
"Teruss, lo ngikutin kemauan Icha gitu aja." tanya Mario.
Aslan mengangkat bahu, "Emang gue bisa apa, setelah mendengar rencana perjodohan tersebut dia jadi ngejauhin gue."
"Dasar adik begok."
"Gue sama pinternya sama elo, hanya karna lo lebih tua dari gue makanya lo lebih dulu sukses." Aslan menyalah artikan kalimat begok yang dilontarkan Mario kepadanya.
"Bukan begok dalam bidang akademis maksud gue." Mario gregetan, "Kenapa lo bisa-bisanya nurutin kemauan Icha, harusnya lo bisa bikin dia jatuh cinta sama elo, elo cintakan sama dia."
Aslan tidak langsung memberi jawaban, dia terlihat berfikir sejanak sebelum berkata, "Gue juga gak tahu." sebuah jawaban yang ambigu, "Tapi gue gak suka lihat dia sama cowok lain."
"Itu namanya lo cinta sama dia."
"Jangan sok tahu deh lo, jomblo menahun kayak lo sok-sok an menyimpulkan gue jatuh cinta apa gak lagi." tukas Aslan, "Mungkin karna gue udah sahabatan sama Icha sejak masih bayi, sehingga ada rasa gak rela lihat dia sama cowok lain, gue hanya takut dia disakitin."
Mario mendesah berat, "Terus, gimana dengan perjodohan lo dengan Icha."
"Ya dibatalkanlah."
"Jangan main-main, ini amanat dari almarhum mama dan papa Icha, selain itu juga, dengan lo menikah dengan Icha kelak, kita bisa menjaga Icha sepenuhnya sesuai keinginan almarhum orang tuanya."
"Lo jangan nekan gue donk, orang Ichanya gak mau, ya gak bisa dipaksa."
Mario yang jengkel karna adiknya yang pinter ini belum juga mengerti maksud dibalik kata-katanya manampar kepala sang adik, berharap dengan begitu penjelasannya bisa diserap oleh Aslan,
"Justru itu begok, mulai dari sekarang lo harus berusaha bikin Icha jatuh cinta sama elo, masih belum terlambat untuk melakukan hal itu, lo gak maukan membuat almarhum kedua orang tua Icha kecewa karna tidak bisa memenuhi keinginan terakhir mereka."
Aslan mangut-mangut tanda mengerti, "Apa yang harus gue lakuin untuk membuat Icha jatuh cinta sama gue." pertanyaan yang wajar dari seorang cowok yang tidak pernah ngejar cewek, karna ceweklah yang sering ngejar dia, jadiannya dengan Athena dulupun itu karna Athena yang nembak duluan.
Aslan yang sadar kalau pertanyaannya ditujukan pada orang yang salah langsung berkata, "Upsss, gue bertanya sama orang yang salah, mana bisa lo ngasih masukan sementara lo pacaran saja gak pernah bertahan lama, dan sampai sekarangpun masih menyandang status jomblo."
"Jangan ngledek lo."
Aslan terkekeh, ternyata meledek kejombloan sang kakak mampu sedikit menghiburnya.
"Ketawa lagi lo, gue kasih tahu ke elo, gue jomblo karna gue sibuk, gak punya waktu buat ngurus perempuan, gue lebih seneng ngurus pasien gue."
"Bilang aja gak laku apa susahnya sieh, pakai bawa-bawa pekerjaan segala lagi."
Mario langsung melempar botol minuman kosong yang ada ditangannya pada Aslan, "Sialan lo."
"Hahaha." Aslan malah tertawa melihat wajah nelangsa kakaknya.
__ADS_1
*****
Icha ingin langsung pulang kerumah setelah acara mentraktir temen-temen kelasnya karna berhubung hari sudah sore juga, namun Laskar mengatakan kalau orang tuanya ingin bertemu dengan Icha.
"Ketemu orang tua lo." ulang Icha memastikan.
"Iya, ketemu mama dan papa."
Icha tentunya kaget donk, lebih tepatnya sieh gak siap bertemu calon mertua masa depan, masak baru saja jadian udah langsung dikenalin, selain itu juga ada rasa khawatir dihati Icha kalau orang tua Laskar tidak menerimanya mengingat penampilannya yang tomboy, setahu Icha, kebanyakan orang tua menginginkan gadis yang feminim, cantik, anggun, pinter masak untuk menjadi calon pendamping anaknya, karna hal-hal tersebut sehingga Icha langsung menolak keinginan Laskar, "Kapan-kapan saja deh ya, masak baru beberapa jam pacaran sudah main dikenalin aja."
"Emang kenapa, mau beberapa jam pacaran kek, bertahun-tahun pacaran kek, gak ada bedanyakan."
"Iya tapi...."
"Gak ada tapi-tapian, kamu harus ikut aku kerumah, mama lebih memilih membatalkan acara arisannya untuk bertemu kamu dan papa juga pulang cepat dari kantor setelah aku beritahu kalau cintaku diterima sama kamu."
"Ihhh, kok lo lebay banget sieh, masalah gituan lo laporin ke ortu lo."
"Ini bukan masalah gituan doank Cha, ini hal penting buat aku, kamu itu penting banget buat aku, jadinya mereka harus tahu, lagian juga apa kamu gak mau bertemu dengan Leo, dia udah gemukan lho sekarang karna sering aku kasih makanan bergizi."
Icha kangen sieh sama Leo, tapi kalau bertemu dengan ortu Laskar sepertinya dia belum siap, dia memang pernah bertemu mamanya Laskar, mama Bella, saat itu mama Bella baik, fikir Icha itu karna saat Icha hanya berstatus sebagai temannya Laskar, siapa tahu dia berubah jahat setelah dia dan Laskar pacaran, jadi paranoid deh Icha.
"Cha." tegur Laskar menggoyangkan lengan Icha, "Ayok donk."
"Mama dan papa udah nunggu lho dirumah, ntar mereka kecewa lagi kalau kamu gak jadi datang." Laskar masih berusaha membujuk, "Lagian orang tuaku baik, gak galak, kamu pernahkan ketemu sama mama waktu itu."
"Iya sieh."
"Ya udah yuk, kamu gak boleh nolak titik."
"Ya udah deh." ujar Icha akhirnya.
*****
Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai dirumah besar milik keluarga Laskar.
Icha memandang rumah besar keluarga Laskar dengan rasa grogi, was-was, panik itulah yang dirasakannya saat ini, dia pernah sekali datang kemari bersama Lea saat menjenguk Laskar, saat itu dia memandang rumah mewah itu dengan rasa takjub.
"Kenapa bengong, ayok masuk, mama dan papa udah nungguin didalam."
"Ehh, iya."
Laskar meraih telapak tangan Icha, tangan itu terasa dingin, "Kamu gugup ya."
__ADS_1
"Sedikit."
Laskar tersenyum tipis, "Ternyata seorang Alissa Ramadhani bisa juga yang namanya gugup."
"Ya bisalah, gue kan manusia normal bukan robot."
"Jangan khawatir, ada aku."
"Hmmmm." kata-kata Laskar tidak mampu membuat rasa gugup itu menguar.
"Ayok masuk." Laskar menggandeng tangan Icha memasuki rumah besarnya.
Seperti sudah direncanakan, pintu utama terbuka tanpa diketuk, dikiri kanan pintu berjajar para pelayan rumah, mereka langsung melemparkan kelopak bunga begitu melihat majikan mereka.
"Ehh, apa perlu seheboh ini pakai lempar-lempar bunga segala seperti film India." bisik Icha.
"Ini pasti gara-gara mama."
"Selamat datang tuan muda dan nona." Sri mewakili para pelayan lainnya untuk memberi sambutan.
"Sri, lo gak perlu seheboh ini, bikin kotor lantai saja." protes Laskar.
"Maaf tuan, ini perintah nyonya besar."
"Ada ada saja memang sik mama." Laskar geleng-geleng melihat kegesrekan mamanya, difikir mereka presiden dan ibu negara apa pakai disambut dan dilempari bunga segala, "Mana mama dan papa sekarang."
"Kami disini." mama Bella dan papa Abi menghampiri putranya dengan senyum mengembang.
"Selamat datang putra kesayangan mama dan calon menantu." ujar mama Bella.
Sedangkan papa Abi hanya memberi senyum tipis pada Icha, ini pertama kalinya Icha bertemu dengan papanya Laskar.
Mendapat sapaan begitu Icha jadi canggung, "Eh iya tante makasih."
Mama Bella langsung memeluk Icha, Icha membalas dengan canggung, tadi dia berfikir mama Bella yang cantik dan modis ini bakalan menilai penampilannya tapi ternyata tidak, mama Bella malah menyapanya dengan hangat, "Terimakasih ya karna telah menerima anak tante."
"Iya tante."
"Kamu tahu tidak, dia galau berat saat kamu nolak dia, dia pakai minta air minumnya di doain segala lagi supaya kamu nerima dia." mama Bella mengeluarkan kartu anaknya.
"Oh ya." respon Icha tidak percaya dengan penuturan mama Bella.
"Ma, jangan ngember." tukas Laskar merasa malu yang membuat mamanya terkikik geli.
__ADS_1
***