
Kevin membawa istrinya pulang. Ajin dan Vena duduk di depan.
"Kau harus segera pulih, sayang. Agar kita bisa ikut ke tempat Vena. Aku mau menyaksikan bagaimana groginya dia bertemu orang tua Vena" Kevin terus bercanda
"Ish.. kau ini. Belum puas juga menggodaku. Jangan dengarkan dia, ven" muka Ajin memerah.
Di perjalanan, ponsel Kevin berdering.
Sebuah nomor tidak di kenal.
"Siapa, Vin?" tanya Putri.
"Entah, biarkan saja. Aku malas menjawabnya"
Sampai di rumah, keluarga O'Leary sudah menunggu kedatangan Putri
Mami yang tadinya jahat dan kejam terhadap Putri, sekarang berbalik 180 derajat. Kini hidup Putri sudah bahagia. Tidak nampak raut kepalsuan.
Keadaan Putri semakin sehat.
Pekerjaan Kevin pun semakin lancar.
"Pak, ada yang menunggu di lantai bawah." ucap Amira.
"Siapa?" tanya Kevin yang masih di depan laptopnya.
"Katanya seorang pengacara"
__ADS_1
"Pengacara? Apa maksudmu?" tanya Kevin
"Kau turun duluan, Jin, nanti aku menyusul.'"
Ajin segera menemui tamu itu.
"Apa maksud kedatangan anda? Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Ajin.
"Saya ingin bertemu dengan pak Kevin" ucapnya.
"Ada masalah apa?" Kevin datang tiba-tiba.
"oh. Pak Kevin?" tanya pengacara itu.
"Silahkan" Kevin mempersilahkan pengacara itu untuk duduk kembali.
"Maaf, saya mau menyerahkan ini, sebuah pesan dari Bu Bernika." Pengacara itu menyerahkan sebuah amplop.
"Vin. mungkin saat kau membaca surat ini, kau akan terkejut. Ya Vin. Aku mau meminta maaf kepadamu dan istrimu.Aku bersalah. Aku mohon. Demi cinta kita yang lalu, keluarkan aku dari sini. Aku tidak kuat, Vin. Maafkan aku. Kalau kau tidak menemuiku, dalam waktu 2x 24 jam, kau akan menyesalinya."isi surat itu membuat Kevin muak.
"Aku tidak peduli. Terserah. Sudahlah, membuang waktu saja. Kau bisa berhadapan langsung dengan pengacaraku." Kevin pamitan dan segera meninggalkan ruangan itu.
Sore hari, seorang laki-laki sudah menunggu di pintu keluar parkiran kantor Kevin.
"Selamat sore pak Kevin. Apa kabar?" tanya seorang laki-laki yang tidak dikenal itu.
"Sore, siapa anda?" Kevin menjawab salam laki-laki itu
__ADS_1
"Bisa kita bicara?" tanya laki-laki yang belum diketahui siapa dia.
"Maaf saya harus pulang, kalau memang keperluan kantor, kita bisa bicara besok saja. Ok" jawab Kevin santai.
"Tapi, pak"
"Saya buru-buru pulang, ayo Jin" ajak Kevin.
*Di mobil
"Kau kenal tadi siapa itu? Bagian apa dia di kantor?" tanya Kevin.
"Aku rasa bukan urusan kantor, aku tidak pernah melihatnya di kantor" jawab Ajin.
"Aku juga, aku pikir, apa aku yang tidak kenal dia di kantor, atau dia anak baru di kantor."
Kevin masih mengingat kejadian tadi.
"Apakah kau akan mengunjungi Bernika?" tanya Ajin.
"Entahlah, aku takut akan memukulnya. Karena dia, aku kehilangan anakku"
"Tapi, bagaimana kalau ancaman dia itu berlaku? Kau akan kena masalah, Vin. Karena sudah menerima surat itu dari pengacaranya."
"Entahlah, merepotkan saja. Kenapa aku dulu mencintainya? Kenapa aku dulu dengan mudah jatuh hati padanya?" gumam Kevin.
"Saranku, kau harus mengunjunginya, walau hanya 5 menit. Tapi kau harus bilang dulu ke om, Tante, dan Putri." saran Ajin, dan dia tetap fokus pada jalanan.
__ADS_1
"Entahlah, aku rasa, mami, papi juga tidak akan setuju dengan rencana ini." Kevin sudah membayangkan raut muka orang tuanya, begitu dia ceritakan hal ini.
"Sedangkan Putri. Ahh.. Aku tidak mau melihat rasa kecewanya lagi" ucap Kevin dalam hati.