
"Papi" sapa Putri.
"Hi, sweetie. How are you?"
"Sehat, pi. Papi apa kabar?"
"Well.. papi sehat, tapi papi merasakan sesuatu terjadi padamu. Tell me."
"No, Pi. everything alright. Kapan papi ke Indonesia, Putri rindu papi" ucapnya tiba-tiba menangis.
Harry mendengar isak tangis Putri.
"I know, something wrong with you. Sweetie, pergilah liburan, papi kirim ke rekening kau, carilah tempat untuk kau senang-senang. Jaga kesehatanmu dan cucu papi."
"Thank you, Pi." ucap Putri menghapus air matanya.
Vena hanya melihat Putri yang sedang berbicara dengan mertuanya.
"Hm.. Kenapa tidak bicara sejujurnya, put" ucap Vena.
"Sudahlah Ven. Tidak akan menyelesaikan masalah" ucap Putri.
Ia bangun dan mencuci mukanya.
"Pergilah ke ruko, anak² akan datang." ucap Putri.
"Tidak, kalau kau ikut denganku, aku akan pergi, aku tidak akan tenang selama aku di sana. Ayolah kita ke ruko, kau akan terhibur dengan anak-anak di sana" ajak Vena.
**Di kantor, Kevin tidak tenang. Ia terus memikirkan keadaan Putri.
"Dimana kau?" tanya Kevin.
"Aku baru sampai. Sebentar aku tiba di ruanganmu" jawab Ajin.
Pintu ruangan diketuk, dan Ajin masuk ke ruangan Kevin.
"Bagaimana istriku?" tanyanya.
"Ia aman di rumah Vena"
"Kenapa tidak kau antar pulang ke rumah kami?"
"Dia tidak mau"
__ADS_1
"Kenapa tidak mau"
"Sudahlah, lebih baik dia ditemani Vena daripada dia menangis tanpa ada orang yang memeluknya. Aku akan kembali ke mejaku, pekerjaanku sudah menanti" Ajin keluar dari ruangan itu. Sebenarnya, Ajin juga begitu kesalnya dengan sikap Kevin yang tidak tegas.
"Laki-laki bodoh, sudah di campakkan masih mau saja di datangi, bukannya diusir, kena batunya dia" ucap Ajin dalam hati.
Kevin sangat tidak fokus dalam pekerjaan. Dalam meeting pun dia banyak diam, dan akhirnya, Ajin yang harus berbicara.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana. Putri pasti sangat kecewa."
**Putri dan Vena sudah ada di ruko. Mereka menyambut siswa dengan senyum ramah.
"Hi, kalian." sapa seorang laki-laki.
"Sampai ketemu nanti, sayang" ucapnya melambaikan tangan ke seorang siswa perempuan.
"Hi, James. Tumben mengantarkan Lila , biasanya hanya menjemput saja" sapa Vena.
"Aku sengaja ingin mengantar dia hari ini, karena dia ulang tahun, dan dia meminta aku untuk mengantarnya. Put, kenapa mukamu pucat sekali. Bukannya kau harus istirahat" ujar James.
"Tidak apa-apa, aku akan sakit kalau hanya diam."
"Okelah, aku akan kembali ke kantor. Aku titip keponakanku ya." ucap James dan ia berlalu.
"Put, kau istirahat di kamar atas saja ya" ucap Vena.
Entah bagaimana, ia tertidur, sampai akhirnya, Vena membangunkannya lagi.
"Put, apa kita harus bermalam di sini? Kalau iya, aku akan mengunci pintu bawah." Vena menunggu jawaban dari Putri.
"Tidak, kita kembali ke kosan saja. Aku boleh bermalam di kamarmu, kan?" tanya Putri.
"sangat boleh, baiklah, ayo turun. kita pulang" ajak Vena
Setelah mengunci pintu ruko, mereka jalan menuju halte. Tapi mobil Ajin sudah berada di sebelah mereka.
"Ayo, aku antar kalian" ajak Ajin.
Tanpa pikir panjang, mereka naik ke mobil Ajin.
"Hari ini, si bos banyak murung, ia tidak konsen dengan pekerjaan. Aku tidak tau, apakah tender itu akan kami dapatkan." Ajin memulai pembicaraan. Vena mencubit lengan Ajin.
"Aw, sakit."teriak Ajin.
__ADS_1
"Apa kau tidak bisa kalau tidak membicarakan bosmu itu? Lihat keadaan Putri. Ia sedang sangat sedih" ucap Vena.
"Aku kan memberi info kepada sahabatmu saja"
"Tapi tidak sekarang"
Putri tersenyum, dan menutup mulutnya, ia merasa lucu melihat 2 orang di depannya itu, seperti tom Jerry,
"Pak Ajin, bisakah kau mengantarkan pakaianku? Sementara aku akan tinggal bersama Vena. Tapi entah besok-besok, apa aku akan pulang ke kampung. Bawakan aku beberapa pakaian ya, minta bantu si mbak"
"Baik nyonya" ucap Ajin kembali dingin.
"Turunkan kami di alun-alun itu saja, aku ingin menghirup udara segar" ucap Putri.
Ajin memarkirkan mobilnya di alun-alun kota.
Putri diam diantara keramaian tempat itu.
Ia kembali menitikkan air matanya,
"Biasanya, malam begini, Kevin membelikan aku makanan." ucapnya.
"Sekarang, aku membeli makanan sendiri." ucapan itu terdengar menyakitkan di telinga Vena dan Ajin.
"Sayang, kau mau makan apa?"
"Aku mau harum manis itu" Putri tersentak.
Ia melirik ke belakang, Kevin yang tampan sudah berada di belakangnya. Ia buru-buru menghapus air matanya.
Kevin segera membelikan 5 bungkus harum manis, dan menyerahkan kepada Putri. Orang-orang yang melihat Kevin langsung tersenyum.
"Ini, sayang." Kevin menyerahkan semua kepada Putri.
Putri yang masih terdiam, dan tak percaya ada Kevin di sana. "Mau aku bukakan?"
Putri terdiam dan memeluk lengan Vena.
Vena juga bingung, kenapa tiba-tiba Kevin datang. Ia melirik ke arah Ajin. Ajin hanya tersenyum.
"Jangan bilang, semua ini adalah idemu" Vena melirik tajam ke arah Ajin.
Ajin hanya tersenyum sinis, dan memalingkan pandangannya.
__ADS_1
"apa kau tidak mau mengajakku makan ke tempat favoritmu?" tanya Ajin menarik baju Vena.
Tinggallah Putri dan Kevin. Mereka masih saling pandang.