
Vena mencari kaos yang ia pernah beli dulu, tapi ternyata kebesaran.
"Nah ini dia, kau ganti bajunya dulu. Itu kamar mandinya, silahkan" ucap Vena menunjukkan kamar mandinya.
Sementara Ajin mengganti pakaiannya, Vena menunggu di luar. Ia duduk di teras kamarnya.
Ajin keluar dengan memakai kaos Vena.
Ia merasa aneh.
Terlalu ketat di badannya.
Vena tersenyum. "Yang pasti, kau tidak dingin akibat jus tadi. Oh ya pak, aku sedang memesan mie goreng, nanti kan pulangnya, soalnya aku pesan 2." ucap Vena.
"Ah, sudah malam. Tidak usah repot-repot" Ajin memakai sepatunya kembali.
"Ini non.. 2 mie goreng, sedang" ucap penjual mie goreng keliling itu ramah.
"Makanlah dulu, tidak boleh disia-siakan." Vena menyodorkan piring yang berisi mie ke Ajin.
Mau tidak mau, Ajin menerima dan makan dengan kebisuan. Tiba-tiba, Vena tersedak. Ajin ingat, ia melihat air mineral gelas ada di dalam kamar Vena. Ia mengambil air minum dan menyerahkan ke Vena sambil menepuk punggung Vena.
"Makannya pelan-pelan saja" ucap Ajin sambil terus menepuk punggung Vena dengan pelan.
"Terima kasih." ucap Vena.
"Baik juga ternyata." batin Vena.
"Sejak kapan kau suka di ikuti orang?" tanya Vena.
"Aku lupa pastinya, tapi, beberapa hari ini sih, aku merasa sering sekali orang memperhatikan ruko" jelas Vena sambil meletakkan piring.
"Berarti kau sudah tidak aman. Aku juga sedang menyelidiki kasus yang ada di kantor. Aku takutnya ada hubungannya denganmu" jelas Ajin.
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Vena.
"Sudahlah, kau tidak usah tau apa yang terjadi, saranku, hati-hati, atau kau bisa minta antar jemput pacarmu." ucap Ajin.
Vena tertawa.
"Aku tidak punya pacar" kemudian ia berdiri menyerahkan piring ke penjual mie itu, dan masuk ke kamar untuk mengambil uang.
Tapi ketika keluar kamar, ia tidak menemukan penjual itu lagi.
"Kemana mamang tadi?" tanya Vena
"Sudah pergi" jawab Ajin singkat
"Maksudnya?"tanya Vena lagi
"Aku usir pergi, daripada mengganggu"
Ajin mengambil air minum dan menghabiskan segelas air minum.
"Sudahlah, tidak usah dibahas." sahut Vena
"Sebaiknya, kau tidak memakai pakaian mini lagi, apa kau tidak risih, dilihat cowok-cowok kalau kau jalan?" tanya Ajin.
"I don't care" balas Vena.
"Terserah kau saja. Aku pulang, kalau aku sempat, besok aku yang menjemputmu. Ketika pergi, aku sarankan kau naik taksi saja" Ajin masuk ke mobilnya dan segera berlalu.
Vena yang merasa bingung dengan sikap Ajin, membiarkan rasa bingungnya itu.
Selama perjalanan, Ajin memikirkan benang merah yang terjadi. Kantor, ruko, Vena. Apa ini? Ia terus mencari info.
Penyelidikan Ajin hampir menemukan titik terang. Dan perkenalannya dengan Vena makin akrab. Hampir setiap malam, ia mengantarkan Vena pulang. Jumat sore itu, Vena dan Putri belanja keperluan untuk perjalanan mereka. Putri ingin sekali liburan ke Puncak. Putra menemani mereka mencari keperluan selama di sana.
__ADS_1
"Banyak sekali, kak" ucap Putra.
Snack yang dibeli, semua rata-rata kesukaan Putri.
Sampai di rumah, Kevin dan Ajin sudah menunggu.
"Jadi bagaimana penyelidikanmu" tanya Kevin.
"Aku takut salah, nanti saja kalau sudah fix, bukti yang aku kumpulkan sudah lengkap, aku akan menyerahkan bukti-bukti itu. Kau bersabarlah. Bukankah kita mau menjernihkan pikiran. Bagus juga ide istrimu" ucap Ajin.
"Keuntungan juga untukmu. Bisa mendekati Vena. Apa kau mulai menyukainya?" goda Kevin
"Ah, tidak. Aku tidak ada apa-apa dengannya. Sumpah" ucap Ajin meyakinkan Kevin.
"Aku kenal denganmu bukan baru 1 atau 2 tahun. Sudahlah, kau juga tidak bisa hidup sendiri selamanya. Vena anak baik, Putri sering menceritakan tentang Vena dan keluarganya."
Tapi Ajin, seolah tidak mendengar.
"Hai semua, sudah lama menunggu ya, maaf" ucap Putri memeluk Kevin.
"Itu tas siapa? Ajin?" tanya Putri.
Kevin mengangguk.
Putri tertawa. "Kita hanya 2 hari, seperti mau pergi seminggu saja" ucapnya.
"Vin, ini semua barang-barang yang akan di bawa." Putri menunjuk ke belanjaan dan tas yang akan di bawa.
Akhirnya mereka berangkat.
Sopir, dan putra duduk di depan.
Putri dan Kevin di tengah,
__ADS_1
Vena dan Ajin di belakang.
Sepertinya sudah di set semua oleh Kevin.