
Putri dan Kevin sampai di Bandung. Mereka beristirahat sejenak, sambil menyiapkan pakaian yang akan dikenakan saat acara lamaran itu.
Persiapan lamaran Ajin untuk Vena sudah selesai dikerjakan.
"Santai saja, jangan tegang seperti itu" ucap Kevin menggoda Ajin.
"Kau ini, pegang saja tanganku" Ajin meletakkan tangannya ke lengan Kevin.
"Sayang, lihatlah si bodoh ini, dia tampak gugup sekali." goda Kevin lagi.
"Viiin" Putri melirik ke arah Kevin. Tapi Kevin malah tertawa.
Mereka berangkat menuju rumah Vena, yang tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap.
Keluarga Vena sangat ramah dan menyambut kedatangan keluarga Ajin. Putri langsung mendekati Vena.
"Cantik sekali," Putri menggandeng tangan sahabatnya itu.
Vena sangat cantik, dengan dibalut baju putih, ia tampak sederhana, tapi memikat mata yang melihatnya hari itu. Tak terkecuali Ajin. Ia sangat terpesona dengan kecantikan yang dimiliki oleh Vena saat itu.
Serangkaian acara dilaksanakan. Saatnya pemasangan cincin.
__ADS_1
Putri membawakan cincin di atas baki. Mamanya Ajin memasangkan cincin ke jari manis Vena, dan mamanya Vena memasangkan cincin ke jari manis ajin.
Prosesi pemasangan cincin untuk keduanya sudah selesai. Mereka berfoto bersama keluarga. Suasana bahagia tampak sekali di rumah yang sederhana itu.
Tapi, ketika menentukan tanggal, kedua keluarga ini agak sedikit bingung. Keluarga Ajin ingin segera melangsungkan pernikahan ini, sedangkan keluarga Vena punya banyak rencana sebelum akad dilakukan.
"Kami kan harus mempersiapkan semuanya. Jadi paling cepat itu, 3 bulan lagi." papanya Vena menghitung hari.
"Kenapa lama sekali, saya malah ingin akhir bulan ini saja dilangsungkan akadnya" ucap papanya Ajin.
Vena, dan Ajin seperti orang yang sedang melihat bola pimpong, karena papa mereka saling bersautan. Vena dan Ajin bingung.
"Yang mau menikah ini, kita apa mereka sih" bisik Ajin.
"Tapi, kenapa mereka jadi gitu" bisik Ajin lagi.
"Aku juga bingung, apa yang akan diputuskan."Vena masih melihat keduanya bersitegang
"Kau maunya kapan?" tanya Ajin.
"Paling cepat pertengahan bulan, aku kan harus mengajukan cuti dan mencari pengganti untuk guru pelatih vocal. Walau itu punya Putri, aku kan harus profesional"Vena berbisik kepada Ajin.
__ADS_1
"Maaf papa.. Sepertinya Vena dan mas Ajin ingin melangsungkan akad ini 2 bulan lagi. Karena, Vena dan mas Ajin mau menyelesaikan tugas dulu." ucap Vena menenangkan kedua belah pihak yang masih bersitegang.
"Naaaahh.. jalan tengah atuh. Ya udah, papa mah ikut aja kalo neng maunya gitu" papanya Vena akhirnya menyetujui kesepakatan itu.
Vena dan Ajin tersenyum bersama.
Kevin dan Putri lebih bahagia dari kedua calon mempelai.
"Kita bantu mereka ya sayang" ucap Kevin merangkul pundak Putri.
Sabtu itu, meski terasa menegangkan, semua berakhir bahagia. Satnight mereka berada di kota Bandung, mereka menghabiskan malam itu dengan hanya jajan di pinggir jalan. Vena dan Ajin menjadi new couple malam itu.
"Sekarang, dia tidak jadi nyamuk lagi" Kevin menunjuk Ajin yang sedang berbincang serius dengan vena
*Minggu sore, mereka sudah berada di Jakarta lagi. Tapi, Putri diajak menikmati hari di pinggir pantai oleh Kevin.
"Kenapa kita ke sini?" tanya putri.
"Apakah kau tidak suka? Bukankah kita harus selalu bahagia. Aku hanya ingin membuatmu selalu tersenyum." Kevin berpikir, kalau kejutan kecil itu akan membuat Putri bahagia. Ia menundukkan kepalanya.
Mendengar ucapan Kevin, Putri hanya bisa tersenyum sambil menatap Kevin.
__ADS_1