
Putri turun di depan rukonya.
"Jangan lupa makan siang, sayang" Kevin mengingatkan.
"Iya.. kamu juga ya"
Kevin mencium kening Putri dan berlalu dari sana.
Vena dan Putri sudah siap menerima siswa mereka, siang itu, James datang ke ruko tanpa keponakannya.
"Hi, put" sapa James.
"Hi, mana si cantik" Putri yang sudah membawa beberapa buku, menghampiri James.
"Dia kelelahan jadi tidak bisa mengikuti pelajaran hari ini" jelas James.
" oh, ya.. thanks infonya. Tapi kau tidak perlu repot-repot kemari, kan bisa telepon untuk memberi kabar." ucap Putri.
"Tidak apa. Sekalian aku lewat" jelas James singkat.
Tiba-tiba kepala Putri terasa sangat sakit. Ia berpegang pada meja.
"Put.. " James menangkap tubuh Putri yang hampir saja jatuh, saat ia ingin memapah Putri, tiba-tiba Kevin datang.
"Hei.. lepaskan istriku" teriak Kevin.
James melepaskan tangan Putri dan dengan sigap, Kevin memapah tubuh mungil itu.
"Jangan kau sentuh istriku."
"aku hanya menolongnya saja, ia hampir saja jatuh"
"Jangan banyak alasan. Kalau tidak ada kepentingan lagi, silahkan keluar dari tempat ini" usir Kevin.
"Viin" suara lemah itu keluar dari mulut Putri.
"ya sayang" Kevin menatap Putri.
__ADS_1
"sudahlah. James, terima kasih." ucap Putri.
Kevin makin kesal. Ia membuang muka dan tidak menatap James sama sekali.
"Sayang.. Kau kenapa? Untung saja aku datang, kalau tidak, kau pasti sudah di sentuh laki-laki itu" ucap Kevin.
"Viin.. dia menolongku. Kalau tidak ada dia, mungkin aku sudah terjatuh. Semua orang sudah di dalam ruangan."
"Bisa-bisaan dia saja ketika sudah sepi,dia datang, seolah menjadi pahlawan bagimu"
"Kevin!" suara Putri meninggi.
"Kenapa jadi begini. Aku yang begini, kenapa kau kelewatan"
"Apa? aku kelewatan?" tanya Kevin
"Ya, kau sangat kelewatan." Putri menangis dan meletakkan bukunya di atas meja, dan menaiki tangga menuju bekas kamarnya yang masih ada tempat tidurnya.
Kevin meninggalkan putri, dan bergegas ke dalam mobil. Ia tidak tau harus kemana.
Kecepatan mobil makin lama makin cepat.
Sementara di ruko, Vena mencari keberadaan sahabatnya itu. Ia melihat Putri dengan mata bengkak.
"Put.. kenapa?" tanya Vena.
"Tidak ven, aku sedang tidak enak badan saja"
"Aku telepon Kevin ya" ucap Vena
"Tidak usah. Biarkan saja. Aku ingin menyendiri dulu"
"Tidak, wanita hamil tidak boleh seperti ini, ayo turun." ajak Vena.
Putri mengikuti saran sahabatnya itu.
"Kau tidak sehat, kenapa mesti ke ruko, istirahatlah dulu."
__ADS_1
"Ya ven, aku hanya lelah."
"Mukamu pucat Put.."
mata Putri seperti berkunang-kunang. Lagi-lagi ia hampir terjatuh. Vena menangkapnya.
"Ini tidak benar. Kau harus segera ke rumah sakit"ucap Vena.
"Duduk dulu, aku akan mengambil tas dulu"
"Jangan kabari Kevin." Putri menarik tangan Vena.
Vena tau terjadi sesuatu diantara mereka. Putri tidak akan begitu kalau tidak terjadi sesuatu diantara mereka.
Vena mengabari Putra, dan mereka segera naik taksi menuju rumah sakit.
Sepanjang jalan, Putri mengeluarkan keringat dingin.
"Apa yang terjadi sama kamu, put" Vena bingung harus berbuat apa.
"Pak, cepat pak" pinta Vena kepada pak sopir taksi yang membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
Sampai di UGD, Putra sudah menunggu bersama Kevin.
Dengan kursi dorong, Kevin membawa Putri masuk ke dalam ruangan.
"Silahkan urus administrasinya ya, pak" pinta perawat itu.
Kevin segera mengurus administrasi dan segera kembali ke ruang periksa, ia takut terjadi sesuatu pada Putri.
Ia hanya bisa melihat Putri yang sedang diperiksa tanpa bisa melakukan apa-apa.
Vena memintanya untuk menjauhi Putri.
"Aku tidak tau apa yang terjadi pada kalian, yang pasti, Putri sedang tidak ingin melihat wajahmu" ucap Vena menatap Kevin dengan muka melas.
*** **Waduh, ada apa dengan Putri?
__ADS_1
Kuy, vote sebanyak-banyaknya lagi, yang udah kasih jempol dan vote, terima kasih yaa.. 😍😍**