Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
Kangen Kamu


__ADS_3

Kevin sering sekali mengajak Bernika sekedar untuk minum, sambil membicarakan masalah pekerjaan.


'Kalau kita menikah, perusahaanku akan makin besar"


"Maksudmu?" tanya Kevin pura-pura tidak mendengar.


"Tidak.. maksudnya perusahaan kita akan melebarkan sayapnya." jawab Bernika.


"Huft, hampir saja ketahuan." bisik Bernika sambil menyeruput kopi latte yang dipesannya.


Kabar kedatangan pasangan O'Leary sudah terdengar di telinga Bernika. Ia berniat menjemput mereka. Tapi, dilarang oleh Harry O'Leary,


"Dia bukan siapa-siapa keluarga kita, no.. aku tidak mau dia ikut menjemput kita"


ucap Harry.


Rani mau tidak mau mengikuti keinginan suaminya. Andre baru tau, apa yang maminya rencanakan.


Sopir pribadi Kevin membawa mereka ke rumah Kevin. Kalau ke Bogor, akan menyita waktu, keperluan Harry selain mengunjungi anak dan menantu, harus menyelesaikan beberapa urusan anak perusahaan.


Kevin sudah berada di rumah, ketika mereka sampai di rumah itu.


"Welcome home" ucap Kevin sambil memeluk papi, mami, dan Andre.


Baru saja melangkah, suara Bernika membuat beberapa anggota keluarga itu kesal, terkecuali Rani.


"Hi, dear. Baru sampe?" tanya Rani.


"Ya Tante, maafkan aku, tadi masih ada urusan."ucapnya sambil membenahi pakaiannya.


Rani memeluk Bernika dan membawanya masuk.


"Kemana istrimu? Tidak sopan, ada mertua datang tidak di sambut" ucap Rani ketus sambil mengambil segelas teh yang sudah disiapkan si mbak.


Kevin pura-pura tidak mendengar.

__ADS_1


"Tau begitu, kau saja yang menjadi menantu Tante, ya kan Bernika sayang" lanjutnya.


"Kevin, papi mau keluar, kau ikut papi ya, Andre, kau juga" ajak Harry.


"Mau kemana kalian. Bukankah kita baru saja tiba, kenapa haru sekarang langsung bekerja"


tanya Rani.


"Aku gerah di rumah. Ayo anak², ikut papi"


Kevin dan Andre mengikuti jejak laki-laki paruh baya yang masih gagah itu.


"Aku tidak suka melihat perempuan itu masuk ke rumah. Bagaimana kabar istrimu?" tanya Harry.


"Terpaksa aku ungsikan, Pi. Aku ingin memberi pelajaran untuk Bernika, dan agar mami juga sadar. Tapi aku butuh bantuan papi dan Andre." ucap Kevin sambil mengendarai mobil menuju sebuah cafe.


Di cafe ternyata sudah ada Ajin. Mereka merencanakan semuanya. Dan semua setuju dengan rencana itu.


"Aku tidak membenci orang yang melahirkan ku, tapi, karena cintaku, aku ingin mengembalikannya di jalan yang benar" Kevin menundukkan kepalanya.


Harry mengelus punggung putra sulungnya itu.


"Ngoceh aja ini nenek peyot. Aku kan mau mendekati anaknya, kenapa si tua ini yang berbincang denganku seperti ini" gerutunya dalam hati


Tapi karena Rani tidak mendengarkan, dia terus saja bercerita tentang kehidupannya setelah masuknya Putri.


"Kau harus merebut hati Kevin dari perempuan itu. Tante akan selalu mendukungmu" ucapnya dengan bangganya.


"Terima kasih Tante" Bernika memeluk Rani.


"Hai, belum selesai juga, sudah malam seperti ini dan kau masih di sini?" tanya Harry yang melihat Bernika masih ada di sana.


"Oh ya, saking asiknya kita bercerita ya Tante." ucap Bernika.


"Sudah malam, sebaiknya kau diantar pulang" Rani memberi kode kepada Kevin, tapi Kevin pura-pura tidak melihat, dan buru-buru masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Besok kita ada kunjungan pagi, selamat malam semua," ucap Harry dan ia pun masuk ke dalam kamar. Tinggallah Rani dan Bernika yang bengong melihat semuanya.


"Tidak apa-apa Tante, aku bisa pulang sendiri" ucap Bernika melangkah keluar rumah, menuju mobilnya yang terparkir di depan halaman.


"Kau lihat saja, aku akan menaklukkanmu dan mengambil semua asetmu" Bernika memukul stir mobilnya.


Di dalam kamar, Kevin merindukan istrinya, ia tidak bisa tidur.


"Sayang, sudah tidur?" tanya Kevin.


Putri tidak membalas, lama. Kevin hanya melihat Poto Putri dari ponselnya.


Gelisah melanda.


Ia seperti orang yang selalu jatuh cinta dengan orang yang sama.


Ponsel Kevin berdering, ia pun terkejut.


"Sayang..."


"Ya. Kenapa belum tidur?" tanya Putri.


"Aku tidak bisa tidur, aku kangen kamu." Kevin menghela nafasnya.


Putri tertawa kecil.


"Seperti anak kecil saja. Bukankah di rumah ramai, ada mami, papi dan Andre."


"Tapi tidak ada kamu. Apa aku kuat lama-lama jauh dari kamu? Berapa lama aku harus menahan rindu."


"Vin.. jemput aku saja. Aku juga kangen kamu." Putri berbisik.


"Tunggu aku ya. Mungkin papi, mami, dan Andre akan ikut menyusulmu"


"Baiklah, aku akan menunggu. Selesaikan saja pekerjaanmu. Baru jemput aku"

__ADS_1


"Baiklah, Selamat malam istriku, selamat istriahat sayang" Kevin menutup ponselnya.


Akhirnya ia bisa memejamkan mata setelah mendengar suara Putri.


__ADS_2