
Putri mengantarkan Kevin ke Bandara.
Saat melambaikan tangannya, Putri melepaskan air matanya jatuh di pipinya. Ia akan merindukan sosok itu. Sambil meraba perutnya yang sedikit menonjol, ia terus melambaikan tangannya. Keputusannya untuk istirahat di rumah keluarganya, membuat ia harus berpisah dari suaminya.
"Sayang, ingat. Kau harus sehat terus. Jaga kesehatanmu dan anak kita. Pakai uangmu untuk membeli keperluan selama di sana. Kau bisa membeli apa saja, kalau kurang, kabari aku, aku akan segera mentransfer uang kembali. I love you." pesan itu yang dibaca Putri berulang kali. Sampai tak sadar, mereka sudah sampai di rumah.
"Sayang, aku udah sampai di kantor. Aku langsung kerja ya" suara Kevin membuat Putri rindu.
Siang itu, Kevin dan Ajin sedang membicarakan masalah perusahaan. Tiba-tiba terdengar kericuhan dari luar. Ajin mengintip dari dalam.
"Bernika". bisik Ajin.
"Kita jalankan misi kita, sebentar." Ajin menyiapkan kamera yang sengaja mereka pasang.
Ajin keluar ruangan.
"Hei, kamu. Sekretaris Kevin. Lihat perempuan ini, ia melarang ku untuk masuk ke dalam ruangan. Apa maksudnya. Kau lihat saja, aku akan mengadukanmu kepada Kevin. Lihat saja, kau akan segera di pecat" ucapnya sambil berjalan menuju ruang Kevin.
"Maaf, nona. Pak Kevin sedang menerima telepon. Apa anda bisa menunggu sebentar?" tanya Ajin.
"Apalagi kau ini, minggir" Bernika mendorong tubuh Ajin.
"Sayang," sapa Bernika manis, sambil memeluk Kevin dari belakang
"Siapa itu, Vin?" tanya suara yang sedang video call dengan Kevin.
__ADS_1
"Hey.. Bukankah itu Bernika?"
"Oh Hai Tante.. Apa kabar?"
"Senang sekali melihat kalian berdua. Cocok sekali."
"Mami" Kevin tampk kesal.
"Nah gitu dong, kalian harus segera menikah"
"Mami, aku sudah menikah" Kevin melepaskan tangan Bernika yang melingkar di lehernya.
"Kevin" ucap Bernika kesal.
"Vin, sudahlah. Kurang apa Bernika. Cantik, sukses, dan sama seperti kita. Mami akan bahagia kalau kau menikah dengannya." ucap Rani.
"Mami akan segera ke Indonesia, kita akan pecahkan masalah ini bersama. Serahkan semua kepada mami. Asal kau ikuti kata mami."
Bernika duduk di sebelah Kevin.
"Terima kasih Tante. Aku akan setia kali ini. Aku janji" ucap Bernika dengan semangat.
"Ya sudah, papimu sebentar lagi pulang. Aku mau siap-siap untuk papimu. Bye Kevin, bye Bernika"
Kevin mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Sayang, kemana saja, aku kan merindukanmu" Bernika berbuat manja kepada Kevin.
"Aku sibuk. Kerjaanmu menumpuk"
"Aku kesal dengan sekretarismu yang perempuan itu, ia sangat tidak ramah kepadaku. Pecat saja dia, ya Kevin. Aku mau kau memecatnya."
"Tidak segampang itu, Bernika. Kerjanya cukup baik, mungkin akan akau kasih peringatan saja. Tapi, aku mau kau jangan sering ke kantor ini, kita bertemu di luar saja. Nanti aku akan menghampirimu" ucap Kevin.
"Are you serius?" Bernika seperti dapat angin segar.
"Yess, off course. Nanti saat mami dan papi ada, kita makan bersama. Bagaimana menurutmu." ucap Kevin.
"Ok.. Aku setuju."
"Sekarang aku banyak kerjaan, kau bisa pulang dulu. Oke"
"Oke, Vin. See you" kemudian sebuah kecupan menempel di pipi Kevin.
Saat Bernika keluar, Ajin masuk ke dalam ruangan itu.
"Apa yang kau lakukan? Wah, dapat bonus dari rencana ini" Ajin terkekeh melihat Kevin membersihkan noda lipstik di wajahnya.
Di perjalanan, Bernika tampak sibuk menekan tombol di ponselnya.
"Aku sudah berhasil mendekati lelaki bodoh itu." kemudian ia tersenyum sinis dan meletakkan ponselnya kembali.
__ADS_1
"Anak dan orang tua yang bodoh." ucapnya sinis.
Kevin dan Ajin tampak masih sibuk menyusun stretegi bagaimana untuk membuat maminya Kevin sadar, dan menjauhkan Bernika dari kelurganya.