
Dua gadis yang saat ini berstatus sebagai pacar Aslan, yaitu Icha dan Lea, Lea sang pacar sah, sedangkan Icha pacar gelap, dua gadis tersebut kini bersama-sama melepas kepergian Aslan yang siap bertempur membawa nama baik sekolah dalam ajang olimpiade tingkat nasional.
Bus yang akan membawa rombongan peserta olimpiade dari SMA PERTIWI telah siap dihalaman sekolah, disana juga para orang tua tengah melepas kepergian anak-anak mereka dengan harapan bahwa anak mereka membawa kemenangan untuk sekolah dan pastinya bisa membanggakan mereka selaku orang tua, karna masih di Bandung, makanya orang tua Aslan tidak bisa ikut melepaskan kepergian putranya, mama Dina tadi hanya nelpon untuk memberikan semangat pada putra bungsunya tersebut.
"Selama di Malang pakai pakaian yang tebal, soalnya udara disana dingin." pesan Lea.
"Iya."
"Jaket yang aku beliin dibawakan."
"Iya."
"Sering-sering dipakai ya, itu bahannya tebal, kalau kamu pakai itu kamu gak bakalan kedinginan."
"Iya."
"Kalau udah sampai kabarin ya."
"Iya."
Dari tadi Aslan iya iya aja, ya iyalah, masa iya dia bilang tidak sieh.
Selama Lea memberi wejangan ini itu sama Aslan, Icha hanya memandang intraksi mereka dari jarak satu meter, "Gini amet sieh nasib jadi pacar gelap, hanya bisa ngelihatin tanpa bisa mendekat." Icha membatin.
Lea kemudian memeluk Aslan, "Aku pasti bakalan kangen banget selama kamu disana." Lea terlihat tidak rela melepas kepergian Aslan.
Aslan hanya diam tidak menanggapi, "Sering-sering ya vidio call selama kamu disana untuk mengobati rasa kangen aku."
"Iya kalau gue inget."
"Ihh, kok gitu sieh." manyunlah sik Lea karna mendapatkan jawaban diluar ekspetasinya.
Aslan terkekeh, "Bercanda Le, iya, gue bakalan sering VC."
"Kamu itu ya gak tahu kondisi dan situasi bercandanya, lagi baper-baper gini bercanda." kelopak mata Lea mengembun.
"Lha, malah berkaca-kaca lagi, sorry deh."
"Habisnya kamu resek deh." Lea jadi merajuk.
"Jangan nangis, ntar gue bawain oleh-oleh deh dari Malang."
"Kamu fikir aku anak kecil bisa disogok pakai oleh-oleh."
"Ya udah kalau gak mau."
"Mau."
Sementara itu Icha hanya jadi penonton, gak bisa peluk-peluk seperti Lea untuk melepas kepergian Aslan.
"Aku mah apa atuh cuma pacar gelap." gumam Icha nelangsa.
"Cha." teriak Lea disaat Icha nelangsa dengan keadaannya.
"Apa."
"Kesini donk, Aslan udah mau berangkat nieh, masak lo gak mau kasih wejangan atau apalah sama sahabat lo ini."
Karna dipanggil Icha mendekat, "Udah mau berangkat Lan."
"Iya."
__ADS_1
"Aku pergi ya Cha."
"Iya." jawab Icha singkat.
"Jangan nakal-nakal selama aku di Malang."
"Iya."
"Yang rajin sekolahnya, jangan bolos mulu kerjaannya."
"Iya."
"Cha, jangan iya iya aja donk, kasih pesan gitu sama Aslan, seperti jangan lupa makan, atau jangan lupa sholat kek, kok malah Aslan yang ngasih wejangan sama lo."
"Hal begituan gak usah diingetin kali Le, ya kali Aslan lupa makan, kalau lapar dia pasti makanlah, dan kalau masalah sholat, Aslan gak mungkin lupa, nieh anakkan takut banget sama Allah."
"Ya udah sieh ya, lo kasih wejangan apa kek gitu cuma sebagai formalitas."
"Lan, lo jangan lupa sama Lea ya selama lo berada dimalang."
"Kok pesannya gitu sieh Cha." protes Lea.
"Tadikan lo bilang kasih wejangan apa aja, lagiankan wajar juga gue pesan begitu mengingat cewek malang cantik-cantik, siapa tahu Aslan kecantol dan langsung lupain lo."
"Aslanku gak mungkin seperti itu, ya kan Lan."
"Iya, gue kesanakan mau berkompetisi, bukan cari cewek, lagiankan gue udah punya cewek." yah dua cewek yang ada dihadapannya maksudnya.
"Tuh Cha denger, Aslan itu setia, setia sama gue."
Aslan dan Icha sama-sama merasa tertohok mendengar ucapan Lea, hal itu menciptakan suasana canggung.
Untungnya disaat seperti itu, suara panggilan pak Taopik menggema meminta semua peserta naik ke bis karna para peserta akan segera berangkat.
Sebelum bener-bener naik ke bis yang akan membawanya ke Malang, Aslan berbalik dan melambaikan tangannya, Icha dan Lea melakukan hal yang sama.
Begitu bis yang membawa rombongan peserta olimpiade tersebut berjalan, Lea memeluk Icha dan menangis sesunggukan.
"Ihh lo itu lebay banget sih Le pakai nangis segala, Aslan itu hanya pergi ke Malang untuk mengharumkan nama sekolah dan dia pasti akan kembali, dia bukannya pergi kemedan perang." yah hanya dibibir saja Icha bicara begitu, kenyataannya dia juga nangis didalam.
"Lo itu bukannya menghibur malah ngatain gue lebay, ya wajar donk gue sedih, gue gak akan ketemu Aslan selama satu minggu, nelangsa gue."
"Ya udah deh gue minta maaf."
"Daripada kita disini mending balik yuk."
Lea mengangguk.
***
"Cha, lo gak dijemput Laskar lagi." Lea bertanya ketika melihat Icha memasuki kelas sendirian.
"Iya." jawab Icha duduk dibangkunya.
"Kenapa gak telpon gue sieh, tahu gitukan gue jemput."
Lea memang selalu baik dan perhatian,
sumpah hal tersebut membuat rasa bersalah yang dia rasakan Icha semakin besar sama Lea.
Tiga hari belakangan ini karna Aslan gak ada, jadinya Icha selalu berangkat naik angkutan umum, fikir Lea, Laskarlah yang mengambil alih nganter jemput Icha selama Aslan pergi, tahunya Laskar tidak pernah jemput Icha, "Gak perlu Le, gue gak mau ngerepotin lo, lagiankan gue bisa naik angkutan umum." lisan Icha.
__ADS_1
"Jelas gak ngerepotinlah, lo itu Cha udah gue anggap seperti saudara gue sendiri tahu gak, jadi jangan sungkanlah sama gue."
Terharu sekaligus merasa bersalah bercampur menjadi satu sehingga menyebabkan mata Icha berkaca-kaca, "Ya Tuhann, apa yang aku perbuat, aku tega menyakiti sahabatku sendiri yang sudah mengangap aku sebagai saudaranya sendiri, apa jadinya kalau Lea tahu aku menjalin hubungan dengan Aslan dibelakangnya."
Melihat mata Icha yang membentuk bendungan membuat Lea bertanya, "Lo nangis Cha."
Icha mengipas-ngipas matanya untuk menghalau air matanya supaya tidak jatuh, "Habisnya lo sieh, pagi-pagi gini bikin gue baper aja, kan jadi terharu gue."
"Dihh lebay, gitu aja baper." ledek Lea.
"Ya baperlah, berapa orang sieh di dunia ini yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali nganggap kita sebagai saudara sendiri, apalagi orang tua gue udah gak ada dan gak punya saudara kandung sama sekali."
"Akhh lo bener juga."
"Le."
"Apa."
"Kenapa lo baik banget sama gue."
Lea dengan cepat menoleh ke arah Icha, dan menjelaskan satu persatu apa yang menyebabkan dia begitu sangat menyayangi Icha, "Lo mau tahu kenapa."
Icha mengangguk.
"Pertama, lo ingat gak hari pertama mos, ketika gue dibully oleh senior-senior galak itu, lo orang yang dengan berani nolongin gue."
Icha terkekeh, "Waktu itukan lo masih cupu banget, makanya lo dijadiin sasaran empuk untuk dibully." Icha meledek.
"Jangan ngeledek ihh."
"Gak ngeledek Le, kenyataan kok."
"Ishhh." dengus Lea karna dirinya diingatkan tentang masa-masa ketika dirinya lagi lugu-lugunya, "Gue bukannya cupu Cha, tapi lugu dan polos." Lea mengklarifikasi.
"Gak ada bedanya."
"Resek."
"Terus terus, yang kedua apa."
"Yang kedua, disaat orang menjauhi gue, hanya lo yang mau jadi temen gue."
Lagi-lagi Icha mengintrupsi, "Itu karna lo ngintilin gue mulu kemanapun gue pergi, sebenarnya sieh gue risih, tapi karna kasihan dan berniat manfaatin lo karna lo anak orang kaya, terpaksa deh gue mau temenan sama lo." jujur Icha.
"Jahat lo."
"Tapikan sekarang gue bener-bener sayang dan tulus temenan sama lo, lo tahu kenapa Le."
Lea menggeleng.
"Itu karna lo gadis yang baik hati, tulus, penyayang, dan selalu memaafkan."
"Gue gak sebaik penjabaran lo Cha." bantah Lea merendah.
"Le, kalau misalnya gue ngelakuin kesalahan yang sangat fatal, apa lo mau maafin gue."
"Kesalahan yang seperti apa contohnya."
"Apa ya contohnya." Icha berfikir, "Gini, seandainya gue ngerebut bokap lo dari nyokap lo, apa lo mau memaafkan gue." pengandaiannya malah ngaur.
"Hahaha." ya jelaslah Lea tertawa mendengar pengandaiyan ngaur Icha, Lea sampai memegang perutnya, "Astaga Icha, lo ada-ada saja, gak mungkin banget papa gue mau sama lo."
__ADS_1
Icha merengut, "Yang ada gue kali yang gak mau sama papa lo."
***