
Sebagai hadiah pernikahan Ajin dan Vena, Kevin memberikan tiket honeymoon ke Bali.
Ajin mengambil cuti 1 Minggu. Kevin yang terbiasa bersama Ajin, sekarang harus mengurus sendiri. Walau ada Amira, tapi berbeda dengan Ajin.
Roni ingin menemui dengan Kevin. Mereka janjian kembali di cafe XX, tempat mereka bertemu pertama kali.
"Hai, Vin. Lama tidak bertemu. Apa kabar?" sapa Roni ketika Kevin menemuinya.
"Baik. Apa yang akan dibicarakan lagi?" tanyanya.
"Aku ingin minta maaf atas kejadian yang lalu. Hukuman untuk Bernika sudah di putuskan, ia akan menerima hukumannya selama 3 tahun." Roni menceritakan kejadiannya.
Kevin tidak bisa berkata apa-apa.
"Bernika sudah mengakui, anak yang di dalam kandungannya adalah anakku. Setelah anak itu lahir, aku yang akan merawatnya. Kemarin, aku menikahinya di lapas. Aku atas nama suaminya sekarang, minta maaf atas kejadian yang lalu. Maukah kau memaafkan kesalahan Bernika?" Roni sangat sabar menghadapi Bernika.
"Aku mencintainya, apapun yang terjadi padanya, aku sangat mencintainya." ucap Roni lagi sambil menundukkan kepalanya.
Kevin menepuk pundak Roni.
__ADS_1
"Sudah, tidak usah kau sedih. Aku dan Putri sudah memaafkan Bernika. Aku sangat bersyukur, Putri memiliki hati seluas samudra. Ia selalu bisa membuat aku kembali ke jalan yang benar, ketika aku merasa emosi. Kau urus istrimu baik-baik. Aku minta, setelah ia menjalani masa hukumannya, ia akan menjadi manusia yang lebih baik." Kevin tersenyum kepada Roni. Ia seperti melihat Putri yang tersenyum kepadanya.
"Aku duluan pulang, ya. Istriku tidak sehat, aku harus berada di sampingnya." Kevin bangun dari duduknya, dan menepuk punggung Roni lagi.
"Terima kasih, Vin. kau sudah meluangkan waktumu untukku. Sampaikan salam dan permintaan maaf kami untuk istrimu" Roni menjabat tangan Kevin.
Roni lega, akhirnya ia bisa menemui Kevin.
Ia masih duduk di kursi itu, memeriksa pekerjaannya. Sejak Bernika masuk penjara, perusahaan itu makin menurun. Dan ia harus memperjuangkan kembali perusahaan itu. Papanya Bernika sebelum menghembuskan nafas terakhir berpesan, untuk melindungi dan menjaga perusahaan itu.
Kevin kembali ke rumahnya, dan melihat Putri yang lemah di atas kasurnya.
"Sayang, kau sudah minum obat?" tanya Kevin.
Putri menggelengkan kepalanya.
Putri menggelengkan kepalanya.
"Pergi sana, kau bau sekali. Kenapa parfummu begitu menyengat." usir Putri.
__ADS_1
"Sayang, kau yang paling menyukai harum parfum ini. Ada apa denganmu?" tanya Kevin, karena, setahunya, Putri sangat menyukai wangi dari parfum yang ia pakai.
"Viiin.. jauh-jauh sana. Kepalaku pusing"
Putri menutup hidungnya.
Kevin meninggalkan putri, dan menuju kamar mandi. Setelah Kevin mandi, ia mendekati Putri kembali.
"Kau hanya boleh memakai parfum ini saja." ucap Putri menyerahkan sebotol parfum bayi.
Kevin tertawa. "Apa ini sayang?" tanyanya.
"Parfum bayi, aku membelinya sebelum kejadian anak kita pergi" kenangnya, kemudian Putri naik ke atas tempat tidur lagi, dan menarik selimutnya.
"Ada apa dengannya? Apakah dia merindukan calon bayi kami?" Kevin sangat sedih melihat kondisi Putri. Ia melepas sendalnya, dan naik ke atas kasur, membelai rambut Putri yang panjang.
"Kau kenapa sayang? Ada apa denganmu?" Kevin memeluk tubuh mungil itu, ia mencium kening Putri.
"Vin, kita beli pecel lele yok. Aku lapar. Kau sudah makan belum?" tanya Putri.
__ADS_1
Kevin bengong, tadi dia sangat sedih, kenapa tiba-tiba suasana hatinya cepat berubah seperti ini?
"Viiin.. kenapa diam. Ya sudah kalau kau tidak mau mengajak aku makan. aku tidak mau makan lagi" Putri membalikkan tubuhnya dan segera menarik selimutnya lagi.