
Ajin sudah berdiri di depan mobilnya ketika Vena keluar dari ruko.
"Hai" sapa Ajin mengagetkan Vena.
"Loh, kenapa jemput?" tanya Vena.
"Bukannya kau senang kalau aku jemput?" Ajin pura-pura marah.
"Mana ada perempuan tidak senang, kalau ia dijemput orang setampan kau" Lalu Vena tertawa.
"Ayolah, aku tidak bisa lama-lama, aku masih ada pekerjaan" ajak Ajin.
"Kenapa menjemputku?" tanya Vena.
"Aku mau melihat, kau memakai celana panjang" goda Ajin.
Ajin yang dulu sangat dingin, kini sudah bisa bercanda. Entah bagaimana, Vena merubah sifatnya.
"Ternyata kau jelek memakai celana panjang ya. Lebih baik kau pakai rok pendekmu saja" guyon Ajin.
"Heiiii" Vena memukul Ajin yang sedang menyetir.
Ajin tertawa terbahak-bahak.
"Tidak, kau lebih baik begini. Aku suka melihatmu seperti ini, yang pasti kau tidak membuat banyak orang berdosa karena melihat bagian tubuhmu" Ajin tetap fokus menjalankan kendaraannya
Vena tersenyum.
"Terima kasih sudah mau menjadi temanku" ucap Vena.
Ajin menganggukkan kepalanya.
"Kau mau makan apa?" tanya Ajin.
"Tidak, kau kan harus buru-buru."
"Siapa yang mengajak kau untuk makan malam. Aku hanya bertanya saja" ucap Ajin
__ADS_1
"Hisss" Vena membuang mukanya karena kesal
"Tidak usah ditekuk, mukamu sudah jelek, jangan buat makin jelek" Ajin mencoba mencairkan suasana. Ia berhenti di sebuah rumah makan Padang.
"Kau tunggu ya" ucapnya kemudian ia turun.
Vena masih diam membisu.
"Ven," sapa Putri dari ponselnya.
"Putriii... kamu kapan pulang? Aku kan rindu." Vena senang sekali mendengar suara Putri.
"Aku akan pulang kalau Kevin menjemputku. Dimana kau? Bagaimana BV? Apakah kau sudah pulang dari ruko?" tanya Putri.
"Banyak amat nanyanya. Aku lagi di mobil Ajin. BV baik-baik saja, aku sudah pulang dijemput Ajin"
"Wah.. kemajuan ya. Senang sekali mendengarnya. Aku mengganggu kalian ya. Ya sudah lanjutkan. Semoga kalian jadi ya"
"Jadi apanya, aku tidak tau bagaimana kalau aku jadi dengan dia. Bakalan ribut setiap.." Vena menghentikan ucapannya.
"setiap apa?" tanya Putri.
"Habis menelpon siapa?" Muka Ajin sangat penasaran.
"Temanku" jawab Vena ketus.
"Teman? Laki-laki atau perempuan?" Kevin mengeluarkan tangannya memberikan uang parkir. Dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka.
"Mau tau saja" ucap Vena.
Ajin menjalankan mobilnya dengan kencang.
"Ajin. apa-apaan" Vena berpegangan pada kursinya.
"Tadi yang menelpon itu Putri. Puas" lanjutnya
Ajin memelankan kecepatan mobilnya.
__ADS_1
"Huft. kau ini, bagaimana kalau terjadi sesuatu. Aku kan belum menikah" spontan ucapan itu keluar dari mulut Vena.
Ajin hanya tersenyum
"Memangnya kau sudah punya pacar?" tanya Ajin.
"Belumlah, aku tidak memikirkan punya pacar" jawab Vena masih mengatur nafasnya yang ketakutan.
"Bagaimana kau akan menikah? Pacar saja belum punya" ledek Ajin.
"Aku tidak mau pacaran, capek. Mending langsung nikah, kalau sudah ada calon yang cocok ngapain lama-lama" jawab Vena.
"Memangnya sudah ada calonnya?" tanya Ajin.
"Entahlah, mama sudah menjodohkan aku" jawab Vena
"Dijodohkan, ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi kali, nona" Ajin sudah dengan muka serius.
"Entahlah, dari pada aku tidak menikah, lebih baik aku menyetujui perjodohan orang tuaku" Vena tidak tau, kalau Ajin sangat kecewa dengan keputusan Vena.
Mobil Ajin berhenti di depan Kos-kosan Vena.
"apa kau serius?" tanya Ajin
"Yang mana?" tanya Vena
"Perjodohan itu?" Jawab Ajin sambil membukakan pintu mobilnya, dan meletakkan tangannya di atas kepala Vena.
"Kalau aku tidak punya pilihan, aku akan menyetujuinya" ucap Vena sedih
Ajin lemas.
Ia sebenarnya sudah menyiapkan sebuah cincin untuk Vena. Tapi, ia takut untuk memberikannya.
"Kau mau masuk dulu?" tanya Vena.
"Tidak, lain kali saja. Aku ada kerjaan. Ini, jangan lupa makan. Nanti kau sakit" Ajin menyerahkan bungkusan berupa kotak ke tangan Vena.
__ADS_1
**Siapa yang setuju kalau Vena dan Ajin kita jodohkan? 😅😅😅