Cinderela Modern

Cinderela Modern
KHAWATIR


__ADS_3

"Makasih Las, mending kamu balik aja sekarang." ujar Icha berterimakasih sekaligus mengusir secara bersamaan.


Karna mereka bolos kemarin, bu Dewi memberi hukuman diakhir pelajaran untuk mereka berdua yang menyebabkan mereka pulang terlambat, dan tanpa pulang mengganti seragamnya terlebih dahulu Icha langsung meminta Laskar mengantarnya kerumah sakit.


"Cha." tegur Laskar.


"Ya."


"Kamu gak mau makan dulu gitu, kamu belum makan lho sejak tadi siang, ntar kamu sakit lagi." cetus Laskar khawatir.


Karna memikirkan keadaan Aslan, Icha tidak merasakan lapar, padahalkan dia dia tiap menit ngirim pesan ke Aslan menanyakan keadaannya, dan jawaban Aslan selalu sama yang memberitahukan kalau dirinya baik-baik saja, tapi memang dasar Icha, sebelum melihat secara langsung keadaan Aslan dia tidak bisa tenang.


"Iya juga ya aku belum makan." Icha baru menyadarinya, "Tapi gampanglah itu, setelah aku lihat keadaan Aslan baik-baik saja baru aku bisa makan dengan tenang."


"Tapi aku yang gak tenang Cha, aku gak mau kamu sakit."


Icha terharu dengan perhatian Laskar, "Perhatian banget sieh kamu, aku jadi terharu ."


"Memang itu fungsinya pacarkan, ngasih perhatian."


"Benar juga sieh."


"Ya udah kalau gitu kita cari makan dulu yuk." Laskar masih belum menyerah.


"Makasih atas perhatian kamu Laskar, tapi beneran saat ini aku gak lapar, dan aku janji gak bakalan sakit, jadi kamu gak perlu khawatirin aku, jadi lebih baik kamu sekarang balik aja." setelah bicara panjang lebar tanpa menunggu jawaban Laskar, Icha langsung ngacir memasuki rumah sakit.


Laskar hanya bisa menghela nafas melihat tingkah berlebihan sang kekasih, "Apa kalau gue yang sakit, apa Icha akan sekahwatir ini gak ya." gumamnya Laskar menatap punggung Icha yang menjauh.


****


Icha berlari sepanjang koridor rumah sakit, dia ingin cepat-cepat sampai dikamar Aslan, beberapa orang ngomel-ngomel karna jelas suara lari Icha membuat orang terganggu.


"Gadis itu bener-bener ya." seorang bapak-bapak menggeleng, "Gak bisa apa dia jalan baik-baik tanpa harus lari, kayak dia yang punya rumah sakit saja."


Icha langsung mendorong kenop pintu begitu tiba didepan kamar Aslan, dan begitu melihat pemandangan didepan matanya, dia malah mematung, sebenarnya bukan pemandangan mesum atau bagaimana yang menyambut indra penglihatannya, hanya hal biasa dimana Aslan kini tengah tertidur dan itu wajar bagi orang yang tengah sakit, disana juga ada Lea yang duduk disamping tempat tidur Aslan juga tampak tertidur dengan kepala direbahkan disamping tubuh Aslan, dan tangan kedua remaja tersebut saling bertaut satu sama lain, sesuatu hal yang sangat wajar mengingat mereka adalah sepasang kekasih, tapi melihat hal tersebut ada sedikit perasaan aneh yang tiba-tiba Icha rasakan, ada perasaan sedikit tidak suka melihat hal tersebut.


"Apa yang terjadi dengan gue, kok gue gak suka gitu lihat Lea memegang tangan Aslan." batinnya, "Akhh, mungkin ini karna saking khawatirnya gue dengan Aslan, terburu-buru ingin melihat keadaan Aslan dan memastikan kalau keadaannya baik-baik saja, tapi ternyata ada Lea yang kini tengah menemaninya lebih dulu." Icha berusaha menghilangkan perasaan aneh tersebut, "Seharusnyakan gue gak perlu sekhawatir itu, sekarangkan Aslan punya pacar yang akan selalu memperhatikan dia, pacar yang akan selalu ada buat dia."


Karna suara pintu yang didorong dengan agak kasar menimbulkan bunyi agak berisik membuat Lea menggeliat dan secara perlahan membuka kelopak matanya.

__ADS_1


"Hai Le, gue fikir lo gak disini." sapa Icha berusaha menormalkan ekpresi wajahnya.


"Ichaa, lo baru datang." suara Lea serak, suara khas orang bangun tidur.


"Hmmm." Icha melangkah ke arah sofa dan menjatuhkan bokongnya, "Kalau tahu lo disini, gue mending balik dulu ganti baju."


"Dari sekolah lo langsung kesini."


"Hmm, lo udah lama Le."


"Lumayan, gue hanya pulang ganti pakaian dan makan habis itu datang kesini."


"Ohh."


"Tadi setelah makan dan minum obat Aslan langsung tertidur." lapor Lea.


Lea kemudian mengelus tangan Aslan dan mengarahkannya kebibirnya, "Cepat sembuh sayangku." ujarnya memandang Aslan penuh cinta.


Perasaan aneh yang mati-matian ditepis oleh Icha kembali mampir, hal ini membuatnya jengkel, "Heh, apa yang terjadi sieh dengan gue, kenapa perasaan aneh ini muncul lagi." gumamnya bertanya dalam hati.


Lea kemudian berjalan kearah Icha, mengambil duduk disamping Icha dan bertanya, "Lo udah makan."


"Belum, tumben amet, biasanya dunia bakalan lo buat gonjang ganjing kalau lo telat makan."


"Apaan sieh lo, bercanda lo gak lucu tahu."


Lea terkekeh.


Lea baru akan mengajak Icha keluar untuk cari makan, namun niatnya hanya tinggal niat karna bertepatan dengan itu pintu kembali terbuka yang memampangkan wajah Laskar yang tangannya sarat akan kantong plastik.


"Laskarr, bukannya kamu udah pulang." tanya Icha heran melihat kedatangan sang kekasih.


Laskar berjalan menghampiri Icha, dan kemudian menjawab pertanyaan Icha, "Tadinya sieh iya, tapi aku gak tenang meninggalkan kamu dalam keadaan perut kosong." Laskar duduk dan membuka plastik yang dibawanya yang isinya ternyata adalah berbagai makanan, Laskar kemudian menatanya dimeja.


"Manisnya." gumam Lea baper, "Lo benar-benar pacar impian Las."


"Bisa aja lo Le."


"Banyak banget makanan yang lo beli Las." heran Lea melihat berbagai jenis makanan yang kini memenuhi meja.

__ADS_1


"Sengaja, guekan gak tahu makanan apa yang disukai Icha, jadi gue beli banyak biar Icha bisa milih."


"Icha mahh semua makanan dia doyan kali Las."


"Cha, ayok makan." tegur Laskar yang melihat Icha bengong.


"Eh, iya."


"Kamu mau makan apa, ayam geprek, gado-gado atau...."


"Aku mau makan lontong sayur."


Laskar mendekatkan bungkusan lontong sayur didepan Icha.


"Laskarr begitu sangat perhatian dan baik banget sama gue, dia pasti cinta banget sama gue." Icha membatin, bola matanya tidak lepas memandang Laskar, matanya kini berkaca-kaca.


"Lho, kenapa belum dimakan Cha, tadi katanya mau makan lontong sayur, kamu gak suka ya." tanya Laskar melihat Icha belum juga menyentuh makanannya.


Icha menggeleng, dia tiba-tiba menubruk tubuh Laskar dan memeluknya, entah karna apa, tapi dia mulai terisak, hal tersebut membuat Laskar kian bingung, dia jadi berfikir kalau dia salah ngomong, "Heii, kamu kenapa, aku salah ngomong ya."


Icha menggeleng, "Aku hanya terharu Las, kamu begitu baik dan perhatian sama aku."


"Astagaa, aku fikir kenapa." Laskar terlihat lega, dia mengusap-ngusap rambut Icha.


Lea malah terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu, "Gak gue sangka, gadis galak kayak Icha bisa nangis juga." Lea meledek.


"Guekan juga manusia Le."


Suara isakan Icha ternyata mampu membangunkan Aslan dari tidur lelapnya, "Apa yang terjadi." tanyaya melihat ketiga orang yang duduk disofa.


"Lo bangun Lan." desis Icha agak merasa bersalah, "Sorry karna isakan gue bikin lo bangun."


"Lo nangis lagi, kenapa."


Lea yang menjawab, "Baper dia karna diperhatiin sama Laskar, maklum inikan pertama kalinya Icha pacaran."


Aslan menggeleng, "Ada-ada saja lo Cha."


****

__ADS_1


__ADS_2