Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
I Miss you so bad


__ADS_3

"Sayang, dari mana kau?"


"Aku masih mendekati keluarga Kevin. Ada apa? apa kau merindukan aku?" Bernika mendekati lelaki itu dan mencium bibirnya dengan kasar.


"Stop it." Roni melepaskan ciuman itu.


"Ada apa denganmu?" tanya Bernika.


"Aku tidak mau kalau kau seperti ini, aku kenal kau sudah 3 tahun, dan kalau kau seperti ini, biasanya kau sangat kesal"


"Hahahaha" Bernika tertawa di ruangannya.


"Kau tidak berguna. Keluar kau dari ruanganku" Bernika mengusir Roni.


"Karena hanya kau tempat pelampiasan ku!" Bernika menggebrak mejanya.


Ia mengingat, papinya mengucapkan, kalahkan perusahaan keluarga O'Leary. Karena mereka adalah saingan terbesar baginya. Segala usaha telah keluarga Bernika lakukan, salah satunya, mereka telah berusaha menculik Kevin. Tapi Kevin berhasil kabur dari kejadian itu. Untung saja Kevin tidak mengadukan ke polisi.


"Aku harus berbuat apa? Apa aku harus bercinta dengannya? Dan saat aku hamil, anak itu akan menjadi senjataku" pikiran Bernika mulai bermain. Ia tersenyum. Lagian, ia belum pernah mencoba tubuh Kevin.


Ia memanggil Roni kembali.


"Sayang, maafkan aku. Aku emosi tadi." Bernika mendekati Roni, dan melingkarkan tangannya di pinggang Roni. Ia mulai memainkan bibirnya ke bibir Roni.


"I Love you" kalimat itu terucap dari bibir Roni yang merasa nafsunya sudah diujung tanduk.

__ADS_1


Bernika menghentikan permainan bibir itu,


"Kita lanjutkan di rumah saja" ucap Bernika melangkah keluar ruangannya, dan diikuti oleh Roni.


Sampai di rumah, Bernika melakukan kembali sampai mereka melepaskan nafsu itu.


"Aku membenci keluarga Kevin." ucapnya masih di dalam selimut itu memeluk Roni.


"Bagaimana usahamu untuk merebut perusahaan itu?" tanya Roni


"Aku akan menjebaknya. Tugasmu, buat aku hamil" ucap Bernika dengan mata penuh dendam.


"Maksudmu?" tanya Roni


"Aku akan menjebaknya, dan aku akan meminta pertanggung jawaban Kevin. Dengan seperti itu, ia akan menikahiku, dan anak itu akan menjadi senjata ampuh untuk ku" lanjut Bernika.


Sebenarnya, tampang Roni tidak jelek. Ia lelaki tampan, hanya saja, ia tidak sekaya keluarga O'Leary, yang bisa membantunya untuk meluaskan usaha keluarga Bernika.


"Kapan kau akan melakukan rencanamu?" tanya Roni


"Dalam waktu dekat, karena aku sudah muak dengan semua ini. Kalau semua sudah aku dapatkan, aku akan meninggalkan Kevin. Bagaimana, kau akan mendukungku?" ucap Bernika menindih tubuh Roni


Roni yang merasakan kenikmatan itu, mengangguk dan tersenyum.


*Keesokan harinya, Roni memikirkan Bernika yang akan melakukan tindakan diluar akal sehat. Ia tidak mau membiarkan wanitanya tidur dengan lelaki lain. Tapi ia tau sifat Bernika. Tidak bisa dilarang. Ia akan berhenti, kalau ia sudah merasa lelah.

__ADS_1


Sebenarnya Bernika sudah lelah dan putus asa. Ini adalah jalan terakhir yang ia tempuh.


"Hallo, Kevin. Aku ada urusan yang harus aku tanyakan langsung kepadamu. Aku tidak tau harus memutuskan apa. Aku tunggu di barr hotel MM malam ini, oke." suara Bernika tampak ramah.


"Baiklah. Akan aku sempatkan mampir" jawab Kevin, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.


Ponsel Kevin kembali berdering.


"Vin.." suara itu mengagetkan Kevin.


"Ya sayang, ada apa?" tanya Kevin


"Kenapa suaramu sangat tidak enak. Kau sakit?" Kevin berdiri dari duduknya.


"Aku hanya lelah saja, aku gapapa kok. Aku rindu suaramu." ucap Putri.


"Sayang, maafkan aku. Aku terlalu sibuk. Maafkan aku" ucap Kevin memandang keindahan kota metropolitan dari ruangannya.


"Ada pesan dari anakmu, katanya, Pap jangan lupa makan, jangan lupa berdoa." ucap Putri dengan suara parau. Sesekali Kevin mendengar nafas Putri yang berat.


"Terima kasih, sayang. Sampaikan kepadanya, pap rindu kalian. Doakan lancar semua ya, dan pap akan segera menjemput kalian di sana. Pap harus mengurus sesuatu yang sangat penting, untuk keluarga kita." ucap Kevin menyenderkan kepalanya di kaca besar.


"Yang semangat kerjanya ya pap. Kami menunggumu" ucap Putri.


Putri menyesal ia meminta untuk diantarkan pulang ke kampungnya, padahal ia sangat rindu aroma tubuh, dan pelukan hangat Kevin.

__ADS_1


"I Miss you so bad, Putri Anindita" Kevin melemah. Rasa cintanya yang begitu kuat, membuat laki-laki gagah itu menunduk tak berdaya.


Ajin yang melihat kejadian itu, hanya diam.


__ADS_2