Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Awan


__ADS_3

"Bisakah kita makan di tempat lain saja?" tanya Putri dibalik punggung Kevin sambil berbisik.


"Kenapa? Kau tidak suka dengan tempatnya? Kurang istimewa kah? Kita akan naik di lantai atas. Tidak di sini" ajak Kevin sambil menggandeng tangan Putri.


Putri masih bersembunyi di balik badan Kevin.


"Putri" Alina melihat Putri dengan sangat kesal.


"Bagaimana dia bisa masuk ke dalam restoran ini?" tanyanya dalam hati.


"Apa? mereka mengambil tempat lounge? Apa aku tidak salah, laki-laki itu membawa Putri ke sana?" Alina sangat geram.


Alina tidak tau, pemilik restoran itu adalah Kevin. Jadi hanya Kevin yang boleh melihat keindahan tempat itu.


Pintu lift yang menuju lantai atas, terbuka, tidak ada seorangpun di sana. Hanya ada 1 meja dengan pemandangan yang sangat indah. Kevin menarik Putri yang masih mengagumi tempat itu.


"Boleh aku lihat ke sana?"


belum lagi Kevin menjawab, Putri sudah berlari ke tempat yang ia maksud.


Angin bertiup kencang, tapi Putri menikmatinya.


"Silahkan menikmati semuanya, Perempuanku" ucap Kevin.


Rambut Putri yang terbang mengikuti arah angin membuat Putri makin cantik. Sesekali ia merapikan rambutnya.


"Sini..." Putri memanggil Kevin.

__ADS_1


Kevin tersenyum melihat kelakuan Putri seperti anak kecil yang menggemaskan.


"Lihat awan itu.." Putri menunjuk awan yang cantik, memperlihatkan kekuasaan Tuhan.


Tapi bagi Kevin, Putri adalah ciptaan Tuhan yang paling indah sore itu. Matahari yang sudah ingin pulang ke peraduannya, membuat cahaya yang sedikit itu mempercantik pesona Putri yang sederhana.


Kevin membenahi rambut Putri yang berkibasan.


Putri terkejut, dan tersenyum. Ia memegang lengan Kevin.


"Itu.. lihat itu" kelakuan Putri seperti orang yang baru keluar rumah dan sesukanya berlari kesana kemari.


"Bos, bisakah ambilkan aku foto, dengan pemandangan yang indah ini? Ini ponselku. Tolong ya"


Ajin yang melihat kelakuan Putri, hendak menghentikan ide gilanya itu, tapi,


Berbagai pose, dilakukan Putri. Kevin makin tidak bisa menahan kalau ia ingin sekali mengucapkan kata-kata indah.


"Bos, makanan sudah siap. Silahkan" ucap Ajin.


"Kamu mau terus di sana atau mau makan?"


Putri berdecis kesal.


Kumat lagi dia.


"Hei.. kenapa sekretarismu tidak makan bersama kita? Makanan ini sangat banyak. Pak sekretaris, sini. Kita makan bersama," ajak Putri mempersilahkan Ajin untuk duduk bersama.

__ADS_1


Suasana hati Kevin sedang baik.


"Mari kita makan bersama"


"Tidak, bos, anda saja, saya belum lapar" ucap Ajin.


"Belum lapar? Anda berbohong. Kita belum makan dari pagi. Hanya makanan kecil saja. Ayolah. Kau bukan bos yang jahat kan?"


Kevin melirik Ajin, dan memberi kode untuk makan bersama.


Putri mengambilkan makanan ke Ajin, tapi muka Kevin seperti orang cemburu. Ia mengambil tangan Putri yang hendak memberi makanan ke piring Ajin untuk diletakkan ke piringnya juga.


"Tenang, bos. Aku tidak akan mencuri perempuanmu" ucap Ajin pelan kepada bosnya yang tampak sangat kesal.


Mereka menikmati makan yang enak itu.


"Masih mau disini atau kita pulang?" tanya Kevin.


"Nanti, boleh? Aku kan masih ingin melihat pemandangan dari atas." ucap Putri.


"Siapkan makanan kecil, kita ikuti kemauannya, sampai dia puas di sini" perintah Ajin.


"Kalau aku butuhkan, aku akan panggil kamu"


lanjutnya lagi.


Ajin menjauh dari mereka yang seperti dimabuk asmara.

__ADS_1


__ADS_2