
"Panggilkan aku dokter, segera" perintah Kevin.
"Siap, bos" Ajin keluar dan melaksanakan tugas dari bosnya.
Kevin terus memegang tangan Putri.
"Ada apa denganmu, sampai kau jadi demam seperti ini. Bukankah tadi Andre membawa kau pergi jalan. Kemana anak itu?" tanyanya dalam hati.
Kevin meraih ponselnya. Mencari nama Andre, kemudian menekan nomor itu.
"Andre. Dimana kamu? oh, ya sudah. Kalau begitu, besok saja. Putri sakit." kemudian Kevin menutup telepon itu. Ternyata Andre sedang pergi bersama temannya.
Kevin tidak tau, sebenarnya Andre menghindarinya. Ia takut berbicara, kalau tadi, mami mereka lah yang membuat Putri shock seperti itu.
"Tidak.. aku tidak seperti yang ibu bayangkan. Aku tulus mencintai anak ibu" Demam Putri makin tinggi dan ia mengigau, Kevin bingung harus bagaimana.
"Kemana Ajin ini. Lama sekali. Sayang, bersabarlah, Ajin akan kembali dengan membawa dokter." Kevin mendekap istrinya itu.
Sesekali ia mengganti kain kompres yang ditempel ke kepala Putri.
Pintu bel kamar berbunyi, Kevin langsung bangun dari sisi Putri.
__ADS_1
"Please, come in, doc"
Dokter memeriksa keadaan Putri.
Ia menuliskan resep, yang harus di tebus. Dokter mengatakan bahwa saat ini, Putri dalam keadaan shock. Ia memberikan obat penenang. Kemudian Ajin mengantarkan kembali dokter.
Kevin mengantarkan sampai pintu. Tanpa sengaja, ia melihat secarik kertas cek, dengan dibubuhi tanda tangan atas nama Rani O'Leary. Ia mengambil dan melihat lagi dengan jelas.
"Benar.. ini atas nama mami." Kevin mengingat pertemuan dirinya dengan Putri tadi di lantai dasar, raut muka Putri yang menyimpan kesedihan dan mata sembab akibat menangis.
"Apa yang mami bicarakan dengan Putri?" pertanyaan itu muncul di kepala Kevin.
"Vin.." terdengar suara dari arah kamar.
Kevin berlari mendekati Putri, dan duduk di sampingnya.
"Putri.. Sayang.. aku di sini."
Putri bangun dari tidurnya, ia memegang kepalanya yang terasa sangat berat.
"Tidur saja, sayang. Tidak usah bangun"
__ADS_1
Tapi Putri tetap duduk, mesti dibantu oleh Kevin.
"Kenapa belum ganti baju?" tanya Putri
"Maafkan aku ya, bukannya aku yang melayanimu. Vin, aku rasa, aku bukan istri yang sempurna untukmu. Aku minta kita pisah saja" ucapnya pelan sambil terus menangis.
"Apa ini? Ada apa ini? Apa yang membuat kamu seperti ini? Kamu sedang sakit, sayang. Istirahat saja ya, kalau sudah sembuh, kamu boleh cerita apa saja. Tidurlah. Mukamu sangat pucat."
"Apa kau mencintaiku, Vin?" tanya Putri yang sudah kembali dalam posisi tidur.
"Ya, jelas, jangan kau tanyakan lagi. Aku mencintaimu, karena kamu, aku bisa merasakan cinta itu lagi, karena kamu, aku merasakan sesuatu yang aneh di jantungku. Sudah sayang, tidak usah bertanya yang aneh-aneh dulu." Kevin mencium kening Putri, tapi Putri menolaknya.
"Aku lelah, Vin. Aku ingin istirahat." Putri membalikkan badannya memunggungi Kevin.
Terdengar Isak tangis dari bibir Putri. Tapi Kevin tidak tau harus berbuat apa. Ia menyelimuti Putri pelan-pelan. Kemudian keluar dari kamar itu. Ia terus mencari jawaban. Pagi tadi, ketika ia tinggalkan, Putri baik-baik saja. Bahkan Putri dan Andre sempat jalan bareng. Tiba-tiba, malam ini Putri sakit.
"Ada apa sebenarnya?"
Ia sedih dengan ucapan Putri, yang meminta pisah dari Kevin. Membayangkannya saja, Kevin sudah hampir gila, apalagi semua itu terjadi.
** **Putri, sungguh kasian kamu.
__ADS_1
Bagaimana kondisi pernikahan mereka nantinya?
Ayo, vote lagi yang banyak. Semakin banyak yang vote, like, dan komen, author semakin semangat buat lanjutin ceritanya**.