Cinderela Modern

Cinderela Modern
INGIN PINTAR MAKANYA BELAJAR


__ADS_3

"Cha, lo udah baikan sama Aslan." tanya Lea dalam perjalanan menuju ruang BP karna tadi dilihatnya Aslan menyapa Icha.


"Iya."


"Gue seneng dengernya, gue jadi gak dilema gitu antara milih sahabat dan gebetan."


"Lagak lo, guekan gak pernah larang lo suka sama Aslan meskipun gue sama dia lagi marahan."


"Iya juga sieh."


"Cha."


"Hmmm."


"Kak Gibran kok perhatian gitu ya sama gue, nanyain kabar gue, nanyain apa gue udah makan apa belum, dan nanyain hal-hal yang gak penting gitu deh Cha."


"Suka kali sama lo." Icha menjawab sesuai fakta, ya, dia ingin saja memberitahu kebenaran tersebut, fikir Icha kalau Lea tahu Gibran suka sama dia, Lea bakalan berpindah hati menyukai Gibran, pasalnya, Icha juga malas gitu tiap saat dichat Gibran yang menceritakan kegalaun hatinya, kayak Icha gak punya kerjaan saja.


Namun karna Icha menjawabnya santai gitu, Lea fikir Icha cuma menggodanya, makanya dijawab begini.


"Kak Gibran, suka sama gue, hahaha." Lea tertawa, seolah hal tersebut sebuah lelucon, "Ya gak mungkinlah."


"Nieh anak, hatinya udah ketutup sama Aslan, Aslan, dan Aslan, sampai rasa suka yang ditampakkan kak Gibran sejelas itu gak bisa dilihat." heran Icha dalam hati.


"Apanya yang gak mungkin Le, kak Gibran cowok, lo cewek, jadi wajarlah kak Gibran suka sama lo."


"Udah ah, gak usah bahas itu lagi, pokoknya gue yakin kak Gibran gak suka sama gue, lagiankan gue sukanya sama adeknya, gue yakin kak Gibran perhatian gitu sama gue karna tahu gue suka sama Aslan, makanya dia baik sama gue karna dia udah nganggep gue sebagai calon adek iparnya."


Icha malas berdebat dengan Lea, memang ya kalau udah cinta buta, susah buat buka mata untuk orang yang jelas-jelas ngasih perhatian.


"Suka-suka lo deh." ujar Icha pasrah.


Dalam perjalanan keruang BP, Icha dan Lea berpapasan dengan Laskar yang sepertinya telah mengantar walinya keruangan bu Dewi.


"Pagi Cha, Le." sapanya.


"Pagi Laskar." Lea menjawab.


Sementara Icha cuma memberi anggukan untuk menjawab sapaan Laskar.


Penampilan Laskar tidak lebih baik dari penampilan Icha, wajah gantengnya juga dibeberapa tempat dihiasi lebam.


"Jangan bilang Laskar juga ikut tauran kemarin." tanya Lea memperhatikan wajah Laskar.


"Iyalah ikut, diakan juga anggota geng, masak yang lainnya pada sibuk dia gak." Icha menjawab.

__ADS_1


"Duh Laskar, kenapa ikut-ikut geng biang rusuh begitu sieh, sayang bangetkan muka cakepnya jadi lebam-lebam begitu."


Laskar terkekeh, "Tapi seru Le, bener gak Cha."


"Iya bener seru." Icha menyokong, "Lo mana tahu keseruannya dimana, yang lo tahu hanya baca novel perjodohan gitu diaplikasi novel online sambil senyum-senyum gak jelas."


"Heran deh, saling gebuk begitu kok kalian bilang seru, lebih asyik baca novel kali bikin baper."


"Ya susah sieh ngomong sama orang yang beda alam." gumam Icha


"Anjirr, lo fikir gue mahluk astral apa."


Laskar cekikikan mendengar kalimat Icha.


"Lo dari ruangan bu Dewi ya." Icha mengalihkan topik.


"Iya, nganterin mama gue, sebenarnya sieh dia sibuk, tapi dia mau meluangkan waktu buat datang kesekolah." Laskar menjelaskan tanpa diminta, "Lo sendiri mau keruang bu Dewi."


"Iya, nganterin mama tiri...." Icha menghentikan kalimatnya begitu melihat kalau mama tirinya tidak ada dibelakangnya, "Astaga naga, di mana mama rubah itu." Karna Icha jalannya kecepatan, dia jadi gak tahu kalau mama tirinya ketinggalan jauh dibelakang, apalagi Dea memakai sepatu super tinggi yang membuat jalannya lambat.


"Kayaknya tante rubah ketinggalan Cha dibelakang."


Icha dan Lea, dan Laskar mengikuti berlari kembali mencari mama tiri Icha.


****


Bu Dewi berurusan dengan para wali dari siswanya yang membuat onar, sedangkan para murid mengikuti kegiatan pembelajaran seperti biasanya. Pelajaran pertama dikelas XI IPS 5 adalah matematika, seperti biasanya pak Taofik masuk tepat waktu, biasa, dimana-mana guru matematika terkenal paling rajin dan disiplin, dan satu lagi, kebanyakan guru matimatika killer, sudah mata pelajarannya sulit, ditambah gurunya kiler yang merupakan kombinasi yang pas membuat mahluk bernama murid tertekan, bagi yang bodoh sieh, bagi yang pinter sieh fine-fine saja.


Begitu melihat bayangan guru kiler itu, anak-anak kelas XI Ips 5 langsung pada ngibrit kebangku masing-masing, mereka tidak ingin pak Top punya alasan untuk memarahi mereka, karna pak Top orangnya baperan, dikit-dikit marah, persis kayak cewek PMS.


"Kuatkan iman dan mental lo pada, pak Top sepertinya dalam suasana hati yang buruk." Marhun memperingatkan temen-temennya sebelum pak Top masuk kelas.


"Astagaa, kenapa lagi guru satu itu, kebiasaan banget deh dia, masalah dirumah dilimpiasin ke kita." Nana mengeluh.


"Pokoknya, jangan banyak bicara, bicara jika ditanya saja."


Semuanya mengangguk menyetujui.


Bener saja yang dikatakan oleh Marhun, baru masuk saja raut wajahnya sudah ingin nelan orang saja, alasannya tidak lain karna peristiwa tauran kemarin yang melibatkan anak didiknya, hal tersebut tentu saja membuat nama sekolah tercoreng, pasalnya berita kemarin masuk berita utama dikoran.


"Alissa Ramadhani, Laskar." tegurnya, "Bagus ya, kalian salah dua murid yang membuat nama sekolah terkenal, sampai terpampang diberita utama." kalimatnya penuh penekanan.


Biasanya Icha suka menjawab, tapi kali ini, dia cukup sadar untuk tidak menjawab, dia hanya menunduk, Laskar juga sama.


"Baiklah, imbas dari kelakuan dua teman kalian ini saya akan mengadakan ulangan sekarang, masukkan buku catatan dan buku paket, yang ada cuma kertas dan polpen diatas meja."

__ADS_1


Wah, ini bener-bener kejutan, tapi seharusnya anak-anak itu belajar dari pengalaman, karna tanpa atau tidak adanya tauran kemarin, pak Top sering mengadakan ulangan dadakan.


"Yahhh, bapak, masak Icha dan Laskar yang bikin ulah, kami juga yang kena getahnya." jelas yang lain gak terima.


"Benar itu pak, seharusnya mereka saja yang dikasih ulangan."


"Tutup mulut, saya tidak mau mendengar protes, bagi saya, satu yang makan nangka semua kena getahnya."


"Gak adil banget." protes Gita, tentunya dengan suara kecil.


Ketika temen-temen kelasnya pada protes, tidak begitu dengan Aslan yang anteng ayem seolah dia sudah siap tempur, memang sudah siap, karna tiap malam Aslan kerjaannya belajar terus.


Karna percuma protes, mereka menerima dengan terpaksa.


Baru saja soal dituliskan, anak-anak itu pada protes.


"Anjirr, kenapa tuh soal susah banget sieh, bikin frustasi saja."


"Lihat soalnya saja gue pusing apalagi harus ngerjain." gumam Icha memijit keningnya, "Le, lo harus bantuin gue titik." bisiknya.


"Kalau gue bisa."


Karna pak Top berjalan mengelilingi tuh ruang kelas, jadi gak ada kesempatan buat anak-anak itu untuk bisik-bisik meminta jawaban, dimenit ke 30 pertolongan itu datang dalam wujud pak Tirmizi yang tiba-tiba datang karna ada urusan dengan pak Top, terlihat jelas dari raut wajahnya, pak Top sangat berat meninggalkan murid-muridnya, tapi mau bagaimana lagi, pak Tirmizi memanggilnya karna urusan penting.


"Selama saya pergi, jangan berani-beraninya kalian berbuat curang." pak Top memberi peringatan.


"Perintah siap dilaksanakan." koor mereka, padahalkan mereka sudah punya rencana curang.


Ya begitulah yang terjadi, memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya, mulai deh grasak grusuk pada mencari jawaban.


"Cha, minta jawaban sama Aslan donk, lokan udah baikan." ujar Lea.


"Oke." Icha kemudian menulis disebuah kertas, meremasnya sehingga membentuk bulatan lalu melemparnya sehingga mengenai punggung Aslan.


Merasa ada seseorang yang melempar sesuatu, Aslan menoleh kebelakang, dengan bahasa isyarat Icha menunjuk lantai meminta Aslan memungut kertas yang tadi dilemparnya.


Aslan memungut bulatan kertas tersebut, dan membukanya, isinya adalah, Aslan, bantuin donk, plissss. itu yang ditulis Icha.


"Yess, berhasil Le." antusias Icha dan Lea bertos ria begitu melihat Aslan menulis sesuatu dikertas, menurut Icha dan Lea mungkin Aslan tengah menulis jawaban untuk mereka.


Gak lama, Aslan kembali melempar bulatan kertas yang sudah ditulisinya, dengan menaruh harapan, Icha membuka kertas tersebut, senyum lebar Icha dan Lea langsung lenyap begitu membaca apa yang ditulis Aslan dengan huruf kapital, "INGIN PINTAR, MAKANYA BELAJAR."


"Aslan menyebalkan."Icha jengke ingin nelan Aslan hidup-hidup.


****

__ADS_1


__ADS_2