan Acux tertawa ngakak, mungkin sadar dia jadi objek tawa kedua sahabatnya itu sehingga Ari memberi plototan tajam ke arah mereka yang membuat kedua remaja berbeda jenis kelamin tersebut langsung menghentikan tawanya.
"Jangan tertawa begok kalau mau nyawa selamat." Acux memperingatkan, karna kalau gak, nyawa mereka bakalan jadi taruhannya karna berani mentertawakan bos mafia.
__ADS_1
"Lo yang mancing gue tertawa begok."
Ari mendekati mereka.
"Ari kemari, pasti dia mau menanyakan apa yang kita tertawakan, sepertinya dia tahu kita tengah menggibahkannya."
"Kalau dia nanya apa yang kita tertawakan, bilang aja kalau kita mentertawakan pak Salim yang mirip penjahat India itu mencoba menari k pop."
Namun ternyata Ari tidak menganggap penting apa yang mereka tertawakan, buktinya yang dia katakan adalah, "Gue haus, beli minum giehh Cux." perintahnya.
"Siap, perintah dilaksanakan." sambil pose hormat.
"Biar Lea aja yang gue suruh beli Ri." Icha menunjuk Lea yang duduk di kursi semen dekat lapangan, dia ternyata masih setia menunggu Icha disana.
"Le." Icha berteriak untuk menarik perhatian Lea.
"Apa."
"Tolong beliin minum donk."
"Sekalian sama gorengan dan camilannya donk." Acux mereques.
"Ada yang lain lagi gak."
"Ada yang lain lagi gak Ri."
"Lo gila, mana ada rokok dikantin, itukan barang haram menurut undang-undang sekolah."
"Lo gak tahu saja kalau pak Ucip penjual mi ayam adalah penyuplai rahasia rokok kami."
"Astagaa, parah banget memang lo Ri." Icha jelas baru tahu akan hal ini, "Tapi ya gak mungkin juga Lea kita suruh beli rokok, ntar kalau ada anak yang lihat dia bisa kena masalah sama bu Dewi."
"Ya udah deh, suruh beli air mineral saja."
"Le,Itu saja oke."
Lea mengangguk dan berlalu dari lapangan.
"Ayankkk Leaaa, lo jangan lupa gorengan pesanan gue oke." Acux berteriak.
"Lo jangan banyak makan gorengan Cux, tuh badan udah gembrot ntar tambah gembrot lagi."
"Yeelah kalau gue gak makan bisa mati gue."
"Lebay lo, lagian gak makan satu bulan kayaknya lo bakalan baik-baik saja melihat kondisi badan lo yang subur gemah ripah loh jinaweh."
Disaat seperti itu Laskar muncul dengan memakai pakain biasa, ya maklum sieh soalnya hari ini dia gak masuk, dia izin katanya sakit, sakit apaan, dia terlihat sehat wal'afiat begitu tidak terlihat tanda-tandanya seperti orang sakit, dan kenapa tiba-tiba dia ada disekolah, gak takut dihukum apa dia, kalau hal ini tidak cukup mengherankan, ditangannya membawa banyak balon berwarna warni dengan satu bentuk yaitu berbentuk hati dengan tulisan "I LOVE U"
__ADS_1
Laskar berjalan dengan penuh rasa percaya diri mendekat dimana Icha and genk tengah berdiri.
"Laskar tuh." Ari yang melihat kedatangan Laskar memberitahu.
Semua langsung melihat ke arah pandangan Ari.
"Mau ngapain tuh anak." lirih Ari melihat kedatangan Laskar yang membawa balon.
"Ada yang ulang tahun kali bos, dia pakai bawa berlusin-lusin balon gitu." simpul Aceng.
"Siapa yang ulang tahun, lo Cha, perasaan ulang tahun lo udah lewat."
Icha membatin, "Jangan bilang dia mau nembak gue lagi, ya Tuhann, jangan sampai dia melakukan hal konyol lagi didepan umum begini, gue sudah cukup malu ditembak didepan kelas." Icha jelas panik sehingga tidak heran dia bilang begini, "Eh, gue cabut dulu deh, gue ada perlu." bohongnya.
Namun ketika dia memutar tubuhnya untuk berbalik pergi Ari menggamit lengannya, "Mau kemana lo."
"Gue ada urusan penting Ri, gue harus pergi."
"Urusan penting lo bisa menunggu." masih tidak melepaskan gamitannya dilengan Icha.
"Riii lepasin."
Ari tidak melepaskan gamitannya sampai Laskar tiba dihadapan mereka, "Makasih Ri atas bantuan lo."
Ari hanya mengangguk, dia kemudian melepaskan gamitannya dilengan Icha.
"Lo mau apa bawa balon segala." Aceng bertanya.
"Lo bisa baca tulisan yang ada disetiap balon yang gue bawakan." Laskar memberi jawaban.
"I LOVE U." Aceng membaca kalimat itu dengan suara keras dan dia mengerti.
Dan suasana yang tadinya hiruk pikuk kini sunyi senyap seolah memberi Laskar kesempatan untuk mengungkapkan isi hatinya untuk kedua kalinya.
"Cha." Laskar memulai, "Perasaanku masih sama, tidak berubah, sekarang dan selamanya, dan aku harap kali ini kamu membuka hati mu untukku."
"Ohhh astagaaa." Icha yang ditembak malah sik Acux yang baper, dia sampai membekap bibirnya, sebulir air mata merembas dari kelopak matanya.
"Icha yang ditembak kenapa lo malah baper." bisik Aceng.
"Anjirr gue terharu, ternyata ada yang mencintai Markunah kita dengan sepenuh hati."
"Lebayy lo."
"Kalau lo terima aku sebagai pacar kamu, terima balon ini dan genggamlah dengan erat, dan jika kamu menolak aku, maka lepaskan balon ini ke udara biar dia terbang bersama tiupan angin."
"Terima terima terima." Ari yang pertama kali meneriakkan kalimat tersebut yang kemudian diikuti oleh temen-temannya yang lain.
__ADS_1
*****