
"Tidak usah mengikutiku. Jaga mami baik-baik. Jangan sampai abangmu tau, kalau mami menghampiriku."
"Kak.."
Putri melangkahkan kakinya keluar kamar itu sambil menghapus air matanya.
Ia tidak tau harus kemana. Ia seorang yang tidak kenal tempat itu.
Langkahnya terhenti karena menabrak tubuh seseorang.
"Aw" Putri menahan sakit di kepalanya.
"Sayang.. mau kemana malam begini?" tanya Kevin, dibelakangnya ada Ajin yang membawa belanjaan yang lumayan banyak.
"Vin.. oh.. itu.. Tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu. Aku keluar ingin mencari angin segar." Jawab Putri bohong.
"Baiklah, kita jalan dulu ya, Jin.. Bawa masuk barang-barang ini" Kevin membalikkan tubuhnya dan segera memeluk Putri.
Hati Putri sakit, semua omongan mertuanya membuat ia harus kuat berdiri dan melangkah. Terkadang ia hampir jatuh.
"Sayang, kamu kenapa? Kenapa tidak fokus. Kamu tidak enak badan?"
Tangan Kevin menyentuh pipi Putri.
"Kau demam. Kita pulang saja. Di luar dingin."
Putri menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa. Bagaimana kerjaanmu? Kita duduk di sana saja ya" ucap Putri menunjuk bangku panjang yang kosong.
"Tapi, sayang.. badanmu hangat" Kevin mencemaskan keadaan Putri.
Putri tersenyum dan menarik tangan kevin.
"Aku ingin memelukmu, mungkin ini yang terakhir kali" ucap Putri sambil menangis.
"Apa-apaan, kau tidak boleh bicara seperti ini. Kita akan terus bersama. Aku, tidak akan meninggalkanmu. Aku, mencintaimu, Putri"
Putri hanya diam sambil memeluk tubuh Kevin. Ia pun membiarkan Putri memeluknya.
"Sayang.. kita kembali ke kamar" ajak Kevin.
Tapi Putri tetap diam, dan tak lama melepaskan tangannya.
"Tante.. Apa kabar? Apa yang sedang Tante lakukan di sini?" tanya Ajin ramah.
"Baik, kau lihat kan, Tante sehat. Tante mau mengunjungi sahabatmu itu, tapi dia belum pulang. Ya sudahlah, Tante pulang ya. Ajaklah Kevin mengunjungi Tante dan om, Kau tau kan tempatnya. Lagian kenapa harus tinggal di sini, sedangkan ia punya orang tua yang harus ia kunjungi. Ajaklah dia ya. Kau harus membujuknya. Tapi tidak usah membawa perempuan sial itu." ucap Bu Rani
"Maksudnya, Tante sudah bertemu nona Putri?" Muka Ajin langsung berubah drastis.
"Ya tentu, tadi aku memakinya, tapi dia perempuan sombong, ia tidak mau menerima uang dariku. Ya sudahlah. Tante lelah berdebat dengan Andre. Dimana Kevin?"
"Tante... ada apa dengan Tante. Kenapa mesti seperti itu. Kevin menemani Putri, aku disuruh duluan masuk membawa belanjaan Kevin"
"Pantas saja dia tidak menerima uangku, ternyata, sudah sekali banyak yang ia terima dari Kevin. Setelah Ruko, apalagi?"
__ADS_1
"Tante, pulanglah, nanti aku telepon saja ya. Istirahatlah. Selamat malam" Ajin melangkah menuju kamar Kevin.
Pikiran Ajin langsung kemana-mana.
"Pantas saja muka Putri seperti orang habis menangis dan menahan emosi. Kasian sekali dia. Padahal Kevin ingin sekali membahagiakan Putri malam ini. Ternyata.."
Ajin duduk di sofa kamar Kevin, sambil menarik nafas lega.
*Kevin membangunkan Putri yang tertidur.
Tapi Putri tidak bangun juga
Akhirnya ia menggendong tubuh mungil itu masuk ke dalam hotel. Ajin masih setia menunggu bosnya.
"Bantu aku," ucap Kevin kepada Ajin.
"Ada apa?" tanya Ajin
"Sepertinya ia demam." Kevin membuka sepatu yang dipakai Putri, dan menyelimutinya.
"Terima kasih, besok jadwal kita sudah habis kan?" tanya Kevin.
"Ya bos, tapi..." Ajin menghentikan pembicaraan itu. Ia tidak tau cara bagaimana memberi tahu Kevin, kalau ia bertemu dengan maminya.
** ayo, vote lagi dan vote terus
.😍😍😍
__ADS_1