Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Makan malam yang mahal


__ADS_3

Liburan singkat itu, membuat Putri sangat senang. Ia bisa bercanda bersama orang-orang tersayangnya.


Kembali ke Jakarta, kembali dengan pekerjaan lagi. Kevin dan Ajin sudah bekerja seperti biasa. Ajin sudah mengantongi nama pengirim surat kaleng itu. Motif Abizar, karena terdesak ekonomi. Padahal sebelumnya, Abizar dikenal sebagai pegawai yang tidak banyak ulah. Ajin sendiri kaget melihat hasil penyelidikan.


Sepulang kerja, ia mengikuti kembali Abizar, dan kali ini. Abizar kaget ketika bertemu dengan Ajin.


"Pak Ajin? Sedang apa pak?" tanya Abizar gugup.


Ajin hanya tersenyum dingin.


"Kau sedang apa?" tanya Ajin kembali.


"A, aku, mengunjungi istriku, pak" ucap Ajin kembali gugup.


"Sakit apa istrimu?" tanya Ajin kembali.


"Apa aku bisa melihatnya?"


Abizar mengajak Ajin melihat kondisi adiknya.


"Hanya selang-seling itu yang menolongnya"


"Karena ini, kau jadi penghianat di perusahaan yang sudah membantumu?" tanya Ajin ketus.


Abizar bersimpuh di kaki Ajin.


"Maafkan aku, pak. Aku terpaksa. Aku membutuhkan banyak biaya. Kanker getah bening yang menggerogoti istriku, sudah menyebar, kalau aku tidak mengambil keputusan operasi sumsum tulang belakang, da itu membutuhkan banyak biaya, pak. Maafkan aku"


"Sudah, bangun kau." perintah Ajin


"Siapa yang membayarmu?" tanya Ajin.


"Aku mendapat telpon dari bos besar." jawabnya ketakutan. Ia memikirkan, bagaimana kalau ia tidak kerja.


"Apa kau tau, apa isi surat itu?" tanya Ajin.


"Tidak, pak. Aku tidak berani membukanya" jawab Abizar.


Sedikit lega hati Ajin.


"Karena aku butuh dana untuk pengobatan istriku, aku menerima tawaran itu. Tidak apa dia begitu, yang penting, aku masih bisa melihatnya. Apa jadinya kalau aku tidak bisa melihatnya lagi" bulir air matanya turun, menatap jendela ruang ICU.


Ajin menepuk pundak Abizar.


"Seharusnya kau mengajukan pinjaman ke perusahaan, tidak dengan jalan seperti ini. Aku tidak dapat memutuskan bagaimana kau nantinya, semua keputusan di tangan pak Kevin. Tapi semoga ia memahami keadaannya."

__ADS_1


Ajin berlalu dari sana. Hatinya sebenarnya juga sedih, dengan keadaan itu.


Semua mengarah ke 1 nama, Rani O'Leary.


Ajin menarik nafas panjang, pikirannya acak-acakan saat itu. Ia tidak tau, kapan ia sampai di depan ruko.


Vena terkejut melihat Ajin yang berdiri senderan di pintu masuk.


"Hai. Kapan kau sampai? Kenapa tidak menunggu di dalam?" tanya Vena.


Ajin membisu.


Urusan pekerjaan yang berat sekalipun, ia tidak sepusing ini. Tapi masalah ini menurutnya sangat kompleks.


"Pak Sekretaris" Vena menepuk bahu Ajin.


"Oh, kau sudah selesai?" tanya Ajin yang masih sedikit berpikir.


"Ada apa denganmu? Bukankah kita habis bersenang-senang kemarin." Vena memancing pembicaraan.


"Aku butuh teman bicara." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Baiklah, aku dengarkan" ucap Vena masih berdiri di tempat yang sama.


"Tidak, aku butuh udara segar. Ikut aku" ajak Ajin.


Perjalanan mereka terhenti di sebuah rumah makan dengan keindahan lampu dan suara alunan musik yang mendayu.


Ajin membukakan kursi, dan mempersilahkan Vena duduk. Kemudian ia membuka jasnya menutupi kaki Vena yang jenjang.


"Apakah kau tidak bisa memakai bawahan yang lain. Aku risih melihatnya" ucap Ajin.


Vena terperanjat. Lagi-lagi ia membahas tentang pakaian yang dikenakannya.


"Apa yang ingin kau ceritakan" tanya vena.


Pelayan menyediakan makanan yang mereka pesan.


Sambil makan, Ajin menceritakan keadaan kantor yang sebenarnya tidak ada masalah. Tapi sejak Kevin dan Putri menikah, ada saja pekerjaan lain yang harus Ajin kerjakan.


"Apa di kantor hanya kau saja? Bukankah banyak orang di sana" tanya Vena.


"Aku yang mengurus semua keperluan Kevin, kami bersahabat sejak kami masih kecil. Ayahku juga dulu bekerja dengan om Harry, dan ia berpesan sebelum meninggal, aku harus menjaga Kevin. Kevin selalu menyendiri. Tapi, aku senang sekali, begitu Kevin bertemu dengan Putri. Wajahnya menunjukkan bahwa ia bahagia. Aku pikir, pernikahannya tidak akan ada masalah. Tetapi, ini saja, kau kena imbasnya" jelas Ajin.


"Maksud semuanya?" tanya Vena.

__ADS_1


"Apa artinya aku sekarang selalu menjemputmu, kau salah satu target dari semua ini". jelas Ajin.


"Aku makin tidak mengerti" Vena mengerutkan keningnya


"Kau sekarang temanku, selain Kevin, aku tidak pernah seakrab ini. Kau harus menjaga rahasia ini. Promise" Ajin meminta Vena berjanji


" Yes, i Will" jawab vena


"Semua ini karena mami Rani." ucap Ajin


"Kau juga harus menjaga Putri, seandainya sesuatu terjadi diantara mereka. Jangan kau tinggalkan Putri. Karena sasaran utamanya adalah Putri. Aku belum tau, apa alasan mami Rani berbuat seperti ini" lanjut Ajin.


"Aku minta, jangan kau tinggalkan Putri, aku merasa iba dengannya. Aku lihat, Putri tulus kepada Kevin. Dan Kevin terlalu mencintai Putri. Walau, aku tau, Putri bukanlah type wanita idamannya. Tapi aku tau, Putri adalah wanita yang tepat untuk dicintai Kevin." ucapnya lagi sambil meneguk jus nanas pesanannya.


Vena melirik ke arah Ajin, begitu ia melindungi sahabatnya. ia kagum dengan persahabatan mereka.


"Aku janji, akan selalu setia untuk Putri, seperti kau setia dengan Kevin" ucapnya dalam hati.


Ajin memanggil pelayan dan meminta bill pembayaran.


Vena terkejut, untuk makan berdua seperti itu saja harus membayar 349 ribu. Apa saja yang ia makan sampai harus makan semahal itu.


"Ada apa?" tanya Ajin melihat Vena terkejut.


"Makan begini kenapa mahal sekali?" tanya Vena sambil berbisik.


"Ini tempat murah dan enak" jawab Ajin. Kemudian setelah membayar semua, mereka kembali ke mobil, dan Ajin mengantarkan Vena ke kos-kosan.


"Berjanjilah kau tidak membocorkan pembicaraan kita tadi. Dan berjanjilah untuk memenuhi semua permintaanku tadi" ucap Ajin.


"Baiklah, tapi, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanya Vena.


Ajin mengangguk.


"Apa kau bisa menabung, untuk masa depanmu. Kalau sehari saja kau menghabiskan uang sebanyak itu, bagaimana kau akan menabung?" tanya Vena.


Ajin langsung tertawa.


"Kau sama polosnya dengan sahabatmu" ucap Ajin sambil menutup pintu mobilnya.


"terima kasih untuk makan malam yang mahal itu, dan terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."


Vena melambaikan tangannya.


*Wah, panjang ya episode ini. Bonus untuk para pembaca yang sudah mau bersabar menunggu kelanjutan cerita ini. Jangan lupa like, vote, dan bintang 5 nya ya.🤩🤩

__ADS_1


__ADS_2