Cinta Di Atas Kontrak

Cinta Di Atas Kontrak
"Sayang"


__ADS_3

Walau begitu, Kevin ingin mencobanya lagi tapi dengan hati.


"aahh.. apa-apaan ini" gerutu Kevin.


"Kalau sering begini, lebih baik kau tinggal di rumahku saja. Aku tidak bisa tau apa keperluanmu. Selama kau menjadi pacarku, aku harus memenuhi semua keperluanmu" ucap Kevin di depan pintu ruko.


"Kunci pintunya, pastikan tidak ada laki-laki yang datang selain aku" lanjutnya.


cis.. kesal rasanya setiap saat ia mendengar kalimat itu keluar dari mulut Kevin.


Sejak pindah ke ruko kontrakan baru, hari-hari Putri makin sibuk. Ia selalu menghabiskan hari dengan mengajar vocal dan malamnya menemani bos gilanya.


"Baiklah, Kau duluan saja, nanti aku menyusul. Di cafe XX kan?" suara Putri dari ponselnya.


Sore itu, Putri dan Vena janjian minum kopi bersama. Sudah sangat lama mereka tidak jalan bareng, karena status Putri yang tidak jelas itu.


"Hai Ven.. loh ada James. Hai James, apa kabar?" sapa Putri di tengah ramainya cafe itu.


"Hai Put, wah.. makin dewasa dan makin mempesona" ucap James.


"Kok kamu tidak bilang, ada James. Kalau ketauan sama bos gila, aku menemui laki-laki, mati aku" bisik Putri ke Vena lalu tersenyum lebar ke James.


"Sudah.. sesekali tidak apa. Lagian dia tidak akan tau" jawab Vena


"Kau tidak tahu, dia gila." bisik Putri lagi.

__ADS_1


"Put, sebenarnya, James yang menghubungi aku, dia ingin sekali bertemu denganmu. Kau kan sekarang orang sibuk. Jadi aku yang tau jadwal kosongmu. Maafkan ya."


"Sudahlah.. semoga tidak apa-apa. Pesankan aku kopi hitam saja ya. Aku lelah hari ini" ucap Putri.


Mereka menceritakan masa lalu saat kuliah.


"Dan aku penggemarmu saat kuliah. Sampai sekarang aku masih penggemarmu Put" ucap James.


Putri tertawa lepas. Sudah lama dia tidak mendengar lelucon yang membuat dia bisa tertawa. Tapi, sebenarnya, James berbicara jujur.


Pembicaraan mereka sangat banyak. Sampai akhirnya, Putri merasakan sakit yang luar biasa di perutnya.


"obat magh mu dibawa tidak, Put?" tanya Vena.


"Kita bawa pulang dia saja, James. Kau bisa memapahnya?" tanya Vena.


Kevin yang sudah mengetahui kemana perginya Putri, mencari keberadaan perempuan itu. Dan ia terkejut, Putri dipapah oleh laki-laki lain. Rona merah karena menahan marah terpancar di muka Kevin. Dia berlari menuju Putri.


"Hei.. apa-apaan ini? Kenapa Putriku?"


Secepat kilat, Kevin meraih Putri dari pelukan James.


"Jangan pernah menyentuhnya" ancam Kevin.


Kevin menggendong tubuh mungil Putri.

__ADS_1


Ajin yang selalu berada di smaping Kevin mengikuti jejak langkah bosnya itu.


"Kita pulang ke rumahku. Cepat. Aku tidak mau melihatnya seperti ini!" teriak Kevin ke Ajin.


Mobil yang dilajukan Ajin, melintasi jalanan dengan kecepatan tinggi.


"Put, bersabar. Sebentar lagi kita sampai"


Putri yang tidak sadar diri karena menahan sakitnya tetap terdiam, tidak bergerak.


Sampai di rumah, Kevin berlari menuju kamarnya, dan meletakkan Putri di atas kasurnya.


"Cepat hubungi dokter, bilang sama si mbak, buatkan air hangat untuk Putri."


Ajin yang tau sikap bosnya, langsung pergi menemui si mbak yang bekerja di rumah bosnya.


"Ini den" tak lama si mbak membawa segelas air hangat.


"Put, sayang.. bangun"


Apa? Sayang? Kevin yang pemarah bisa mengatakan kata itu? Untung saja, Putri tidak sadar.


Dokter Fajar datang,


"tolong periksa dia, ada apa sampai dia pingsan begini?" tanya Kevin ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2