
Pagi itu, Putri sudah membuatkan sarapan untuk Kevin.
"Dimana handuknya?" tanya Kevin.
Putri datang untuk menyerahkan handuk. Tapi Kevin keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada.
"Hei.. tau malu sedikit. Ini rumahku" ucap Putri menutup matanya.
Kevin bingung, ia terbiasa seperti itu kalau keluar kamar mandi.
"Ajin datang mengantarkan pakaianmu, Cepatlah, aku mau membuka pintu" Putri berjalan keluar.
"Hei.. apa katamu? Ajin datang?"
Bukannya memakai pakaian, ia malah lari mengejar Putri.
"Ganti pakaianmu. Aku tidak mau laki-laki lain memandangmu begini" Kevin mendorong Putri ke dalam kamar.
"Memang apa yang salah dengan pakaianku?" tanya Putri.
"Aku memakai pakaian rumahku, dasar bos gila" gerutunya dalam hati.
Putri keluar dengan celana jeans dan kaos oblong, rambutnya sudah rapi di kuncir.
"Hai pak sekretaris, ayo ikut kami sarapan dulu" sapa Putri.
Kevin melirik Putri, dan ia melepas ikatan rambut itu.
__ADS_1
"Kau mau menggodanya?" ucapnya pelan.
Putri makin aneh. Ada apa dengan bos gila itu. Semakin lama, ia semakin bingung.
Setelah sarapan dan berganti pakaian, Kevin berpamitan untuk pergi kerja.
"Ingat, kamu tidak perlu bermanis dengan laki-laki lain selain aku."
Putri selalu mengingat kalimat itu, dan ia tersenyum lebar.
Pekerjaan Kevin sangat banyak hari ini, hingga ia tidak bisa mengabari kondisinya ke Putri. Ia juga harus menemui kencan buta yang di atur mami untuknya. Kali ini ia harus menemui Putri dari pak Aryo, rekan bisnis perusahannya. Waktu yang diberikan hanya 30 menit.
"Aku bisa lebih baik dari Putri. Asalkan kau bersamaku" ucapan itu sangat menjijikkan bagi Kevin. Ia sudah mengunci hatinya untuk perempuan lain, kecuali Putri.
Ia tidak mengacuhkan setiap omongan Alina.
"Put, dimana?" tanya Kevin menelpon Putri.
"Ini kopi pesanananmu perempuan cantik"
suara laki-laki terdengar di sana.
Belum lagi Putri menjawab, ia sudah mematikan telepon itu dengan muka marah.
"Cepat ke ruko. Aku ingin memergoki perempuan itu dengan laki-laki lain." perintah Kevin.
Aku turun di sini saja, Kevin berlari menuju ruko.
__ADS_1
Putri, Vena dan laki-laki yang tidak dikenalnya sedang tertawa bahagia.
"Ehem.." dehaman yang membuat mereka terdiam.
"Wah, ada pesta di sini, kenapa kau tidak mengundangku, sayang" Kevin menghampiri Putri dan mencium keningnya.
Putri terkejut.
"Apa-apaan ini?"
"Siapa dia?" tanya Kevin berbarengan dengan laki-laki yang membuat Kevin cemburu.
Laki-laki itu tampan dan masih muda. Apakah Putri menyukainya? Tiba-tiba ruangan dingin itu menjadi panas.
"Kak.. kau punya pacar? Kenapa tidak pernah membicarakannya" ucap laki-laki itu.
"Kak? Maksudmu apa?" Kevin mendekati laki-laki itu.
"Eh.. ini Kevin. Kevin, ini adikku Putra Anindito"
Kevin memundurkan langkahnya.
"Kenapa kau tidak bilang kalau itu adikmu" bisik Kevin. Putri tersenyum.
"Sudah sore, aku harus kembali ke rumah. Bisa-bisa aku terlambat naik kereta. Tolong jaga kakakku ya, dia sedikit bawel, tapi dia sangat perhatian"
Putri menggandeng tangan adiknya mesra, Kevin tak mau kalah, ia menggenggam tangan sebelah Putri.
__ADS_1