Cinderela Modern

Cinderela Modern
BOCAH GADO GADO


__ADS_3

Malam itu sekitar jam delapan, terdengar suara salam yang diucapkan oleh beberapa orang didepan rumah Icha.


"Assalamualaikum."


Saat itu mama Dea dan duo L tengah makan malam, mereka agak heran karna malam-malam gini ada tamu yang datang.


"Siapa sieh malam-malam gini datang." tanya Lola.


"Coba sana lihat dulu." perintah mama Dea.


"Lihat sana Lol." sik Lola balik nyuruh Loli.


"Lo yang disuruh kenapa lo malah limpahin ke gue." sewot Loli gak terima.


"Elaahh, tinggal nyebrang dua langkah aja lo pemalas banget sieh."


"Kalau begitu lo aja sana yang buka, gue lagi mager."


Mama Dea menggebrak meja yang berhasil menghentikan perdebatan antara Lola dan Loli, "Punya anak perempuan dua malasnya minta ampun, baru saja disuruh buka pintu malasnya naujibillah, apalagi kalau disuruh nguras air laut." omel mama Dea, "Sudah sana kalian berdua lihat siapa yang datang, tapi gak usah disuruh masuk, suruh duduk luar saja ntar tuh orang minta makan lagi."


Dengan malas-malasan Lola dan Loli melaksanakan perintah mamanya, Loli membuka pintu, "Siapa sih malam-malam datang ke rumah orang, ganggu orang sa...." Loli langsung menghentikan kalimatnya begitu tahu siapa yang dari tadi mengetuk pintu rumahnya dan mengucapkan salam, sebagai gantinya dia malah melongo dan melafalkan, "Masyaallah, Arikan." mengamati salah satu cowok yang ada didepan pintunya, "Gantengnya ciptaan Tuhan yang ada didepan mataku ini."


Lola yang ada dibelakang mendorong tubuh Loli untuk memastikan kalau yang didengarnya benar adanya, "Ari, astaga, ini benar Arikan, ketua geng elit sekolah." Lola juga gak kalah takjub.


Yang datang bertamu ada tiga orang, tapi yang disapa hanya Ari saja, ya maklum sieh kalau orang ganteng selalu terdepan.


"Heh Lola Loli." sik Acux protes, "Kenapa cuma bos Ari yang lo pada sapa, kenapa gue dan Aceng lo anggap mahluk astral."


"Dihh, emang lo mahluk astral."


"Wahh sembrangan kalau ngomong." protes Aceng.


"Kok sembarangan, beneranlah, kalau lo gak percaya lo ngaca tuh, tampang lo berdua sebelas dua belas sama mahluk penunggu belakang sekolah."


"Mulutt lo berdua itu yahh pedes kayak bon cabe, pantas saja sejak kelas sepuluh sampai sekarang lo berdua gak laku-laku."


Baik itu Lola dan Loli sudah akan membalas tapi Ari lebih dulu memotong, "Kita mau bertamu atau berdebat sieh."


"Bertamu bos."


"Sekarang tutup tuh mulut."


Aceng dan Acux menarik garis lurus didepan bibirnya seakan-akan bibirnya memilki resleting.


"Masuk yuk Ri."


"Kita gak disuruh masuk nieh."


"Lo berdua mending pulang aja sono, biar Ari saja yang masuk, lo berdua bawa bibit penyakit tahu gak."


Sepertinya bakalan terjadi perdebatan lagi, namun Ari sigap mendahului, "Kami mau menjenguk Icha, denger-denger dia sakit, kita bisa ketemu diakan."


"Icha lagi, Icha lagi, sik jelek itu kenapa selalu dicari cowok cakep sieh." kompak suara hati Lola dan Loli.


"Icha dibawa Aslan kerumahnya." Lola memberitahu.


Aslan memang membawa Icha untuk nginap dirumahnya, dengan alasan kalau dirumahnya dia bisa ngurus Icha.


"Dirumah suaminya." gumam Acux, "Bilang dari tadi kek, kitakan gak perlu ngabisin tenaga berdebat dengan lo."

__ADS_1


"Ayok ah boss kita tancap gas kerumah Aslan, gak kuat gue didekat dua wanita siluman ini."


Mereka bertiga langsung berbalik menuju rumah sebelah yang merupakan rumah Aslan.


"Dasar cowok jelek sialan." umpat Lola.


"Jauh-jauh lo dari rumah gue." teriak Loli.


"Cuihhh, siapa juga yang sudi kerumah lo." balas Aceng.


****


"Assalamualaikum." kembali Trio itu mengucapkan salam didepan rumah Aslan.


"Walaikumussalam." jawab Gibran membuka pintu.


Gibran agak heran melihat tiga bocah gado-gado berdiri didepan pintunya, gado-gado maksudnya, satunya tampan dengan tubuh atletis, satunya tambun dengan wajah bulat kayak kuda nil, satunya lagi cungkring mirip jerapah, "Siapa lo pada, gue yakin lo bukan temannya Aslan."


Bukan tanpa alasan Gibran bilang begitu, pasalnya sejak TK sampai SMA, adik bungsunya itu tidak pernah punya teman, kecuali Icha.


Aceng membenarkan, "Emang bukan, kalau disuruh milih temenan sama kuda daripada Aslan, ya pasti kita milih temenan sama kudalah, siapa yang tahan coba temenan sama patung begitu, kecuali Icha, tuh anak kan bisa bahasa patung."


Kalimat tersebut membuat empat orang itu meledak tertawa, termasuk juga Gibran, emang dasar kakak lacnatkan dia, bisa-bisanya dia tertawa mendengar adiknya diledek begitu. Suara tawa empat cowok tersebut mengundang Mario keluar untuk melihat apa yang tengah terjadi, agak heran melihat empat laki-laki tertawa kayak perempuan ganjen yang berusaha menarik perhatian cowok.


"Woeee, ini udah malam, katawa kayak gitu lo udah pada mirip kuntilanak saja."


Cowok- cowok itu langsung menghentikan tawanya.


Sama seperti Gibran, Mario juga bertanya pada tiga laki-laki remaja didepannya, "Kalian siapa, bukan temannya Aslankan."


Kali ini Ari yang menjawab, "Kami temannya Icha, katanya Icha disini, makanya kami kesini."


"Oh, temannya Icha."


"Ada, tuh anak tengah dininabobokan sama Aslan, rewel dari tadi, heran deh, padahal cewek jago berantem kayak gitu lebay banget pas lagi sakit." gumam Gibran.


"Kalian mending masuk dulu, mudah-mudahan Icha belum tidur." Mario mempersilahkan.


Mario mempersilahkan tiga tamunya untuk duduk diruang tamu, "Nyukk, lo panggilan Icha sana." perintahnya pada Gibran yang langsung berbalik pergi melaksanakan perintah Mario.


"Mau pada minum apa adik-adik." tawar Mario sebagai tuan rumah yang baik.


"Jus melon." reques Acux.


"Jus buah naga." Aceng.


Ari memandang dua temannya yang gak tahu malu itu sebelum berkata, "Air putih saja."


"Ya sik boss, kenapa mintanya cuma air putih doank, jus alfokat kek, susu kocok kek, mumpung ditawari begini."


"Anjirrr, jangan bikin malu lo berdua."


"Maaf ya adek-adek." potong Mario, "Ini bukan kafe, jadi maaf saja buat adek yang memesan jus buah naga dan jus melon kami tidak punya stok."


"Kenapa nawarin segala kalau gak ada."


"Namanya juga basa-basi." ujar Mario, "Ya udah kalian tunggu disini, siapa tahu gula masih ada untuk bikin teh, kalau habis terpaksa deh kalian harus minum air keran." Mario berlalu kearah dapur.


"Air keran, ihhh, kaya-kaya pelit amet."

__ADS_1


"Shhhh, bisa gak sieh lo berdua gak usah berisik." tandas Ari.


"Ariii, Ceng, Acux." meskipun sedang sakit ternyata suara Icha masih bisa bersaing dengan toa masjid, dia berjalan mendekati tiga temannya, dibelakang terlihat Aslan dan Gibran menyusul.


Icha duduk disofa yang tersisa, Aslan dan Gibran duduk disampingnya.


"Hai Aslan." sapa Aceng.


"Hmmm." balas Aslan.


"Nyesel gue nyapa kalau jawabannya cuma hmm doank." ucap Aceng terang-terangan.


Gibran terkekeh melihat tingkah adiknya, Aslan tetaplah Aslan, tidak akan bisa bersikap manis, meskipun hanya pura-pura.


"Bisa juga lo sakit ternyata." ledek Ari melihat wajah pucat Icha.


"Bisalah, guekan manusia bukan robot."


"Ngomong-ngomong dari mana lo tahu gue sakit."


"Dari mana lagi, dari mulut ember temen-temen kelas lo lah."


"Wihhh, bisa juga penampilan lo rapi jali begitu." komen Icha melihat penampilan Ari yang terlihat rapi, biasanyakan tuh anak penampilannya berantakan.


Ari akan membuka mulut untuk menjawab kalimat Icha, namun didahului oleh Acux, "Katanya agar Loli tertarik gitu sama dia, makanya dia menghabiskan satu jam untuk melihat penampilannya dicermin."


Icha dan Gibran langsung tertawa ngakak.


Ari langsung memberikan tendangan maut dikaki Acux, "Lo ngomong sembarangan lagi, gue tendang lo sama Antartika."


"Duh, bos sadis banget orangnya." Acux mengelus kakinya yang kena tendangan.


"Jadi, lo sukanya sama Loli ya saudara tiri Icha." timpal Gibran.


"Ya gak mungkinlah." jawab Ari cepat.


"Tidak ada yang tidak mungkin kalau Tuhan berkehendak." goda Gibran.


"Denger tuh bos, gak ada yang gak mungkin."


"Diem." bentak Ari.


Aceng langsung kicep mendengar bentakan dari sang bos.


"Kalau jenguk orang sakit pasti bawa-bawa buah tangan donk pastinya." timpal Aslan buka suara.


"Pastinya." lirih Ari memandang Acux, "Cuxx, kasih Icha oleh-oleh yang kita bawa."


Acux mengambil parsel yang dari tadi dibawanya dan diserahkan pada Icha.


Icha menerimanya dengan penuh suka cita sambil berujar, "Makasih."


"Lho, kok berlubang sieh." tanya Icha melihat plastik bening yang digunakan membungkus parsel tersebut terdapat robekan.


"Hehe, itu tadi habisnya gue gak tahan, gue robek saja dan mengambil satu, gak apa-apakan." ujar Acux tanpa dosa.


"Heh dasar lo ya." kesel Icha.


"Marukk, lain kali jangan kasih dia tugas bawa makanan Ceng."

__ADS_1


"Habisnya gimana bos, menggoda iman banget, gak kuat Acux."


****


__ADS_2