Cinderela Modern

Cinderela Modern
JADIAN


__ADS_3

"Woee cepatan pada datang ke lapangan, kalau lo gak mau ketinggalan tontonan menarik sepanjang sejarah." salah satu siswa mengumumkan apa yang terjadi dilapangan dengan heboh dikantin sekolah.


"Emang ada apaan dilapangan."


"Lihat ajalah langsung ke TKP, ntar kalau gue bilang malah gak surprise lagi."


"Ada apaan sieh dilapangan, perasaan cuma geng anak-anak badung itu yang pada main basket, masak itu yang dikatakan tontonan menarik sepanjang sejarah sieh, lebay amet." komen Lea yang kebetulan juga tengah berada dikantin untuk membeli pesanan Icha and genk.


"Apaan sih tuah anak, gak jelas banget." gumam Athena kembali melanjutkan makannya.


"Iya ganggu aja, lagian memang ada apaan dilapangan, gak mungkinkan BTS tiba-tiba datang kesekolah kita dan konser." Andin menimpali.


Kiara menyahut, "Lagian siapa juga yang cukup bodoh membuat acara dilapangan disaat panas yang bisa membuat kulit gosong."


Dan kenyataannya anak-anak yang pada tengah mengisi perut dikantin tidak menggubris tuh pengumuman dari anak barusan, buktinya mereka pada anteng ayem mengisi perut mereka, yah mungkin fikir mereka sama dengan Kiara, mana ada orang yang cukup bodoh membuat tontonan menarik ditengah panas yang terik begini. Sampai ketika mbak Dijah salah satu pedagang dikantin langsung berlari setelah melayani pembeli terakhirnya, ya kemana lagi kalau bukan ke lapangan, dia kan manusia dengan tingkat keingintahuan yang tinggi dimuka bumi, seperti efek domino, para siswa dan siswi yang tadinya tidak peduli kini juga ikut-ikutan berlari nyusul mbak Dijah menuju lapangan, termasuk juga Athena dan juga Andin dan Kiara, sedangkan Lea sieh memang mau kembali kelapangan kan.


"Kenapa kita ikut-ikutan kelapangan sieh." Andin bertanya heran.


"Yah karna mbak Dijah pergi kelapangan."


"Kalau tuh anak sampai bohong gue cari dia sampai ketemu gue kasih pelajaran."


****


Disaat semua para siswa memberi dukungan pada Laskar dengan meneriakkan kata terima, para siswi yang ada disana malah iri melihat adegan yang bisa dibilang romantis, romantis karna Laskar menyatakan perasaan didepan umum, sesuatu hal yang saat ini sangat jarang dilakukan oleh mahluk bernama cowok mengingat potensi tidak terima yang berakhir dengan menanggung rasa malu seumur hidup, kebanyakan cowok sekarang sieh milih cara aman dengan nembaknya lewat chat, karna kalau ditolak hanya sakit hati yang diderita gak mesti nanggung malu.


"Apa sieh yang dilihat Laskar dari Icha sampai Laskar ngebet banget sama dia, heran gue, meskipun gue gak cantik tapi lebih mending gue kali daripada Icha, benar gak." Salah satu cewek bertanya pada temannya, dan dengan pandangan iri ketengah lapangan dimana adegan pernyataan perasaan tengah berlangsung sakral.


Jawab temennya yang ditanya, "Udah diem ah, lo ganggu konsentrasi gue aja, gue lagi fokus nieh nunggu jawaban Icha."


Lea yang baru datang dengan membawa pesanan Icha and genk tentu saja heran melihat lapangan yang bertambah rame dari sebelum dia pergi kekantin, hampir setengah isi sekolah ada disana dan sepertinya tengah menyaksikan sesuatu yang menarik ditengah lapangan, "Bener kata tuh cowok ternyata."

__ADS_1


"Permisi, permisi." Lea berusaha menerobos kerumanan untuk melihat peristiwa apa yang terjadi, dan begitu berhasil mencapai depan, Lea tercengang melihat apa yang disaksikannya, " Laskar, Icha, sejak kapan Laskar datang, diakan gak masuk sekolah hari ini." Lea melihat keudara dimana berlusin lusin balon yang diikat dengan tali khusus bergoyang-goyang di udara, "I LOVE U." Lea membaca tulisan yang ada disalah satu balon, "Jangan bilang Laskar nembak Icha lagi."


"Emang Laskar nembak Icha." sahut salah satu anak yang mendengar kalimat Icha.


"Wahh, Laskar bener-bener laki-laki sejati, kalau Icha nolak Laskar kali ini dia benar-benar sakit jiwa." batinnya, Lea berharap Icha menerima Laskar kali ini.


Athena and genk juga karna penasaran berusaha keras menerobos kerumanan untuk mengetahui apa yang tengah terjadi.


Athena ngomel-ngomel ditengah usahanya menerobos kerumunan, "Ihhh anjirrr, apa sieh yang terjadi sampai seisi sekolah pindah ke lapangan gini, masak beneran BTS nyangkut kesekolah."


Dan begitu berhasil tiba didepan.


Penglihatan mereka sehat wal'afiat tanpa perlu bantuan kacamata, mereka bisa melihat dengan jelas siapa yang menjadi titik perhatian semua yang ada dilapangan, tapi mereka tetap saja bertanya pada salah seorang yang ada di sana, "Heh, apa yang terjadi, kenapa semuanya merhatiin Laskar dan gadis jelek itu." Kiara bertanya pada salah satu anak yang ada didekatnya.


"Laskar, dia nembak Icha."


Kompakan mereka bertiga kaget dengan mengatakan, "Whaattt."


*****


Icha tetap cewek tulen meskipun tampilannya tomboy, sehingga melihat bagaimana perjuangan Laskar untuk mendapatkannya sedikit tidaknya meluluhkan hatinya.


"Chaaa, terima, apalagi yang lo tunggu coba." Aceng berteriak.


Dalam hati Icha berdebat, "Terima gak ya terima gak ya."


"Elahh sik Markunah pakai sok mikir-mikir segala lagi, udah lapar banget gue." Acux mengelus perutnya yang membuncit.


"Apa hubungannya lo laper dengan Icha nerima Laskar." Aceng bertanya heran, karna nieh anak setiap saat omongannya tidak pernah jauh dari masalah perut.


"Ya jelas adalah, kalau Icha nerima Laskar, alamat kenyanglah gue, karna gue bakalan nodong Laskar meminta pajak jadian."

__ADS_1


"Makan aja difikiran elo, gak heran badan lo melar."


"Biarin aja, emang kayak lo kurus kayak jerapah." timpal Acux gak mau kalah.


Kembali ke tokoh utama, dimana Laskar menunggu dengan harap-harap cemas jawaban Icha, dia gak mau lagi ditolak untuk kedua kalinya.


"Cha, kamu maukan jadi pacarku." Laskar mengulangi pertanyaannya.


Setelah berdebat yang cukup panjang didalam hatinya, agak ragu tapi akhirnya dengan bahasa tubuh Icha memberi jawaban untuk pertanyaan Laskar, Icha mengangguk dan tersenyum tipis, tangannya kemudian mengambil alih balon yang ada ditangan Laskar dan memegangnya erat.


Anggukan Icha tidak membuat Laskar langsung mengambil kesimpulan kalau Icha menerima cintanya, menurutnya balon itulah jadi penentunya, sehingga selama satu menit, Laskar menunggu dengan penuh rasa cemas apakah Icha akan tetap menggenggam balon itu atau melepaskannya yang berarti dia kembali ditolak, dan karna Icha tidak ada tanda-tanda akan melepaskan balon tersebut yang mendorong Laskar bertanya, "Apa ini berarti aku diterima."


Icha menunduk sesaat, dan kembali menengadahkan wajahnya menatap bola mata coklat tua milik Laskar, Icha bisa melihat dari sorot mata itu terpencar rasa cinta yang tulus dari Laskar, dan dengan mantap dia menjawab, "Iya, gue mau jadi pacar lo."


Laskar menampar pipinya, "Sakit, berarti gue gak mimpi."


Icha terkekeh melihat kelakuan Laskar, "Lo gak mimpi Laskar."


"Beneran aku diterima, kamu beneran mau jadi pacarku."


Icha mengangguk, "Iya, gue mau jadi pacar lo."


"Yesss." Laskar mengepalkan tangannya keudara, dengan suara lantang mengumumkan, "Gue diterima, gue diterima."


Langsung terdengar gemuruh tepuk tangan dari penonton yang menjadi saksi, sebagian dari mereka ikut bahagia dengan kebahagian Laskar, dan sebagiannya lagi juga merasa tidak suka karna Icha kini pacaran dengan salah satu cowok ganteng disekolah.


"Hebatt sik Laskar mampu meluluhkan sik Markunah." komen Sapto.


Sedangkan Lea menangis haru melihat sahabatnya kini memiliki tambatan hati, Lea berharap Laskar selalu menjaga Icha, mencintai dan menyayangi Icha, Lea berharap Laskar bisa membuat Icha bahagia.


****

__ADS_1


__ADS_2