
"Rubahh." keceplosan deh sik Icha, dia buru-buru meralat, "Ma."
Mama Dea yang pada saat itu tengah duduk santai sambil membuka majalah fashion mengalihkan perhatiannya dari majalah begitu mendengar suara anak tirinya, pandangan mama Dea langsung mengarah pada Laskar yang berdiri disamping Icha dengan senyum mengembang.
"Kenalin ma, ini Laskar te…."
Laskar tahu Icha akan memperkenalkannya sebagai temannya, gak relalah dia, makanya dia memotong kalimat Icha, "Pacarnya Icha tante, kami baru saja beberapa jam tadi resmi jadian." perlu banget apa ngasih penjelasan sedetail itu.
Icha langsung memberi plototan tajam pada Laskar, sayangnya Laskar tidak mempedulikannya karna dia sibuk menghias bibirnya dengan senyum supaya dia diterima oleh mama tirinya Icha, meskipun Icha gak punya hubungan baik sieh dengan keluarga tirinya, tapi tetap saja untuk saat ini mama Dea adalah walinya Icha.
"Laskar." mama Dea seperti mengingat sesuatu, "Laskar yang itukan, yang menghubungi tante, dan membelikan tante tas brended itu."
"Benar tante." Laskar membenarkan.
"Astagaaa Laskar, tante akhirnya bisa ketemu sama kamu secara langsung begini." mama Dea terlihat antusias.
"Waktu Icha sakitkan saya pernah kemari tante, tapi tante cuekin."
"Akhh waktu itu, tantekan belum tahu kamu yang mana, makanya tante gak merhatiin, kamu ternyata tampan sekali, kaya lagi."
"Makasih tante, tapi bukan saya yang kaya, tapi orang tua saya." mencoba merendah.
"Ahh, kamu bisa saja merendahnya, harta keluarga kamukan juga milik kamu, dan pasti akan diwariskan untuk kamu juga kan."
"Benar juga sieh tan."
"Ayok duduk." mama Dea menarik Laskar dan mendudukkannya disofa.
Icha terlihat jengkel melihat pacarnya dipegang-pegang begitu, "Ishh, gak perlu pegang-pegang begitu juga kali, cukup bilang duduk sajakan bisa." batinnya.
Icha akan ikut duduk, namun sebelum bokongnya menyentuh permukaan sofa, mama Dea memerintahkannya untuk membuat minum, "Lho Icha, kamu ngapain ikut duduk, sana donk bikin minum untuk nak Laskar."
"Gak usah repot repot tante, soalnya saya cuma sebentar kok."
__ADS_1
"Gak repot nak."
"Jadi gimana." Icha mengintrupsi, "Jadi bikin minum gak."
"Jadilah, kamu ini gimana sieh."
"Tapi Laskarnya bentar lagi mau pulang ma, kan mubazir kalau gak diminum, kan kata mama mahal gula."
"Kamu ini gimana sieh, harga gula kamu permasalahin, udah sana bikin minum."
"Iya iya."
Icha berjalan ke arah dapur sambil merutuk, "Sok baik dan memuliakan tamu banget sih dia, ntar kalau Laskar udah pulang, pasti dia bilang begini." Icha menirukan suara dan bibir mama Dea ketika memarahinya, "Upill, lain kali jangan bawa tamu ke rumah, ngerepotin aja, tahu gak harga gula mahal, emang kamu sanggup beli, cihhh, dasar menyebalkan."
Sementara itu diruang tengah.
"Ngomong-ngomong masalah tas, makasih ya nak, kamu baik sekali telah membelikan tante tas, tasnya bagus tante suka banget."
"Iya tante." ujar Laskar, "Iyalah gue beliin tante tas, kalau gak gitu mana tante izinin gue bawa Icha seharian untuk ngerayain ulang tahunnya." ujarnya dalam hati.
"Kamu itu tampan, kaya, kok mau sieh sama Icha yang dekil dan kumal gitu."
"Namanya juga cinta tante, gak mandang fisik, biarpun Icha dekil dan kumal tapi hatinya baik, buat apa cantik dan mulus kalau hati seperti iblis." bela Laskar, gak suka donk dia pacarnya dibilang dekil dan kumal.
"Wahh, kok ini anak kesannya nyindir ya." agak tersinggung juga mama Dea, pasalnya kalimat Laskar menggambarkan dirinya banget, tampilan luar mulus tapi hati kayak iblis, meskipun begitu dia berusaha untuk tersenyum dan menjalankan misinya untuk mempromosikan kedua anaknya, "Kalau kamu mau, tante punya dua anak perempuan yang jaaaaauuuuhhhh lebih cantik dibanding Icha."
"Gak tante, makasih." tandas Laskar tahu siapa yang dimaksud, "Dihhh, dia menawarkan anak perawannya yang gesrek itu ke gue, amit-amit deh, lebih baik gue pacaran sama Markunah daripada rubah itu." gelinya dalam hati karna gak bisa membayangkan kalau dia pacaran dengan salah satu saudara tiri Icha, Laskar berulangkali melihat kearah dapur, berharap Icha segera muncul, "Icha lagi, bikin minum kok lama amet, malas banget deh gue ditinggalin sama mama tirinya ini, tahu begini gue gak usah mampir deh tadi." sesalnya.
Mama Dea ternyata masih belum menyerah mempromosikan dua anak kembarnya, dia kembali bilang begini, "Anak tante selain cantik, pinter masak lho." pinter masak apaan maksudnya, masak mi instan saja sampai lembek jadi bubur, "Selain itu juga mereka suka bersih-bersih, rajin cuci baju…."
potong Laskar, "Tante, saya cari istri bukan pembantu." menurut Laskar kalimat tante Dea persis seperti agen penyedia jasa ART.
Mama Dea terkikik geli, suara kikikannya mirip kuntilanak, dengan ganjennya dia mencubit pinggang Laskar, "Bisa saja kamu bercandanya, gemes deh."
__ADS_1
"Ihhh, apaan sieh dia main cubit-cubit saja." Laskar mengusap pinggangnya yang kena cubit seolah-olah tangan tante Dea membawa bibit penyakit, "Duhhh, gue gak tahan banget nieh lama-lama bersama tante ganjen ini, mana sieh Icha." sambil matanya tak lepas memandang kearah dapur.
"Laskar." mama Dea menegur.
"Iya tante."
"Sering-sering donk kesini main, biar tante gak kesepian."
Laskar memandang mama Dea geli, "Ihhh, ganjen banget nieh tante, najong." Laskar berkata, "Kan ada Icha, Lola dan Loli tan, masak kesepian, anak tante itukan pada rame kalau sudah pada berkumpul, apalagi kalau sudah pada adu mulut, wahh seru tuh, bisa dijadiin acara reality show begitu."
"Itu berbeda donk, mereka cewek dan pada sibuk dengan urusan mereka, tante maunya kamu, agar tante ada temannya bercanda."
"Ihhh, nieh tante-tante, difikirnya gue laki-laki kesepian apa, lagian gak konsisten banget sieh, tadi nawarin anaknya, sekarang malah ganjen." Laskar bergidik.
Icha kembali datang dengan nampan berisi sirup dan stoples kue kering lalu meletakkannya dimeja, langsung deh tuh Laskar meraih gelas berisi sirup, meneguknya dan langsung tandas, seperti orang kehausan saja.
"Kehausan lo." komen Icha.
"Iya, rumah kamu panas banget Cha, banyak setannya kali."
Icha terkekeh, dia membalas ocehan Laskar, "Memang banyak, yang nyata saja ada tiga." dengan ekor matanya dia melirik mama Dea.
Mama Dea langsung melotot karna merasa tersindir dengan ocehan Icha, "Anak ini, awas ya dia."
"Aku balik sekarang deh ya."
"Lho kok buru-buru nak, makan malam aja disini." mama Dea mencoba menahan Laskar.
"Makasih tan atas tawarannya, tapi gak usah, takutnya ntar mama marah kalau pulangnya telat." berbohong.
"Ya udah deh, gue anterin sampai depan kalau gitu." tukas Icha.
"Hati-hati ya nak Laskar, besok-besok datang lagi." pesan mama Dea.
__ADS_1
Lisan Laskar, "Iya tan." tapi dihati, "Gak akan lagi gue mau mampir."
****