Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Cincin #2


__ADS_3

"Apa boleh aku berpikir dulu?" tanya Vena.


"Tentu. Silahkan, itu hakmu" ucap Ajin.


Vena bingung harus bagaimana.


Sebenarnya, Vena juga menaruh hati kepada Ajin. Tapi... Ia menutup matanya pelan-pelan.


Vena turun dari mobil, dan memandang jauh keluar. Ia membuka kotak itu, kemudian menutup kembali. Ia menoleh ke arah Ajin.


Ia mengingat, betapa Ajin mau menjaganya, dan menghawatirkan dirinya.


Laki-laki berperawak kurus tinggi, dengan kulit sawo matang itu turun dari mobilnya.


"Sudahlah, kita anggap saja ini semua permainan" ucap Ajin yang tidak mau terlihat kecewa. Ia sadar, tindakannya terlalu cepat. Ia juga sadar, keputusan untuk menikah bukan hal yang sepele.


Vena mendekati Ajin.


Ia menggenggam tangan Ajin.


"Maaf," ucapnya sambil terus menggenggam tangan Ajin.


Ajin tersenyum ikhlas.


Tapi, hal yang tidak pernah disangkanya, Vena memasangkan cincin itu ke jari manisnya. Ajin terkejut, dan tidak tau perasaan apa yang ada di dadanya. Rasa bahagia itu melebihi apa yang pernah ia rasakan. Berkali-kali ia menatap Vena dan jarinya, dan ia masih tidak percaya.


"Kau..kau.. kau.. ahhh.. kau serius?" Rona bahagia terpancar di wajah Ajin.


Vena tersenyum malu dan mengangguk. Ia menundukkan kepalanya. Rambutnya yang tergerai panjang, tertiup oleh angin pantai.


"Ahh.. aku tidak percaya. Aaahhhh... bagaimana ini? woooooooowwww" Ajin berteriak bahagia.

__ADS_1


Vena menutup mulut Ajin,


"Heh, jangan buat aku malu" ucap Vena.


Orang-orang yang sedang jalan, melirik ke arah Ajin.


"Dia menerima lamaran ku" ucapnya berbicara dengan orang-orang yang sedang melihat mereka.


"Paaakk..." ucap Vena pelan mencubit lengan Ajin.


"Kau serius menerima lamaran ku?" tanya Ajin.


"Iya, sudah. Aku haus. Aku mau minum. Bukakan pintu mobil" ucap Vena menunduk, masih merasa malu, dengan kelakuan Ajin yang Vena sendiri tidak tau harus bagaimana.


"Baik. baik. baik" Ajin berjalan duluan membukakan pintu mobil untuk Vena.


Vena pun bernafas lega, karena keputusan ini sangatlah berat baginya.


"Tidak. Udah, jangan di bahas lagi, aku malu" ucap Vena.


Ajin mengambil kotak yang ada di tangan Vena. Dan mengambil cincin yang ada di dalamnya, ia memakaikan cincin itu ke jari manis Vena.


Ia lega, walaupun di awal ia merasa kesal.


"Kemarikan tanganmu" Ajin meletakkan tangan mereka di atas dashboard. Dan mengambil gambarnya.


"Terima kasih, Ven. Kau terima cincin ini. Aku bingung harus mengatakan apa. Tapi, terima kasih" ucapnya menggenggam tangan Vena.


"Terima kasih sudah menjagaku selama ini, aku akan terus merepotkan mu mulai saat ini."


"Tidak, kau tidak pernah merepotkanku. Aku berjanji akan selalu menjagamu" Ajin terus menggenggam tangan Vena.

__ADS_1


Ia terlalu bahagia, sampai tidak bisa berkata apa-apa. Ajin mengirimkan foto tadi ke Kevin, sahabatnya sekaligus bosnya di kantor.


Kevin yang masih memeluk Putri, mengambil ponselnya yang bergetar, dan membukanya.


"Sayang.. kau lihat. Ini Ajin. Ia mengirim gambar tangan yang sudah terpasang cincin. Akhirnya si bodoh itu melamar seseorang. Akhirnya dia tidak jomblo lagi." Kevin bahagia sekali.


"Siapa cewek bodoh yang mau menerima cincin itu?" tanya Kevin membalas pesan singkat itu.


A : Kau sudah kenal dengannya.


K : Maksudmu?


A : Sahabat istrimu, siapa lagi?


K : Kau serius?


A: Apa aku terlihat sedang becanda?


Ajin mencuri foto Vena yang memandang cincinnya dan mengirim gambar itu ke Kevin.


A: Ini kalau kau tidak percaya.


Kevin memeluk Putri.


"Akhirnyaaa.... mereka bersamaa" teriak Kevin. Putri tersenyum dan ikut bahagia atas sahabatnya.


Tiba-tiba, ponsel Putri berbunyi, sebuah pesan masuk ke ponselnya


"Sayang, itu pasti dari Vena" ucap Kevin.


Putri mengambil ponselnya, seketika wajahnya berubah drastis.

__ADS_1


__ADS_2