
"Sebaiknya aku pulang, semua kelas sudah aku rapikan. Bye Put, Kevin" Vena melambaikan tangannya.
"Ada apa kau kemari? Jangan bilang, kau akan kembali bermalam di ruko ini. Ruko ini sempit, kembalilah ke rumahmu yang seperti istana" Putri berbicara sambil merapikan sisa kopi yang masih ada di atas meja.
"Baguslah, tempat yang kecil ini, membuat aku tidak susah untuk selalu melihat kerajaanmu" ucap Kevin yang langsung naik ke lantai atas dan diikuti Putri.
Ia meletakkan sepatu dan menggantinya dengan sendal rumah yang sudah ia siapkan, couple, karena sepasangnya lagi untuk Putri.
"Aku lapar. Bisakah kau memasakkan aku sesuatu. Karena kamu, aku tidak makan" ucapnya sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Putri.
"Aku hanya punya nugget dan mie instan. Aku belum lagi belanja"
"Kenapa? Uangmu habis?" tanya Kevin.
"Baiklah, ayo kita pergi berbelanja, seperti orang-orang yang sedang pacaran, belanja bersama" lanjutnya menarik tangan Putri.
"Aku bisa belanja sendiri" ucap Putri
"Aah.. kamu tidak romantis." Kevin kecewa dengan perlakuan Putri.
"Nona, sebaiknya tidak merubah mood si bos, nanti kalau dia ngamuk, bisa-bisa, ruko itu diambil alih olehnya" ucap Ajin yang memegang setir mobil.
"uuughhh..
Demi kebaikan bersama, aku akan mengalah" ucap Putri dalam hati.
__ADS_1
Di dalam mall, Kevin sangat manis, ia mengambil semua keperluan dapur,
"Sebenarnya, semua sebanyak ini untuk apa sih bos?" tanya Putri
Tapi Kevin senyum dan memasukkan semua yang ia pegang.
"Sudah bos, ini terlalu berlebihan. Apa ini untuk makan sekampung?" tanya Putri, karena troli belanjaan yang dibawanya sudah penuh, dan ia melirik ke troli belanjaan Ajin pun sama.
"astaga.. apa uangku cukup untuk membayar ini semua? Bos hentikan" Putri memegang tangan Kevin saat Kevin hendak memasukkan mie instan lagi.
"Kenapa kau memegang tanganku, apa kita harus bergandengan tangan ketika belanja. Baiklah" kemudian Kevin jalan bergandengan tangan dengan Putri.
"Bukan ini yang ku maksud. bagaimana aku harus membayar semua. Makin menumpuk saja hutangku" ucap Putri.
Putri mengarahkan trolinya menuju kasir.
Kevin keluar dari barisan itu. Ia menunggu sambil menyantap es krim yang ia beli di counter luar.
"Hisss... tidak berperasaan sekali. Aku yang haus, dia malah enak-enakan duduk di sana"
"Nona Putri, bos memanggil anda" ucap Ajin, karena Putri hanya menunduk memikirkan berapa jumlah uang yang harus ia keluarkan.
"Biarkan saja ia, aku harus membayar semua belanjaan ini dulu." ucap Putri sambil menggenggam kedua tangannya.
Setelah antri, ia dan Ajin mengeluarkan semua belanjaan dan kasir pun mulai menghitung. Lima ratus ribu, lewat, 700 ribu lewat, astagaaaaa berapa banyak lagi uang yang harus dikeluarkan.
__ADS_1
Kevin menarik tangan Putri yang mulai pucat melihat angka itu.
"Tinggalkan saja. Sepertinya kau haus, kita beli minum di sana saja" ajak Kevin.
"Belanjaanku?"
"Tinggalkan saja, ada Ajin"
"Tapi"
"1.780.000, mbak" ucap kasir itu.
"Apaa?" raut kaget dan kesal Putri bersamaan dengan suaranya.
"Pakai ini saja, mbak" ucap Ajin.
"Putri membelalakkan matanya. Ketika Ajin mengeluarkan kartu ajaib itu"
"Sudah ku bilang, kau tak usah repot, ada Ajin"
Mata Putri berbinar-binar menatap Ajin yang sedang mengetik di alat gesek itu.
Kevin memegang muka Putri.
"Sudah kubilang, matamu hanya boleh menatapku"
__ADS_1