
"Pak, tolong ya dirawat dengan baik bunga ini." pesan Icha pada pak Surip yang menerima bunga dari Icha.
Setelah melalui pertimbangan cukup panjang, akhirnya sepanjang dalam perjalanan menuju belakang sekolah Icha memutuskan menyumbangkan bunga mawar pemberian Laskar pada pak Surip tukang kebun sekolah.
"Tenang saja neng Icha, soal rawat merawat itu adalah keahlian mang Surip." jawab pak Surip membanggakan diri.
"Baiklah kalau begitu, Icha bisa lega sekarang." ujarnya dan berlalu menuju tujuannya, manalagi kalau bukan belakang sekolah untuk menemui gengnya.
Tiba disana, hampir semua anggota sudah pada berkumpul termasuk Ari sang ketua geng, semuanya pada menghisap puntung rokok dengan khusyuk sehingga tidak ada yang menyadari kedatangan Icha, melihat teman-temannya berkumpul membuat Icha semakin yakin kalau anak-anak Tunas Harapan akan nyerang mereka, dan Icha berfikir, dia diminta datang untuk membahas strategi tauran.
"Gue belum telatkan." ujarnya begitu berhenti tepat didepan teman-temannya.
Semuanya langsung pada menoleh mendengar suara Icha.
"Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga." sambut Acux dengan senyum jail tersungging dibibir tebalnya.
"Mana Laskar Cha, " Aceng bertanya karna melihat Icha datang sendiri, "gue fikir sebagai pengantin baru lo datangnya sambil gandengan tangan." godannya.
"Kenapa lo nanyain ke gue, emang gue emaknya apa." jawab Icha jutek mendengar godaan Aceng, Icha yakin, apa yang terjadi dikelas sudah diketahui oleh teman-teman satu gengnya, "Jangan-jangan mereka sudah tahu apa yang terjadi dikelas." Icha membatin.
Dan benar saja, perasaan Icha berubah tidak enak begitu melihat hampir semua teman-temannya itu memandangnya dengan senyum ganjil.
"Lo semua pada kenapa sieh, kenapa pada senyum-senyum gaje begini." keheranannya ditanyakan dalam bentuk pertanyaan, "Ri, ini ada apaan sieh, lo manggil gue untuk membahas strategi taurankan." ujarnya memandang pada Ari.
Ari menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya sebelum menjawab keingintahuan Icha, "Sejujurnya sieh bukan, anak-anak songong ini kecuali gue, mereka penasaran, mereka ingin ngintrogasi elo, tentang hubungan elo dengan anggota baru itu." yang dimaksud tentu saja Laskar.
"Cie cie cieeee." suara cie cie itu keluar dari bibir Aceng dan Acux secara bersamaan, dua cowok paling iseng dan tengil digeng itu.
"Gue fikir lo bakalan jadi perawan tua Cha, tahunya ada juga yang berminat sama barang antik kayak lo." ledek Acux.
"Sialan lo ya, menghina gue lagi, gini-gini buuaaanyakkkkk banget yang naksir gue, emang kayak lo, pakai pelet sekalipun cewek gak bakalan mau sama lo." balas Icha.
"Kebiasaan banget sik Markunah satu ini, selalu bicara jujur." lirih Acux nelangsa karna ucapan Icha benar adanya.
Mendengar kalimat itu semuanya pada tertawa.
"Pantas saja gue sering lihat Laskar nempel kayak lintah sama lo Cha, tahunya tuh anak naksir sama lo." timpal Ecal.
"Jangan-jangan dia masuk geng juga karna ingin dekat-dekat Icha lagi." praduga Aceng, "Wahhh, cowok buaya itu memang menang banyak."
__ADS_1
"Kapan nieh dirayain, apa perlu panitia, gue siap jadi panitiannya." timpal Roni.
"Apanya yang mau dirayain, orang gue sama dia gak jadian." ujarnya mengatakan kebenarannya.
"Elahhh, sama kami ini pakai malu segala, ngaku aja kenapa sieh."
"Apaan sieh, emang gue benar gak jadian sama Laskar."
Ditengah percakapan tersebut, Laskar yang juga disuruh datang kebelakang sekolah muncul, sikapnya biasa saja, seperti orang yang tidak pernah ditolak cintanya.
"Nahh, ini dia sik Laskar datang, kita introgasi, kenapa dia bisa cinta sama Markunah, heran gue, dari beratus-ratus cewek di SMA PERTIWI kenapa malah dia jatuh cinta sama cewek jadi-jadian seperti Icha."
Langsung saja, Icha melayangkan tendangannya kepaha Acux sebagai balasan atas kata-katanya yang tidak berprikemanusiaan itu.
"Awww, sakit begok."
"Sekali lagi lo ngomong jelek tentang gue satu kata saja, gue pastiin lo masuk UGD."
"Tuhkann, lo itu gadis...." Acux langsung menutup bibirnya begitu melihat Icha mengambil ancang untuk menzoliminya lagi.
Ketika Laskar sudah berada didekat teman-temannya, Laskar dan Icha saling pandang sesaat sebelum saling membuang pandangan.
"Sorry gue telat, ada apaan ya, apa anak-anak SMA TUNAS HARAPAN bakalan nyerang kita lagi." ternyata Laskar berfikiran sama dengan Icha.
"Icha nolak gue." aku Laskar jujur tanpa rasa malu, karna menurutnya ditolak oleh seorang cewek adalah hal yang biasa bukan sebuah aib.
Dan seolah apa yang diucapkan oleh Laskar adalah sesuatu hal yang lucu, tanpa dikomando anak-anak itu kecuali Ari, Icha dan Laskar, mereka tertawa.
"Hahahaha."
Yang paling heboh tertawa adalah Acux dan Aceng, bahkan Acux sampai memegang perut buncitnya, gak jelas apa yang mereka tertawakan, mungkin mentertawakan Laskar yang ditolak, atau mentertawakan Icha yang sok-sok'an jual mahal nolak cowok yang nembak dia.
"Hahaha." ditengah tawanya Aceng berujar, "Lo ditolak oleh Markunahh, astagaaa, nieh cewek jual mahal atau sok cantik sieh." candannya.
"Setan memang sik Aceng." umpat Icha, tangannya gatal untuk melayangkan tinjunya dibibir lemes sahabatnya itu.
"Bisa diam gak sieh kalian." Ari membentak dengan suara tinggi.
Efek dari bentakan Ari manjur, buktinya semuanya langsung pada caem seperti patung.
__ADS_1
"Ihhhh, jangan-jangan...." Acux tiba-tiba menyilangkan kedua tangannya didada, lagaknya persis seperti menjaga aset berharga yang dimilikinya.
"Jangan-jangan apa." sambung Sapto.
"Jangan-jangan Icha suka sama gue kali, makanya setiap kali ketemu gue dia suka rangkul-rangkul gue kayak boneka beruang imut." gumam Acux gak masuk akal.
Mendengar cloteh ngaco Acux sontak kembali memancing tawa anak-anak badung itu, bahkan Icha, Ari dan Laskarpun ikut tertawa.
"Acux Acux." Ari sampai menggeleng-gelengkan kepalanya, gak habis fikir dia kenapa Acux sampai punya fikiran begitu.
"Kenapa pada ngetawain gue sieh, bisa sajakan hal itu terjadi, secara gitu gue cowok paling ganteng abad ini diseantero SMA PERTIWI." ujarnya percaya diri.
Bukannya reda, tapi anak-anak itu makin ngakak tertawa, memang ya, disaat serius sekalipun, Acux selalu bisa menciptakan tawa untuk teman-temannya.
"Iya lo ganteng." sahut Aceng, "Tapi ganteng dari yang paling bawah."
Acux jadi merengut karna ditertawain habis-habisan.
Setelah puas tertawa, Icha merangkul bahu Acux dan mencolek dagunya dan Icha mengedipkan sebelah matanya, "Ntar malam gue ngapel ya kerumah lo." godanya.
Acux langsung menurunkan tangan Icha dan menggeser tubuh tambunnya menjauhi Icha, "Iuhhhh, najisss, gue masih suka cewek tulen daripada cewek jadi-jadian kayak lo, hanya Laskar aja tuh yang khilaf jatuh cinta sama lo."
"Lo sama Aceng sama sahabat kamprettt."
"Jadi." Ari kembali buka suara setelah suasana kembali tenang, dia mengembalikan ke topik awal, "Berita yang tersebar kalau kalian jadian itu bohong."
Icha mengangguk.
Laskar memandang Icha dan kemudian berkata, "Tapi, meskipun gue ditolak, gue gak akan pernah nyerah untuk dapetin hati wanita yang gue cintai." ucapnya penuh kesungguhan.
Icha bergetar mendengar kalimat Laskar, sedangkan yang lainnya terdiam masih mencerna apa yang barusan dikatakan oleh Laskar, mungkin kagum, salut atau entah apa, sampai kemudian Ari berkata, "Gue suka gaya lo bro, lo memang harus memperjuangkan Icha, karna dia adalah wanita istimewa, meskipun yang lain tidak bisa melihatnya." ujar Ari sambil menepuk pundak Laskar.
"Apa-apaan sieh Ari." Icha membatin mendengar kalimat Ari.
"Mohon bantuannya Ri."
Ari mengangkat kedua tangannya, "Dalam urusan hati, soryy bro, gue gak bisa bantu lo." tandas Ari, "Tapi, gue tahu dukun yang mantul, kalau lo gak berhasil naklukin Icha, gue bisa ngasih alamatnya ke elo." canda Ari.
Dan kembali semuanya tertawa mendengar kalimat Ari tersebut, kecuali Icha.
__ADS_1
"Gue cowok terhormat yang tidak mungkin menggunakan cara musryikk begitu."
*****