
Vena dan Putri ke dapur untuk menyiapkan makanan yang dibawa Ajin dan Vena,
"Soes kesukaanmu,dan ini.. bakso goreng pesanan bumil" Vena memeluk Putri dengan hati gembira.
"Kau tau yang terjadi saat aku mengambil pesanan Putri soes mu ini? Aku hampir saja mati."
"Maksudmu?" tanya Putri sambil mengaduk teh untuk Kevin dan Ajin.
"Ajin, si sekretaris dingin itu, dia yang menolongku"
"Hm.. terus"
"Kalau tidak ada dia, aku tidak akan ada di sini malam ini"
"Terus" Putri makin penasan dengan cerita Vena.
"Nabrak, terus terus terus.." ucap Vena kesal.
Putri mencubit pipi sahabatnya itu,
"Aku kan harus tau kejadian apa yang terjadi padamu, ven"
"Makanya mukanya lebam dan tangannya ada plester itu"
"Dia mengobati sendiri?"
"Ya tidaklaaahh.. Aku tadinya bilang mau mampir ke rumah sakit dulu, tapi dia tidak mau. Makanya aku berhenti di apotek, terus beli itu"
"Terus" Putri penasaran dengan cerita Vena, sambil menopang dagu.
__ADS_1
"Tapi, dia itu, ih.. dingin bener." Vena melanjutkan ceritanya.
"Waduh, kalo perempuan udah ngobrol begini, lupa kalau suaminya nungguin minum di depan, ngobrolin apa sih sayang" tiba-tiba Kevin datang dari arah depan.
"Gak kok. Ayok, ven.. bawa minumnya" Putri dan Vena keluar dapur dan menuju ruang keluarga.
"Mana pesenan aku? Udah sampe belum?" Putri menyenderkan kepalanya ke bahu Kevin,
"Bentar lagi juga sampai." ucap Kevin.
"Kalian harus makan bareng ya, soalnya Putri mau makan kalau ramai-ramai. Aneh kan?" ucap Kevin mengelus rambut istrinya itu.
Ajin dan Vena yang melihat ke uwuan itu, hanya bisa tersenyum.
"Kalian senyum-senyum aja, kapan kalian menyusul kami?" tanya Kevin memancing Ajin dan Vena.
Ajin hanya diam, dan Vena menunjukkan muka yang aneh.
"Permisi, tuan. Ini pesanan nyonya?" tanya pengawal rumah itu.
"Oh iya, biar aku yang bereskan" ucap Putri
"Ayo sayang, kita makan, aku sudah tidak sabar" ucap Kevin.
Setelah acara makan malam itu, Ajin diminta mengantarkan Vena pulang ke rumahnya oleh Putri.
Sama seperti di awal datang, tidak ada pembicaraan dan mereka hanya diam.
Karena hari sudah malam, Vena tertidur di dalam mobil itu. Ajin menghentikan mobilnya tepat di sebuah kos-kosan Putri.
__ADS_1
Ajin tidak berani untuk membangunkan Vena. Ia hanya bisa mencuri pandang ke arah Vena.
"Bagaimana cara membangunkan dia? Kenapa aku yang disuruh untuk mengantarnya sih" gerutu Ajin, sambil meletakkan kepalanya di setir mobil.
"Maaf aku tertidur," tiba-tiba Ajin tersentak oleh suara itu.
"Maaf merepotkan mu, terima kasih" Vena turun dari mobil dan seger masuk ke dalam kos-kosan itu.
Vena segera membasuh muka dan mengganti pakaiannya,
"Dari mana dia tau rumah ini?" Vena berpikir keras.
"Aneh, padahal aku tidak menjelaskan dengan detail lokasi rumah ini, ah sudahlah"
Vena segera naik ke atas kasurnya, dan membuka tasnya hendak mencari ponselnya.
"Kemana ponsel itu?" ia mengingat-ingat kapan terakhir ia memegangnya.
"Astaga, sebelum aku tertidur, aku membalas chat dari James, dan setelah itu... setelah itu... aahh... aku tertidur. Bagaimana aku bisa melupakan untuk kembali memasukkan ponsel itu ke dalam tas" ia menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Sementara Ajin yang membelah jalanan ibukota itu, akhirnya sudah sampai di rumahnya. Ketika memasukkan mobil itu ke dalam garasi, ia melihat cahaya di jok mobilnya.
"Perempuan ceroboh!" ia mengambil ponsel itu dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.
"Biarkan ia kebingungan dulu. Besok aku akan mengembalikannya di ruko" ucap Ajin cuek.
"Tapi, bagaimana seandainya ia memerlukannya?"
***hm.. apa Ajin tega kepada Vena?
__ADS_1
Kapan baiknya ia mengembalikan ponsel milik Vena? Kita tunggu lanjutannya ya.
Jangan lupa bintang 5, vote, like dan komen yang membangun ya.. Love kalian pokoknya😍😍**