
"Sudah siap?" tanya Kevin.
Putri mengangguk. Dan segera menarik tas bawaannya.
Di lantai bawah, Hary O'Leary, Rani dan Andre sudah menunggu. Mereka ingin mengucapkan selamat jalan.
"Hai sweetie.. Sampaikan salam kami kepada orang tuamu ya, mungkin bulan depan kami bisa pulang ke Indonesia, ok" Hary O'Leary memeluk menantunya itu.
Setelah dianggap siap semua, mereka melambaikan tangan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil yang mengantar mereka.
"Sayang.. kau lihat kan.. Mami mau memelukku tadi." Putri sangat gembira.
"Aku harap mami tulus" batinnya berteriak. Masih ada rasa yang mengganjal di hati Kevin. Ia hanya bisa memeluk gadis polos itu.
*** Akhirnya sampai juga di tanah air.. Putri sangat senang, karena akhirnya di hari sebelum pulang, masih bisa keliling kota London itu. Ia bisa menceritakan kepada Vena, sahabatnya itu.
"Aku pulang ke ruko ya, Vin" ucap Putri.
"Hah.. ke ruko? Tidak.. Kau harus pulang ke rumahku. Bagaimana kau ini." ucap Kevin kesal.
Putri menutup matanya.
"Astagaaa... aku lupa, kalau kita..." menunjuk ke arah Kevin dan dirinya.
Ajin hanya tertawa kecil melihat kepolosan Putri dan sifat pundung yang dimiliki bosnya itu.
"Tapi, baju-bajuku? Peralatanku?" tanya Putri.
"Tenang nona, sudah saya pindahkan ke rumah bos." ucap Ajin.
"Aah.. kau memang selalu dapat aku andalkan. Good job, Jin" Kevin menepuk bahu Ajin.
Setibanya di rumah,
__ADS_1
"Malam ini kau ada pertemuan dengan pemilik perusahaan XY" ucap Ajin mengingatkan.
"Apa? Kita baru sampai, dan kau harus bekerja? Apa kau tidak lelah?" tanya Putri menghawatirkan Kevin.
"Di rumah juga aku tidak bisa ngapa-ngapain kan. Kapan masa bulananmu selesai?" tanya Kevin.
Putri memukul lengan Kevin.
"Stt.. kecilkan volume suaramu, apa tidak malu?"
Kevin tertawa lebar.
"Jadi kapan masa itu selesai?" tanyanya pelan.
"Kalau sudah selesai, aku akan mandi bersih malam ini" ucap Putri malu-malu.
"Kenapa malam ini? Aku kan harus kerja."
dan
cup
Kevin mencium pemilik bibir mungil itu.
Putri yang sekarang sendiri, dengan leluasa membereskan barang yang ada di dalam tas koper mereka ke tempatnya.
"Aaahh.. lelahnya.." ucapnya sambil merebahkan diri di atas kasur itu.
"Jadi, di sini kau menghabiskan mimpimu." pUtri mengelus kasur empuk itu.
"Nyaman sekali.." hingga ia tidak sadar kalau ia tertidur dengan kaki terjuntai ke bawah.
Dalam tidurnya, ia bermimpi, Rani datang dan mengusirnya keluar rumah.
__ADS_1
"Pergi kau dari kehidupan anakku. Kau tidak layak mendampingi anakku. Dasar perempuan tidak tau diri. Kau menikahinya karena harta kan? Kau tidak pernah mencintainya. Ambil uang ini dan pergi dari kehidupan Kevin!"
"Tidak, Bu.. Aku tidak ingin hartanya.. Aku mencintai Kevin, Bu"
"Keluar kau dari ini, seret perempuan ini keluar!" perintahnya kepada pengawal pribadinya.
"Tidak Bu... aku mencintainya, aku mencintai Kevin, Bu.. Jangan usir aku Bu. Aku mencintainya. Aku mencintainya. Aku mencintainya" Putri menangis tersedu-sedu.
Tangisan pilu itu sangat sedih.
Jam di dinding menunjukkan pukul 11 malam ketika Kevin sampai di rumahnya. Semua terlihat sepi. Tatanan rumah itu sangat rapi.
"Hm.. baru berapa jam saja, rumah ini sudah mendapat sentuhan perempuan itu." ucapnya bangga.
Langkahnya menuju kamar tidurnya.
Suara rintihan tangisan.
"Ada apa dengan Putri."
Kevin mempercepat langkahnya.
"Aku mencintainya, aku mencintai Kevin, aku mencintainya" Putri masih dalam dunia mimpi sedihnya.
"Sayang.." Kevin mengangkat tubuh mungil itu dan meletakkan dengan benar.
"kamu masih pakai baju yang sama, pasti karena kelelahan ia begini" diusapnya pipi Putri.
"Sayang. Bangun. Ini aku" Kevin mengusap pipi Putri.
Putri terbangun dari mimpinya, dengan rasa sakit di dada. Nada sesegukan masih ada di sana.
"Vin...."
__ADS_1