Cinderela Modern

Cinderela Modern
TITIP LEA YA


__ADS_3

Tiga remaja itu sudah duduk dengan nyaman didalam mobil, karna menggunakan mobil milik Laskar, otomatis Laskarlah yang duduk dibelakang stir, sedangkan Aslan duduk disampingnya dan Icha duduk dibelakang.


Icha punya ide, "Gue ajak Lea aja, biar kita double date, yah meskipun Lea dan Aslan belum jadian sieh, anggap saja ini adalah salah satu cara untuk mendekatkan mereka." Icha senyum-senyum sendiri dengan ide briliannya.


"Biar seru, bagaimana kalau kita ajak Lea." idenya tersebut disuarakan untuk meminta persetujuan Aslan dan Laskar.


Laskar yang bisa menangkap maksud Icha langsung memberikan persetujuan, "Ide bagus tuh, seru tuh kayaknya kalau rame-rame."


"Kenapa gak sekalian saja lo ajak anak-anak satu kelas." cetus Aslan yang ditanggapi kekehan oleh Laskar dan Icha.


"Lo bisa aja Lan, anak-anakkan pada punya acara masing-masing."


Icha kemudian mendial nomer Lea, pada deringan pertama Lea langsung menjawab panggilan.


"Apa." ujarnya, dia sepertinya terganggu.


"Duhh, kok ketus gitu sieh neng."


"Habisnya lo ganggu sieh, guekan lagi main game."


"Gak malam mingguan lo."


"Dihhh, mentang-mentang punya pacar, lo ngledek gue."


"Hahaha."


"Jahat lo tertawa diatas penderitaan sahabat sendiri."


"Sorry sorry, gue gak bermaksud begitu." Icha meluruskan, "Daripada lo main game, gimana kalau lo ikut kami keluar."


"Kami, maksudnya gue harus ikut sama lo dan Laskar gitu, ogah banget, masak gue cuma lihatin lo pacaran doank, bisa nelangsa gue."


"Kami gak berdua, ada Aslan juga."


..."Yang benar, kok bisa Aslan ikut sama lo."...


"Ya bisalah, makanya, lo ikut ya."


"Oke oke." Lea terdengar antusias, "Emang kita mau kemana."


"Jalan-jalan aja gitu ke mall."


"Lo mending siap-siap gieh, dan inget, ketika kami sampai dirumah lo, lo udah rapi jali, agar langsung cus."


"Siap."


Dan sambungan terputus.


****


Dirumahnya Lea, ternyata begitu mereka tiba dirumahnya Lea, Lea belum kelar dandannya, sehingga mereka terpaksa harus menunggu beberapa saat, mama Lealah yang menyambut kedatangan mereka.


Dan seperti biasa, mamanya Lea heboh banget menyambut kedatangan teman-teman anaknya.

__ADS_1


"Astagaaa Ichaa, tante kangen banget sama kamu." sambil memeluk Icha dan kemudian cupika-cupiki, "Kenapa kamu tidak pernah main lagi kesini."


"Iya tan, Icha sibuk soalnya." bohongnya, sibuk apaan dia, gak mungkin sibuk belajarkan, pasalnya Icha gak pernah tuh buka buku pelajarannya.


Pandangan mamanya Lea beralih pada dua laki-laki tampan yang ada dibelakang Lea, tanpa meninggalkan senyum dibibirnya mama Lea menyapa, "Dan siapa dua cowok tampan ini."


"Ohhh, ini Laskar tante." tunjuk Icha.


"Laskar, pacar kamu itu."


"Iya tante." jawab Laskar apaadanya.


"Lea, pasti dia cerita ke mamanya kalau gue punya pacar, tuh anakkan anak mami banget, apa apa diceritaiin, dasar ember memang dia." Icha membatin.


Laskar menyalami mama Lea, "Tampan sekali kamu, Icha benar-benar pintar milih pacar." mama Lea menyuarakan suara hatinya.


"Ahh, tante bisa aja." ujar Laskar malu-malu karna dipuji begitu.


"Dan yang ini Aslan tante." Icha memperkenalkan, Icha yakin, mama Lea pasti kenal Aslan meskipun cuma nama doank, karna Icha yakin 1000 % kalau Lea sering curhat pada mamanya tentang laki-laki yang disukainya.


Dan benar saja, begitu nama Aslan disebut, mama Lea langsung melebarkan matanya gitu, meneliti setiap jengkal bagian tubuh laki-laki yang selama ini disukai oleh putrinya, Aslan jadi risih dipandang kayak mahluk langka begitu.


"Ohhhh." bibirnya sampai membulat sempurna begitu, "Ini yang namanya Aslan."


"Iya tante, saya Aslan, kenapa ya."


"Kamukan cowok yang sering diceritakan oleh Lea"


"Maksudnya tante." heran Aslan, ya heranlah dia, kenapa Lea sering menceritakan tentang dia pada mamanya, padahal bisa dibilang dia sama Lea hanya sebatas teman sekelas doank.


Mama Lea yang keceplosan hampir saja membuka rahasia anaknya, dia langsung mengerahkan kemampuan mengarang bebasnya, "Maksud tante, Lea sering cerita sama tante, kalau Laskar itu murid paling pinter dikelas, sering juara satu, murid teladan, Lea katanya iri sama kamu saking pinternya."


"Aslan gak sepintar itu kok tan." Aslan merendah.


Mama Lea memandang Aslan intens, sembari menilai, dalam hati bergumam, "Lea memang pinter memilih, nieh anak memang paket komplit, udah tampan, pintar, anak orang kaya lagi."


Terus dipandang begitu membuat Aslan jadi risih, dia menginjak kaki Icha sebagai sebuah kode meminta Icha untuk menanyakan Lea yang belum nampak batang hidungnya, agar mereka segera pergi dari rumah Lea.


"Aww." Icha meringis pelan karna kakinya diinjak dengan sengaja, namun dia mengerti kode yang diberikan oleh Aslan, "Tan, Leanya mana ya."


"Oh Lea, masih siap-siap dia."


"Lamaaa banget ya siap-siapnya, sejak dari zaman penjajahan." ujar Laskar.


"Namanya juga wanita, memang butuh waktu lama untuk bersiap-siap, apalagi didepan laki-laki yang disukai."


"Sambil menunggu Lea, ayok duduk dulu, sebentar lagi dia pasti turun."


"Iya tante."


"Kalian tunggu sebentar ya, tante mau bikin minum dulu."


"Gak usah repot-repot tan."

__ADS_1


"Gak repot kok, duduk santai saja dulu sebentar."


Sepuluh menit kemudian, barulah Lea muncul, dan memang usaha tidak menghianati hasil, buktinya Lea terlihat cantik dan anggun.


"Maaf ya lama." Lea curi-curi pandang ke arah Aslan, dia sieh berharapnya Aslan memberikan pujian.


"Anak mama, cantik sekali." puji sang mama.


"Makasih ma."


"Ternyata gak sia-sia lo membutuhkan waktu lama moles wajah lo Le, lo cantik banget." puji Laskar.


"Awas lho Laskar, ntar Icha cemburu kamu muji cewek lain."


Icha menukas, "Tenang aja tan, Icha bukan tipe cewek alay yang hanya karna Laskar muji kecantikan cewek lain membuat Icha jadi ngambek."


"Meskipun Icha gak dandan dan gak pakai ini itu, tetap sieh Icha yang paling cantik dimata aku." ujar Laskar.


Icha tersipu malu, sedangkan Lea malah menggoda, "Ciee, sweet banget sieh."


"Jadi berangkat gak kita." Aslan yang dari tadi diam mengintrupsi.


"Ya udah sana kalian mending pergi sekarang." perintah mama Lea, "Oh ya satu lagi, pulangnya jangan malam-malam."


"Beres tan."


"Pamit ya tan."


"Aslann, tante titip Lea ya." mama Lea memberi pesan khusus pada Aslan.


"Iya tan."


"Dia anaknya manja, tidak biasa keluar malam malam, jadi, tolong ya dijaga, tante mengandalkan kamu lho." mama Lea menepuk lengan Aslan.


"Iya tan." lisan Aslan, "Kenapa mamanya Lea hanya nitipinnya ke gue, padahalkan ada Laskar dan Icha." gumamnya dalam hati.


"Ma, apaan sieh, malu tahu, Lea kan udah gede, masak pakai dititip-titip segala." Lea protes, tapi dalam hati senang banget dia, apalagi Aslan mengiyakan keinginan mamanya.


"Pokoknya tante tenang saja, Aslan akan menjaga Lea dengan nyawanya sendiri, benarkan Lan." sahut Icha.


Aslan hanya mengangguk, namun dalam hati dia protes, "Apa-apaan sieh Icha, dramatis amet, difikir gue bodygouardnya Lea apa."


"Jadi tenang tante."


Dan mereka berjalan beriringan keluar, mama Lea mengikuti untuk mengantar kepergian putrinya.


"Jadi, itu cowok yang sering kamu sukai, tampan sekali, sopan lagi, mama suka." mama Lea berbisik ditelinga Lea.


"Apaan sieh ma, ntar Aslannya denger lagi."


Tidak mempedulikan kalimat Lea, mamanya kembali berkata, "Kamu harus bisa mendapatkannya sayang, mama selalu dukung kamu."


"Doain Lea ya ma."

__ADS_1


"Pasti."


****


__ADS_2