
Icha duduk dibangkunya sembari memeriksa chat masuk dari Laskar yang mengabarkan kalau dia sudah sampai di Amerika dengan selamat, Laskar juga mengirim foto dirinya yang tengah bersama Leo yang membuat Icha tersenyum, dia lega karna Laskar tidak pernah membencinya atas apa yang dia lakukan. Karna sibuk membalas pesan Laskar, sehingga meskipun Icha merasakan seseorang duduk disampingnya, Icha enggan untuk menoleh karna fikirnya itu pasti sik Marhun.
Beberapa menit kemudian, "Tumben sik Marhun kalem, biasanya dia nyerocos kayak burung beo." ada keheranan dibenak Icha karna tumben sik Marhun kalem, hal tersebut membuat Icha menoleh ke sampingnya, alih-alih menemukan Marhun, tapi yang duduk disampingnya sekarang adalah pemilik sah bangku tersebut yaitu Lea.
"Lea." desis Icha gak menyangka.
"Iya gue, kenapa, gak salahkan gue duduk dibangku gue sendiri." ujar Lea agak sinis melihat keterkejutan di wajah Icha.
"Lo...."
Lea menarik nafas dan menghembuskannya sebelum berkata, "Gue udah memutuskan untuk memulai hidup yang baru, gak ada gunanyakan gue meratapi kisah asmara gue yang kandas karna orang ketiga, orang itu sahabat gue lagi." sindir Lea.
Icha menunduk karna diingetkan akan dosanya.
Lea melanjutkan, "Daripada gue terpuruk dalam kesedihan, gue lebih memilih membuka hati gue untuk menerima orang yang benar-benar mencintai gue dengan tulus, daripada gue memperjuangkan orang yang tidak pernah mencintai gue dan hanya berujung pada rasa sakit."
Icha tetap membisu tidak berniat untuk menimpali.
"Oleh karena itu, semalam gue menerima pernyataan cinta dari seseorang yang benar-benar mencintai gue yang bisa mengembalikan kecerian gue dan kebahagian gue." curhat Lea.
Mendengar penjelasan Lea, Icha yang sejak tadi menunduk mendongak dan memandang Lea yang duduk disampingnya dengan tatapan keingintahuan, "Apakah benar Lea telah memiliki pacar baru." Lea bertanya dalam hati.
Mengerti arti dari tatapan mata Icha Lea membenarkan, "Iya benar, gue udah move on dari Aslan dan mengikhlaskannya untuk lo, dan sekarang gue udah punya pacar baru."
Icha ingin berkata, "Lo serius." namun sebelum kata-katanya mencapai tenggorokan, Lea mengiyakan seolah mengerti apa yang akan Icha katakan, "Iya gue serius, ngapain gue bohong."
"Dan lo tahu gak pacar gue siapa." Karna pada intinya sejak awal Lea menganggap Icha sebagai sahabat sejati, makanya tidak heran meskipun status persahabatan mereka bisa dibilang dalam kondisi remang-remang saat ini, Lea yang sejak dulu menceritakan apapun yang terjadi dalam kehidupannya pada Icha tidak sadar nyerocos sampai sejauh ini.
Icha reflek menggeleng mendengar pertanyaan Lea.
"Kak Gibran."
"Kak Gibran." Icha terkejut.
"Iya kak Gibran kakaknya Aslan."
Icha membuka bibirnya entah apa yang ingin dia katakan, tapi Lea mendahuluinya, "Jangan berfikir gue pacaran sama kak Gibran untuk membalas dendam sama Aslan, ya jelas gaklah, gue itu nerima kak Gibran ya murni karna cinta, ya mungkin ini terlalu cepat, tapi gue gak peduli, yang penting gue merasa bahagia saat bersama dengan kak Gibran."
"Lea dan kak Gibran pacaran." Icha membatin, "Pantesan semalam kak Gibran senyum-senyum dan membawa banyak makanan buat gue, ternyata ini tho alasannya."
"Jadi yahh, gue memutuskan untuk maafin lo dan Aslan."
Icha menoleh dengan cepat ke arah Lea, tidak mempercayai pendengarannya, "Lo serius Le, lo maafin gue dan Aslan."
"Ya begitulah, setelah gue fikir-fikir, gak level banget tahu gak musuhan sama sahabat sendiri hanya gara-gara cowok."
Icha memeluk Lea kenceng, air matanya meluncur membasahi pipinya, "Makasih Le, lo baik banget."
Dipeluk dengan sekencang itu membuat Lea susah bernafas, "Duhh, lo seneng sieh seneng Cha, tapi jangan meluk gue sampai sesak nafas begini juga donk, lo mau bunuh gue ya."
Icha langsung melepas pelukannya, "Sorry sorry, gue bahagia banget soalnya."
"Jadi, kita baikan sekarang."
__ADS_1
"Yahh, seperti itu kira-kira."
Dan mereka kembali berpelukan.
"Syukurlah lo berdua sudah baikan." komen Marhun dan Gita yang baru datang melihat Icha dan Lea berpelukan.
"Nahh gitu donk, kan enak dilihat, gak kayak kemarin berantem." gumam Gita.
"Yee siapa juga berantem, kami baik-baik saja kok, bener gak Cha." sangkal Lea bohong, Lea adalah tipe orang yang tidak akan menceritakan permasalahannya pada sembarang orang, buktinya, meskipun dia sakit hati dan dikhianati oleh Icha dan Aslan, dia gak ngember-ngember kemana-mana, sehingga permasalahan mereka tidak diketahui satupun oleh teman-teman kelas mereka kecuali mereka berempat.
Icha mengangguk untuk mendukung kebohongan Lea.
"Lhaa terus, yang kemarin itu apa, pakai pisah tempat duduk segala ."
"Itu sieh, gue cuma cari suasana baru saja, gue ingin ngerasain duduk sama lo aja." alasan Lea dibuat-buat.
"Ada ada saja."
"Tapi syukurlah, jadi gue bisa duduk dan berduaan sama ayank gue." Marhun terlihat happy.
****
"Ucup gak jemput Le." tanya Icha begitu mereka keluar menuju gerbang.
"Gak, kan gue punya sopir pribadi sekarang."
"Lo punya sopir pribadi, siapa." tanya Icha polos.
"Kak Gibran."
"Iya, sekarang kak Gibranlah yang bertugas nganter jemput gue."
Icha terkikik, "Pacar merangkap sopir, hebat lo Le, teruskan."
"Ya udah deh Cha, gue duluan, kasihan pacar gue kelamaan nunggu sejak tadi, bye Cha." Lea melambaikan tangannya dan berlari ke arah Gibran
"Dihhh, dasar lebay sik Lea."
Lea melambai ketika mobil Gibran melaju meninggalkan area sekolah yang dibalas oleh Icha.
Icha terus memandang kepergian mobil Gibran sampai sebuah sapaan menyadarkannya, "Lihat apa Cha."
"Kak Gibran dan Lea." Icha membuka pintu mobil dan duduk didekat Aslan.
"Kak Gibran dan Lea." ulang Aslan tidak mengerti.
Dan Icha kemudian menceritakan ulang cerita yang telah diceritakan Lea kepadanya.
Aslan hanya mangut-mangut, dan diakhir cerita dia memberikan respon, "Baguslah, Lea menemukan cinta sejatinya, aku yakin kak Gibran bisa membahagiakannya."
"Aku lega banget begitu Lea memaafkan kita, dia bener-bener gadis yang sangat baik, aku beruntung memiliki sahabat seperti dia, dia tidak pendendam."
"Itu karna Lea menyadari begitu berharganya kamu untuk dia, makanya dia memaafkan kamu."
__ADS_1
"Akhhh." Icha mendesah lega, "Lea juga sangat berharga buat aku."
Aslan tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar dimata Icha.
"Lho lho, kita mau kemana Lan, inikan bukan jalan menuju rumah." tanya Icha setelah sadar kalau Aslan tidak mengarahkan mobilnya ke arah rumah mereka.
"Iya, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat."
"Kemana."
"Lihat saja nanti."
"Dihhh pakai main rahasia-rahasia segala, sekarang atau nantikan aku akan tetap tahu."
"Bawel, mending diam saja deh."
"Ishhh."
30 menit kemudian Aslan menghentikan mobilnya.
"Kita ke makam mama dan papaku." ujar Icha begitu melihat dimana mobil Aslan berhenti.
Aslan mengangguk, "Turun yuk." ajak Aslan membuka pintu mobil yang diikuti oleh Icha.
Sebelum mereka memasuki komplek makam, terlebih dahulu mereka membeli bunga ditoko bunga yang ada diseberang jalan.
Kini mereka duduk diantara makam kedua orang tua Icha, Icha meletakkan bunga yang dibawanya dimasing-masing dimakam papa dan mamanya.
"Asslamuailaikum om tante." sapa Aslan memulai.
"Hai ma pa." Icha juga menyapa.
"Aslan datang lagi bersama anak om dan tante."
"Iya ma, pa, kami datang menjenguk kalian." Icha turut menimpali.
"Kami telah bersama sekarang." lapor Aslan, "Aslan gak pernah menyangka kalau Icha ternyata juga memilki perasaan yang sama dengan Aslan, ternyata Allah menjawab doa-doa Aslan selama ini."
Aslan dan Icha saling bertatapan, Aslan menyodorkan telapak tangannya yang disambut oleh Icha, Aslan kemudian menggenggam tangan Icha, "Mulai sekarang, om dan tante gak perlu khawatir karna Aslan akan selalu menjaga dan melindungi Icha dan juga mencintai dan akan selalu menyayanginya selamanya dan hanya maut yang bisa memisahkan kami." janji Aslan didepan pusara makam kedua orang tua Icha.
"Iya ma, pa, jangan khawatir, Aslan akan menjaga dan menyayangi Icha, Icha percaya sama Aslan, dia laki-laki terbaik yang pernah Icha kenal."
"Restui hubungan kami ya pa, ma."
Setelah berdoa mereka memutuskan untuk pulang tanpa ada beban di hati mereka untuk menyambut hari esok yang lebih cerah.
SELESAI
***
Assalamualaikum..wr...wb.
Terimakasih pembaca setia karna selalu mendukung author, sampai jumpa ya dikisah selanjutnya, DI PUTIH ABU-ABU, kisah tentang Wahyu Arial Dirgantara (Ari) sik ketua geng biang rusuh SMA PERTIWI.
__ADS_1