
Rani hanya tersenyum.
Tak banyak kata kala itu.
Rani menyibukkan dirinya.
Sedangkan Bernika sudah kewalahan.
"Oh ya Tante, aku lupa kalau ada urusan. Aku pergi dulu ya" Bernika langsung mencuci tangannya dan pergi.
Lagi-lagi, Rani mengeluarkan senyumnya tanpa berbicara.
Harry keluar dari ruang kerjanya.
"Kemana perempuan tadi?" tanyanya.
"Pulang sendiri tanpa diusir. Honey, apakah kau ingin makan sekarang, atau menunggu Kevin dan Andre?" tanya Rani
Belum lagi di jawab, kedua putra mereka sudah ada di halaman bersama Ajin.
"Oke, berarti untuk yang di Tangerang, tidak ada masalah lagi kan. Baguslah. Kalau begitu, jadwalkan aku meeting dengan perusahaan
MGC, sore ini. Kita harus selesaikan Minggu ini juga." perintah Kevin kepada Ajin.
__ADS_1
"Andre, ikut aku nanti, kau harus banyak belajar. Karena ini perusahaan bukan punyaku saja, tapi milik kita." lanjutnya
Andre menganggukkan kepalanya.
Dan Ajin membuka layar ponselnya dan mulailah jari-jarinya mengetik sesuatu.
Harum masakan mami sudah tercium di hidung mereka.
"Anak-anak, ayo cepat masuk, kita makan bersama" ucap Rani memanggil mereka yang masih di halaman belakang.
Ponsel Kevin berdering,
"Hallo sayang, kau dimana? Aku rindu padamu" ucap Bernika
"Maaf, aku sedang makan siang. Nanti bisa dilanjutkan." Kevin memutus panggilan dari Bernika.
"Tunggu saja, akan aku ceritakan semuanya kepada orang tuanya, bila perlu aku cari dimana keberadaan istrinya." otak licik Bernika mulai bermain.
Selesai makan, mereka duduk di ruang tamu.
"Sayang, sudah makan belum?" tanya Kevin kepada Putri.
"Sudah, Vin. Kamu udah makan?"
__ADS_1
"Sudah, sayang. Kamu sehat kan?"
"Hm. Aku mau pulang ke Jakarta, Vin. Jemput aku, atau kalau tidak, aku yang akan pulang sendiri." rengek Putri.
"Sebentar lagi ya, urusanku masih belum selesai, malam ini aku mau meeting kembali, entah sampai jam berapa. Kau mau menungguku?"
"Baiklah, nanti, bawakan aku kerak telor ya Vin"
Aduh, kasian sekali Putri. Ia harus jauh dariku, dan menahan apa yang ia mau. Pikir Kevin.
"Ya sayang. Sayang, kalau ada apa-apa kau harus tanyakan dulu kepadaku, ya. Ya sudah, aku mau kembali ke kantor ya. I love you"
ucap Kevin mencoba menjelaskan sedikit. Ia takut Putri salah sangka. Karena konsekuensi dari tragedi ini, Putri mengetahui semuanya.
"Mi, Pi.. Bagaimana kalau lusa kita ke Jogjakarta, aku mau menjemput istriku. Sekalian memperkenalkan kalian dengan keluarga istriku" ajak Kevin.
"Ide yang bagus. Baiklah, biar nanti papi yang suruh sekretaris papi saja yang mengurus keperluan kita. Kau harus ikut, Jin. Biar kita refreshing sedikit" ajak Harry.
"Maaf om, kalian saja. Aku ada urusan pribadi yang harus diselesaikan" Ajin menolak ajakan itu.
Mereka meninggalkan rumah Kevin dan kembali bekerja seperti biasa. Ajin dan Amira sibuk mempersiapkan materi yang akan disampaikan saat meeting. Kevin masih sibuk dengan file dan komputer yang ada di depan matanya.
Bernika datang, tapi digalang oleh security. Ajin berpesan, tidak ada tamu yang boleh mengganggu konsentrasi Kevin saat ini. Karena ini meeting terakhir yang akan mengamb keputusan kerjasamanya dengan perusahaan MGC. Bernika tampak kesal, berulang kali ia mencoba menelpon Kevin, tapi sengaja ponsel itu di matikan dayanya.
__ADS_1
Bernika makin naik pitam. Ia keluar dengan hati yang sangat kesal.
"Tunggu saja, kau dan perusahaan ini akan jatuh ke tanganku"