
Putri memeluk Kevin dengan muka yang sedikit masam.
"Vin.. terima kasih, kau sudah mau menemani hari-hariku. Ayo, kita ke sana" tunjuk Putri sambil menggandeng tangan Kevin.
Desiran ombak itu, seperti lagu yang tersusun indah. Damai, tenang. Putri mengambil posisi duduk di samping kevin, sambil bersandar di punggung Kevin.
"Seandainya, di dalam perutku masih ada anak kita" ucap Putri pelan.
"Hey.. sudah.. kita memang kehilangan anak kita, tapi, dia adalah tabungan kita di akhirat. Ikhlaskan dia pergi. Bukan kemauan kita dia pergi" ucap Kevin membalikkan badannya menghadap Putri.
"Kau adalah seorang istri dan ibu yang baik, aku percaya, tuhan akan menitipkan kita anak-anak yang lucu." ucap Kevin mencubit pipi Putri.
"Sudah hampir Maghrib. Ayo kita pulang." ajak Kevin.
Seperti pengantin baru, mereka jalan bergandengan tangan.
Kevin merasa sebuah panggilan telepon seluler masuk.
"Roni" ucap Putri yang mengambil ponsel milik Kevin di dashboard.
"Mau apa lagi dia, pasti urusan Bernika"
Kevin mengabaikan bunyi deringan dari ponselnya.
"Vin, siapa tau ada yang sangat penting untuk dibicarakan" Putri membelai lengan Kevin.
"Hallo" suara Kevin sedang tidak enak di dengar.
"Kevin, maafkan aku mengganggu hari liburmu, aku mau minta tolong. Bernika. Bernika, Vin"
"Ada apa memangnya?"
__ADS_1
"Bernika mencoba untuk mengakhiri hidupnya"
Kevin dan Putri terkejut mendengarnya.
"Aku mohon bantu aku, Vin" suara Roni sangat menghawatirkan kondisi Bernika.
Kevin melirik Putri. Putri memberi isyarat dengan mengangguk kepalanya.
"Tunggulah, aku akan kesana" ucap Kevin santai.
"Viin.. kita harus memaafkan Bernika. Walau nanti hukum yang akan mengadilinya."
"Tapi..."
"Aku yang lebih terpukul, tapi aku menyadari, dendam tidak akan menyelesaikan suatu keadaan." jelas Putri.
"Terkadang aku tidak mengerti, tuhan menciptakan hatimu dari apa? Kau sudah tersakiti, tapi kau memaafkan perbuatan dia yang sudah merenggut nyawa anak kita" Kevin memukul stir mobilnya.
"Aku menyadari, semua sudah tuhan rencanakan untuk kita. Mungkin Tuhan bilang, kita belum mampu mengurus seorang anak. Tapi, tuhan juga akan memberikan kita keturunan saat hati kita siap" Putri mengelus tangan Kevin.
"Baiklah, akan aku coba"
"Aku sudah bilang kepadamu, kau adalah lelaki yang dikirim Tuhan untuk menemani hari-hariku. Aku sangat bersyukur mempunyai suami yang tampan, baik hati, walau sekarang sudah sedikit lebih baik dari pada dulu yang sombong" Kevin tersenyum saat Putri tertawa mengejeknya.
Di parkiran lapas, Roni sudah menunggu.
"Bernika di rawat di sana, ikuti aku" Roni bergegas mengajak Kevin dan Putri menuju tempat perawatan Bernika.
Bernika tampak lemas, perutnya sudah terlihat sedikit membuncit.
Petugas lapas membangunkannya.
__ADS_1
"Hei, bangun. Ada yang menjengukmu" ucap petugas itu.
Bernika bangun, dan melihat Roni, Kevin dan Putri.
"Viin.. Vinn. maafkan aku Vin. Maafkan aku. Keluarkan ku dari sini, sayang. Lihat ini, di perutku."
"Bernika!" teriak Roni sedikit keras.
Kevin makin kesal.
Ternyata Bernika tidak puas untuk menghancurkan hidupnya dan Putri.
"Bukannya kau sadar, ternyata kau masih sama. Lihat, bagaimana Roni membujuk kami untuk kemari. Sudah, tidak ada gunanya kami di sini, ayo sayang, kita pergi dari tempat ini."
Kevin menarik tangan Putri dan mengajaknya keluar.
"Vin.. Kevin... Kevin.." panggilnya.
Tapi Kevin dan Putri berlalu tanpa sedikitpun melihat ke belakang.
"Sia-sia perjalanan kita, aku pikir, perempuan jahat itu akan berubah. Penjahat tetaplah penjahat" Kevin masih kesal.
Putri hany diam, ia tidak mau mengeluarkan ucapan sedikitpun.
Di dalam mobil, Putri menenangkan Kevin.
"Sudahlah, istighfar, yang penting niat kita ke sini kan baik, jangan diubah ya." Putri menyodorkan air mineral botol kepada Kevin.
"Sudah lega. Kalau sudah, kita pulang. Tapi kalau masih emosi, udah deh, mending di sini aja dulu. Aku takuut.. nanti kau kebut-kebutan" ucap Putri sambil bercanda.
Kevin melirik ke arah perempuan mungil yang duduk di sebelahnya itu.
__ADS_1
Ia memandangi perempuan itu.
Dan meraih muka kecil itu, mencium bibir mungil itu dengan lembut.